Pray For Jakarta, Ironi Ekonomi, dan Keajaiban


bom-sarinah

We don’t even know how strong we are until we are forced to bring that hidden strength forward. In times of tragedy, of war, of necessity, people do amazing things. The human capacity for survival and renewal is awesome ~Isabel Allende~

Jakarta Today
Peristiwa ini terjadi saat saya keluar dari kelas, kemudian ruang guru penuh perbincangan terkait teror bom di Jakarta. Media massa mengambil peranan yang cukup penting untuk penyebaran informasi ini. Boom! Seperti insiden yang terjadi di Jakarta, kelas bahasa Indonesia untuk X-I pun pada akhirnya saya ramaikan dengan isu ini, kemudian dikaitkan dalam pembelajaran.
Sebagaimana diketahui, serangan terorisme terjadi sekira pukul 10.40 di kafe Starbuck, Sarinah, tak lama setelah itu ledakan juga terjadi di Pos Polisi Satlantas yang berada di depan Sarinah, Jakarta Pusat. Insiden ini juga diwarnai beberapa tembakan. Dan kepolisian memastikan bahwa pelaku adalah ISIS (http://www.merdeka.com/peristiwa/polri-tegaskan-pelaku-peledakan-di-pospol-sarinah-anggota-isis.html) Hmmm askable sih! Secepat itu kah penyelidikannya? Ya belakangan memang ISIS mengaku bertanggungjawab (http://internasional.kompas.com/read/2016/01/14/19314401/ISIS.Akui.Bertanggung.Jawab.atas.Teror.di.Jakarta ). Sementara Menkopolhukam Luhut Panjaitan menolak anggapan yang menyebut Badan Intelegen Negara (BIN) kecolongan dalam peristiwa bom di Sarinah, Jakarta Pusat. “Kita tidak boleh bilang intelijen kecolongan. Mereka melakukan penyerangan karena ada kendor pengamanan,” ujar Luhut di Gedung Sarinah, Rabu (14/1/2016) (http://news.okezone.com/read/2016/01/14/338/1288166/jangan-bilang-intelijen-kecolongan-terkait-bom-sarinah). Hmmm sedikit dikacaukan dengan logika kecolongan dan kendor pengamanan sih. Tapi biarlah! Dan memang benar, ternyata rendahnya pengawasan keamanan ini dikritik oleh mantan teroris (http://www.jpnn.com/read/2016/01/14/350664/Mantan-Pembajak-Woyla:-Pos-Polisi-Sarinah-Bukan-Targetnya-)
Ini mengindikasikan bahwa sudah seharusnya antisipasi keamanan di saat kondisi sedang berbahaya atau tidak tetap harus dimaksimalkan. Sementara detik-detik penembakan dapat dilihat melalui bidikan salah satu fotografer Tempo. Entah! saya tidak berada di sana, saya tidak tahu situasinya seperti apa, yang saya tahu di sana banyak orang dan polisi, ketika penembakan terhadap salah satu polisi terjadi. Pelaku kemudian berjalan dengan santainya. Apakah teroris ini memang memiliki cukup power sehingga tak ada yang berani mengambil tindakan? Sementara menjadi semacam ironis, melihat seorang laki-laki berkaos kuning, dengan santainya berdiri tak jauh di sana, sibuk dengan kamera atau ponsel, mengabadikan peristiwa tersebut, seolah tidak terjadi apa-apa. (http://metro.tempo.co/read/news/2016/01/14/064736052/detik-detik-polisi-ditembak-dua-terduga-teroris-bom-sarinah). .

