Sering Nyaranin Orang Buat Bahagia? Think Again!


img_2626

“Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.”  ― Mahatma Gandhi

Pernah dengar nggak, ada orang yang bilang, misalnya pas piknik (biasalah ya anak hits) mereka kemudian menuliskan caption “Jangan lupa bahagia ya!”. Tapi sebenarnya mereka tidak paham dengan makna kebahagiaan itu sendiri, menurut mereka yang namanya bahagia itu ya seneng-seneng ketawa. Some of us pasti paham deh at least pernah ngalamin satu keadaan dimana kita berada di sebuah tempat yang seharusnya membahagiakan, tapi kita justru memikirkan hal lain. Tanpa kita sadari bahwa perginya kita ke suatu tempat hanya untuk sekedar mencari tempat perenungan lain, yang tidak seperti biasanya.

Sebagaimana yang saya pernah tulis, bahwa banyak orang merasa berhak untuk memnentukan kebahagiaan orang lain, mereka menganggap bahwa standar kebahagiaan itu harus sama. Padahal setiap orang kan berhak untuk menentukan standar kebahagiaannya sendiri-sendiri, kan dia yang menjalani? Isn’t it? Contoh pemaksaan standar kebahagiaan itu ada beberapa, misalnya:

Seseorang yang menetapkan standar kebahagiaan berdasarkan status sosialnya. Contoh kasus yang sedang in nih, misalnya anak-anak para pemburu Om Telolet Om. Orang yang gak paham standar kebahagiaan mereka mungkin akan berkomentar “Apaan sih, orang cuman bunyi klakson mobil aja kok, gitu aja heboh, lebay, kampungan, receh banget sik, kurang kerjaan deh,”.

Itulah kebahagiaan yang sederhana murah meriah ala anak-anak kelas bawah, kenapa harus sensi dengan kebahagiaan mereka? Atau saat kita lihat anak kecil hujan-hujanan, sambil teriak-teriak, kita mungkin akan bilang norak, tapi sekali lagi itu kebahagiaan mereka. Mengapa harus mengotak-kotakkan kebahagiaan atas dasar receh dan gak receh, apakah sesuatu yang gak receh itu pasti lebih berkelas? Bukankah seharusnya kita kagum, bahwa mereka dapat menciptakan kebahagiaan kita dengan jalan yang murah namun meriah. Diakui atau tidak beberapa dari kita bahkan harus berjuang mati-matian untuk dapat bahagia, kita ngetrip ke sana kemari, kita wisata kuliner kemana-mana, udah kita kita hang out haha hihi sama temen-temen. Tapi apa? Kita masih belum bahagia!

Ada lagi orang yang mengotakkan kebahagiaan atas dasar pandangan pribadi dan stereotip dalam masyarakat. Misalnya nih, saya sering jadi korban kok. Umur saya 24 tahun, umur yang menurut saya masih sangat bocah, sometimes saya ngerasa bahwa saya belum cukup dewasa untuk menjalani hidup. Orang yang udah nikah akan bilang “Det kamu nikah gih biar lebih bahagia!” atau “Det, nyari kerjaan yang lebih bagus dong biar bahagia, biar income lu lebih gede, biar bisa ini itu,”. Mereka nggak paham bahwa standar kebahagiaan saya bukan itu, kadang kalau pikiran saya lagi jahat, mulut saya yang tajam, pedas, dan berbisa ini pengen menyahut “Lu kan udah nikah tuh, lu juga kerjaan bagus, udah gitu gaji lu juga gede, at least lu mau ngapa-ngapain sebenernya lu bisa aja. Tapi gue liat lu gak bahagia tuh? Daripada sok expert nyuruh orang buat bahagia, mendingan lu fokus aja hidup ama diri lu sendiri, nyari cara gimana supaya lu bisa bener-bener bahagia?” sambil tersenyum sangat manis.

Itulah dalam hidup, hanya karena merasa sudah melakukan sesuatu, maka seseorang merasa berhak untuk menjadi trainer kebahagiaan orang lain. Padahal, mungkin sebenarnya orang yang dia suruh bahagia hidupnya jauh lebih bahagia dibandingkan dirinya sendiri. Jadi kenapa sih harus memandang kebahagiaan dan mengotak-kotakkannya sedemikian rupa? Kalau memang kalian ingin orang lain berbahagia, cukup berbuat baik kepadanya, tak perlu menghakimi ini dan itu. Sebab kita tidak bisa menebak kebahagiaan dari apa yang kita lihat, kita dengar, kita baui, kita raba, dan kita cicipi. Jadi yakin mau nyaranin orang buat bahagia? Situ udah bahagia? Atau pura-pura bahagia?

Jangan lupa bahagia ya, gak usah panasan, gak usah emosional, gak usah merasa paling bener, gak usah merasa iri dan dengki 😀 Ingin tahu alasannya kenapa?

“For every minute you are angry you lose sixty seconds of happiness.”
― Ralph Waldo Emerson

Advertisements

2 responses to “Sering Nyaranin Orang Buat Bahagia? Think Again!

  1. Bener banget.. kadang kita bertengkar aja bahagia lhoo, karena dengan berantem kita tahu kalau kita masih diperhatikan dan memperhatikan orang yg kita ajak berantem. ye kan? Kalau ngga peduli ngapain cape2 berantem, bodo amat lah ya.
    Jangan lupa bahagia, menurut penangkapan saya adalah klakson sih.. klakson untuk selalu bersyukur dengan cara berbahagia apapun keadaannya. Jadi jangan lupa bahagia ini menurut saya lebih enak dan pas kalo diberikan dikala galau sedih dan gundah gulana.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s