Ketika Membincang Pernikahan Masih Terlalu Jauh


Just married couple holding hands on the beach, Hawaii Beach Wed

Jodoh ada di tangan Tuhan? Siapa setuju? Kemudian muncul semacam satire “Karena jodoh di tangan Tuhan, aku tak berani mengambilnya kecuali diberi”. Lelucon yang sedikit banyak mampu menghibur jomblowan jomblowati. Usiaku belum lama ini genap 23 tahun, dan memang kita tidak akan pernah tahu usia kita sampai seberapa jauh. Di usia yang menurut saya masih sangat muda, orang-orang mulai berbincang soal pernikahan. Kerap kali pertanyaan-pertanyaan usil diajukan, ketika saya menghadiri undangan pernikahan teman SMA atau SMP “Adet kapan nyusul?”, “Adet datang dengan siapa?”, “Adet calonnya mana?”,


Kadang saya berpikir mengapa mereka suka sekali bertanya soal pernikahan. Ya memang pernikahan adalah kabar membahagiakan, namun bukankah mereka akan tetap dikabari jika memang sebuah pernikahan akan dilangsungkan. Kadang saya curiga bahwa itu adalah bentuk kepedulian dan keprihatinan bagi mereka, dengan tujuan supaya orang yang diberi pertanyaan segera menikah, sama dengan orang yang lain, ganti KTP kemudian memperoleh status baru KAWIN. Padahal menurut saya secara personal, kadang pertanyaan-pertanyaan itu sedikit mengganggu privacy, yang sebenarnya “kemungkinan” akan membawa dampak yang buruk. Kenapa sih orang beramai-ramai menanyakan soal pernikahan? Toh dalam realitasnya sebuah pernikahan tidak menjamin kebahagiaan. Adet, are you crazy? No! Ketika kita berbicara pengalaman, maka mari kita review, kalau memang sebuah pernikahan mengantarkan pada kebahagiaan mengapa banyak orang yang kemudian bercerai setelah menikah? Padahal mereka kaya? Padahal udah punya anak? Padahal udah belasan tahun? Bukankah konon pernikahan itu adalah hal yang sakral? Kenapa banyak orang yang justru bertengkar setelah menjalani kehidupan rumah tangga? Saya pikir ada konsep yang tidak matang dalam pernikahan tersebut. Inilah yang terjadi kemudian, ketika seseorang hanya menikah karena mendengarkan berbagai ajakan miring tentang pernikahan.
Well, jika teman yang lain di usianya sudah kalang kabut mencari pasangan, pendamping hidup, dan bersegera menikah, maka saya memiliki prinsip sendiri. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa saya memilih mengesampingkan topik menikah hingga beberapa tahun ke depan. Why? Check this out!
1. Materi
Allah pasti akan memberikan rezeki kok! What the! Dalam posisi nikah atau nggak pun yang ngasih rezeki Allah bukan yang lain. Sekarang saya tak mau munafik. Salah satu alasan yang cukup penting untuk menentukan pernikahan adalah pekerjaan, at least sampai saya tahu bahwa saya cukup bisa meghidupi anak dan istri saya kelak. Buat apa menikah, kalau ujung-ujungnya harus berantem tiap hari gara-gara uang belanja kurang? Anak gak terjamin kebutuhannya? Oh come on, saya juga hanya melihat realitas yang ada di sekitar kok. Bagaimanapun di era semacam ini cinta, ketulusan, dan kasih sayang belum mampu mencukupi keperluan rumah tangga! Kadang ada juga yang berprinsip, Adet, kalau mau menikah jangan nunggu mapan dulu, justru kalian harus merintis dari awal, biar anakmu tahu bagaimana menjalani hidup susah! Beach please! Kalau saya lebih baik memilih mapan dulu, kemudian hidup secara sederhana, biar anak-anak saya kelak tahu, bahwa apapun kondisinya, kita bisa tetap jadi orang yang bersahaja dan membumi!
2. Kesiapan Mental
