Ekspansi Sinetron, Dangdut, dan Turki


Setelah hampir 4 tahun lebih pada akhirnya saya kembali lagi ke tanah ini, Wonogiri! Banyak yang berubah dan tak lagi bisa dikenali, wilayahnya, orang-orangnya, dan kultur yang terbangun. Hmmm pokoknya beda aja dengan sekian tahun yang lalu, ketika saya bertandang karena embah buyut meninggal.
Seperti kebanyakan masyarakat modern lain, setiap rumah di tempat ini sudah terdapat TV di dalamnya. Bukan keberadaan televisinya yang menarik, melainkan fenomena dan trend program TV yang ada di sini. Sebagai seorang yang sudah lama tidak berkunjung, maka saya melakukan kunjungan ke temat saudara yang memang banyak. Salah satu kegatan identik yang saya temui adaah menonton televisi.
Saat siang hampir sebagian besar menonton drama Turki, saat bahkan tak pernah menonton TV. Kalau malam? Jangan ditanya lagi, sinetron sepertinya masih menduduki rating tertinggi prgram televisi di Indonesia. Saya tak heran kalau alur cerita sinetron makin hari makin ngaco dan tetep diterima oleh masyarakat. Sebab sinetron adalah candu. Pada salah satu kunjungan, saya hanya bisa bengong, salah satu embah yang saya kunjungi cerita panjang lebar tentang tokoh, nama, karakter, dan alur sinetron. Serius saya hanya bisa melongo. Jangan dikira itu adalah sinetron ala orang tua, bukan! Itu seinetron remaja, berjudul Anak Jalanan. Pfffttt…
Selain sinetron, program tayangan yang juga sering ditonton adalah dangdut. And… hmmm entah kenapa in my humble opinion, banyak ajang pencarian bakat yang masih suka ngedrama, entah judgesnya yang didramain atau latar belakang pesertanya. Selain itu kadang jurinya juga berisik sendiri, entahlah mungkin itu yang dinamakan dengan the power of rating. Well terlepas dari itu semua, televisi dan segala bentuk programnya memang menjadi semacam ajaran bagi masyarakat.
Berdasarkan realitas yang ada, lihat saja pola pergaulan anak jaman sekarang. Lihat bagaimana sinetron dan tayangan-tayangan dalam televisi menjadi sesuatu yang lazim untuk ditiru bahkan oleh anak-anak SD. Berbicara soal tayangan televisi sebenarnya menjadi tugas bersama, pemilik stasiun televisi, pembuat program dan juga masyarakat. Waktu kulaiah organisasi kami kebetulan pernah berdiskusi masalah ini dengan mengundang KPI Jogja. Mereka mengatakan bahwa KPI baru akan bertindak ketika ada laporan dari masyarakat. Ini mengindikasikan bahwa peran serta masyarakat dan pemirsa menjadi hal penting. Sayangnya, most of them belum memiliki sikap kritis dan cerdas. Rating kita lawan dengan rating, caranya? Kalau memang dinilai tidak mendidik, please lah masyarakat stop menonton, dengan sendirinya pemilik televisi akan menghentikan siaran tersebut. Begitu saja terus sampai tayangan-tayangan berkualitas muncul.
Upaya untuk bersikap kritis bukannya tidak dilakukan. Melalui jejaring sosial dan sosial media, pengguna sosial media beramai-ramai mengecam, membuat meme, melakukan sindiran, dll, namun upaya tersebut tidak banyak membuahkan hasil. Kita perlu melakukan sesuatu yang besar dan bersifat massif untuk menyelamatkan generasi penerus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s