Reaksi Netizen
Indonesia adalah negara dengan pengguna sosial media yang cukup besar. Tak berhenti dengan jumlahnya yang cukup besar, netizen Indonesia juga sering sukses membuat huru hara di sosial media. And most of them, akarnya dari perdebatan yang kurang esensial. Termasuk dalam kasus terorisme di Jakarta siang ini. Banyak netizen berdebat soal hastag #prayforjakarta. Menurut mereka, tidak seharusnya masyarakat Indonesia menggunakan hastag tersebut. Apa pasal? Inilah kutipan yang bisa saya ambil “Guys menanggapi aksi pengeboman di 6 lokssi di Jakarta, please jangan bikin hastag. Jangan mau jadi buzzer gratisan. Ini tujuannya World Attention. No #PRAYFORJKT. Makin kalian bikin, rupiah bisa 17rb. Kalian smeua bikin hastag, trending, worldwide, investor cemas direct invest flow ditarik, uang beredar naik saving turun, suku bunga naik, kredit gagal bayar, rupiah lemah, inflasi, krisis. Jangan bikin psikologi netizen dunia rusak. Kalau mau social campaign bikin yang positif,”.
Apa yang salah? Saya tidak akan menyalahkan orang lain. Saya hanya ingin bertanya, sebodoh itukah para investor? Please, investor bukan anak ABG yang sedang pacaran, mereka tidak akan labil dan baperan hanya gara-gara hastag. Tak perlu jauh-jauh malam ini hastag itu bahkan muncul di Starbuck yang notabene merupakan temat kejadian perkara (http://news.okezone.com/read/2016/01/14/338/1288435/pasca-bom-sarinah-hastag-prayforjakarta-muncul-di-tkp). Kita tak perlu hastag untuk membuat dunia tahu tentang apa yang terjadi di Indonesia, 2016 bukan lagi jaman purba, di mana akses informasi terbuka lebar. Setidaknya hari ini portal-portal berita dunia memampangkan tindakan terorisme di Jakarta. Kalau semacam itu lalu salah siapa? Salah hastag? (http://news.okezone.com/read/2016/01/14/18/1288009/media-internasional-blow-up-ledakan-jakarta). Media-media kaliber ini lebih memiliki pengaruh yang besar lho dibandingkan hastag. Tidak sekalian akses internet dimatikan, biar para investor tidak bisa membaca apa yang terjadi di Indonesia?
Come on, hastag tidak akan mempengaruhi seorang investor yang cerdas, mereka pasti lebih mempercayai analisis dan insting mereka. Masih ingat bahwa Jakarta pernah diguncang ledakan bom lebih dahsyat dari ini? Yaps saat kejadian JW Marriot. Apakah Indonesia krisis gara-gara hastag #prayforblablabla? Anehnya orang-orang yang menyebarkan hal ini kebanyakan adalah mereka yang sering bergembor “Kita tidak boleh memiliki ketergantungan dengan asing bla bla bla”. Nah lho bukannya sikap cemas mereka yang berlebihan justru menunjukkan bahwa Indonesia sangat tergantung pada asing? Jika kita menyadari hal ini tentu menjadi moment yang bagus untuk memacu kita lebih mandiri dan berdikari, sehingga ekonomi kita tidak pingsan terserang hastag.
Well back to ekonomi. Saya bukan orang yang paham ekonomi, tapi setidaknya pendapat otoritas berikut ini bisa menjelaskan kondisi pasca ledakan bom (http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/722987-bom-sarinah-tak-akan-goncang-ekonomi-indonesia, http://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/01/14/o0xmiu382-ihsg-turun-setelah-serangan-bom-hanya-efek-kejut-sementara, http://ekbis.sindonews.com/read/1076941/32/jakarta-mencekam-ihsg-merosot-dalam-1452750760).
Pelemahan rupiah, turunnya IHSG, atau sentimen negatif terhadap isu ekonomi adalah hal yang sangat wajar. Kita bisa membayangkan kita sedang jalan, kemudian kita mendengar ban mobil meletus, paling reaksi kita adalah kita akan terbengong sebentar, tapi setelah itu kita akan jalan lagi, sambil bergosip, atau bahkan lupa. Sejarah mengajarkan hal ini!
#PrayforJakarta adalah salah satu bentuk dukungan moril, solidaritas, dan harapan. Sama dengan hastag #IndonesiaUnite, IndonesiaBerani, atau apalah itu. Apakah salah mengajak berdoa untuk Jakarta? Jangankan untuk peristiwa semacam ini, kalian mau ujian aja banyak yang ngemis-ngemis doa “Please ya doain aku dong, doain ya please!” Apa doa-doa tersebut membuat psikologi Anda rusak? I don’t think so. Atau ketika ada bencana banjir banjir hastag #Prayfor bla bla bla apa kemudian para masyarakat akan memilih terpuruk, menceburkan diri ke banjir sambil teriak “Gara-gara aku didoain aku jadi down bang, hanyutkan saja aku ke rawa-rawa!” kan enggak? Apakah doa membuat seseorang panik dan menjadikan segala sesuatu itu terasa menakutkan? Orang rame-rame doain kamu cepet dapat jodoh, bukan berarti membuat jodohmu ngibrit gara-gara kamu terindikasi jomblo akut. Iya nggak?

Ajaibnya Indonesia
Ngomongin Indonesia emang gak akan ada habisnya. Kalau di luar negeri bom dan aksi terorisme menyulut kekhawatiran, kekalutan, dan perasaan ngeri. Tapi di Indonesia? Boro-boro kalut, mereka di lokasi kejadian perkara layaknya nonton film The Raid versi live, di sepanjang jalan dipenuhi orang-orang yang foto-foto (mungkin juga selfie untuk diupload di insta). Para penjaja makanan juga lebih takut dagangannya diambil orang daripada meledak karena bom, si pembelinya juga lebih sayang ama sate mereka yang belum habis daripada takut karena kena tembak, dan tetep aja yang paling epic pria berkaos kuning yang udah kaya seksi dokumentasi VIP ngelihat polisi di dar der dor. Saya cuman membayangkan, kalau si teroris kalap kemudian ngacungin pistol, gimana ceritanya tuh?
Hanya di Indonesia peristiwa semengerikan itu jadi bahan meme yang konyol, lucu, dan entahlah. Saya pikir mungkin kalau Dajal muncul di Indonesia, masyarakat bukannya lari, tapi justru ngejadiin dia sebagai properti buat selfie karena dikira cosplay -_-. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia terlalu berani, terorisme gagal menyebarkan ketakutan. Sebenarnya ada sisi positifnya perilaku masyarakat yang sedemikian, karena memberikan pesan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang sama, yang aman, kondusif, dan tak terpengaruh oleh teror apapun. Ini mungkin bisa meningatkan kepercayaan dunia internasional.
Tanpa mengurangi rasa berduka cita terhadap para korban, semoga ke depannya masyarakat lebih peka untuk melihat tanda-tanda ketidakberesan yang ada di sekitar mereka. Oh ya satu lagi, saya sedikit jengah dengan media Indonesia yang kadang berlebihan memberitakan sesuatu yang sedang booming, sampai-sampai topik berita terkadang menjadi sangat tidak penting dan bias. Sudah seharusnya media menjadi sumber cerdas masyarakat yang tetap memegang teguh prinsip kode etik jurnalistik, objektivitas, dan keberimbangan. Jangan karena lagi hits apa-apa diberitakan, semua dimintai jadi narasumber berita, ayolah tak semua peristiwa harus dijadikan pendongkrak rating.
Sebagai penutup tulisan ini. “Bagi saya segala bentuk kebencian, kekerasan, dan terorisme dilakukan oleh orang-orang yang tidak beragama. Sebab Tuhan yang saya kenal adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Share love and peace together”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s