Mental tuh penting banget, ya buat apa menikah tapi kelakuan masih belum mencerminkan sebagai orang yang sudah memiliki tanggung jawab kepada keluarganya. Sekali lagi, mari lihat hal ini di sekitar kita. Orang nikah banyak yang hanya siap fisiknya aja, buktinya belum nikah udah banyak yang punya anak. Tapi lihat bagaimana mereka menyelesaikan problematika dalam rumah tangga? Ada masalah dikit bilangnya “Ceraikan saja aku Bang, Hayati gak kuat!”, “Pulangkan saja, aku pada ibuku atau ayahku,”, dan berbagai celometan lain yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita tidak siap untuk menikah. Belum lagi nanti kalau masuk ke ranah KDRT juga, inilah yang beberapa saya lihat di sekitar.
3. Sudah bisa menjadi contoh?
Dari banyak hal yang menjadi pertimbangan saya untuk tidak ingin memikirkan perikahan adalah hal ini. Saya ingin menikmati masa muda yang bebas, kemana-mana bisa, mau baperan bisa, mau galau masih pantes, mau mengembangkan dan menyalurkan hobi semaksimal mungkin bisa, mau, hmmm apalagi ya? Hmm intinya banyak deh yang bisa dilakuin oleh seorang single. Sekali lagi dia belum memiliki tanggung jawab untuk keluarganya, except orang tua (dan mungkin saudara-saudara yang masih menjadi tanggungannya).
Dengan kata lain, ketika kita masih belum berkeluarga maka kesempatan untuk membahagiakan banyak orang semakin terbuka (meskipun kadang pernikahan menjadi satu-satunya jalan untuk membahagiakan orang tua yang sudah tidak sabar ingin menimang cucu).
Well balik lagi ke sub pembahasan tentang “Sudah bisakah menjadi contoh?” kadang lihat nggak sih ada orang sudah menikah, sudah berkeluarga, tapi kelakuan masih seperti anak kecil, masih suka bercanda yang kekanak-kanakan, masih bertingkah laku yang sok konyol, masih ya intinya berbagai hal yang membuat indikator kedewasaan belum menyala. Saya tak ingin menjadi orang yang demikian, karena saya memiliki prinsip yang sangat kuat, bahwa ketika menikah, maka artinya saya siap untuk meninggalkan dunia anak-anak yang manja, tanpa pemikiran jangka panjang, sesuka hati, dan sekedar senang. Saya juga harus meninggalkan masa remaja, yang penuh dengan kegalauan, yang dikit-dikit bawa perasaan. Bagi saya, you must looks perfect standing in front of your childrens and wife as father and husband!. Gak peduli seberapa gambrengnya kekuranganmu, kamu harus bisa jadi teladan untuk mereka. Gimana mungkin kamu berharap keluargamu baik kalau kamu sendiri bukan orang yang baik?
4. Jangan pernah menikah sebelum kamu bisa menerima kekurangan dan kelebihan orang lain
Nerima kelebihan mah gampang siapa aja juga bisa. Dan kebanyakan orang pacaran yang diperlihatkan adalah kelebihannya. Tapi serius! Selama kamu belum bisa nerima kelebihan dan kekurangan orang lain, mendingan pending dulu buat nikah, karena apa? Please ya, gak enak tahu dibanding-bandingkan dengan orang lain. Kamu itu harusnya kayak anaknya si A, kamu itu harusnya kaya istrinya si B, pada akhirnya menikah hanya untuk membuat orang-orang terdekat kita berada di bawah orang lain. Kenapa tidak intropeksi, bisa jadi kelemahan mereka ada karena kelemahan kita? Ya begitulah…
Bagi saya seorang yang hendak menikah itu, minimal harus seperti guru. Dia harus memiliki silabus, Rencana Pelaksanaan Keluarga, Rancangan Anggaran Kegiatan Keluarga, harus punya Prota Promes, kalau perlu setelah menikah buat Analisis Penilaian. Bukan masalah apa-apa sebenarnya, hanya memastikan bahwa kamu adalah orang yang punya visi, misi, dan tujuan. Orang yang memiliki prinsip dan arah hidup yang jelas. Orang yang benar-benar siap dan bukan sekedar risih dibilang single atau jomblo. Orang yang nantinya tetap teguh pada tanggung jawab dan janji suci sakral perkawinan apapun yang terjadi.
Pada akhirnya semua kembali pada prinsip dan juga kesiapan masing-masing. Pada akhirnya jodoh ada di tangan Tuhan. Sekali lagi, menikahlah karena memang ada esensi yang jelas dari pernikahan yang ingin kamu perjuangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s