Tuhan Sama Dengan Produsen Kamera


Salah satu ketidaksempurnaan yang Tuhan ciptakan. Nana nina

Salah satu ketidaksempurnaan yang Tuhan ciptakan. Nana nina 

“I need perfect one!” Oh come on guys, silahkan mengatakan hal tersebut, karena semua itu hanyalah omong kosong “Talk with my hand”. Bahkan seorang nabi pun bukan seorang yang sempurna. Kadang kita mempertaruhkan waktu hanya untuk mendapatkan yang sempurna (hmmm… sebenarnya bukan hanya waktu sih, melainkan juga tenaga, pikiran, dan mungkin materi). Kita terlalu banyak spesifikasi untuk bisa memilih mana yang layak dan tak layak. Seringkali, kita akan sampai pada tahap, bahwa tak ada yang benar-benar bisa memuaskan keinginan kita.
Awal Agustus lalu, saya mencoba membeli kamera di salah satu lapak jual beli online. Ini pertama kalinya untuk saya. Ya sangat menguntungkan sih, I mean saya bisa membandingkan berbagai spesifikasi yang ada di setiap produk. Biasanya seorang produsen kamera akan membuat berbagai perbedaan dari produknya, yang artinya meskipun satu seri terdekat mereka tetap memiliki banyak hal berbeda, dan kadang nyeseknya perbedaan itu terletak pada spesifikasi utamanya. Misalnya ada yang kuat di eksposure, tapi lemah di mega pixelnya, ada yang bagus di optical zoomnya tapi ukuran sensornya blah, dan sesungguhnya kalau itu bisa digabungkan itu kan bakalan gila banget, emejing lah. Sayangnya ini semua adalah tentang marketing, jadi kalau misalnya mereka bikin satu produk yang sempurna, maka produsen mereka yang lain akan kalah saing dong? Bukankah antar produk dalam satu perusahaan pun sebenarnya juga harus berkompetisi mendongkrak penjualan dan menaikkan keuntungan perusahaan?
Apa yang bisa kita lakukan? Ya gak mungkin kita akan garuk-garuk tembok perusahaan sambil teriak-teriak, yang ada kita akan dipanggil orang gila. “Orang gilaa…. orang gilaaa…” Jadi apa yang bisa kita lakukan? Keep calm, kalau bisa membuat satu produk sendiri bakalan lebih baik, tapi kalau nggak ya be patient, cukup jadilah customer yang sabar dan gak banyak omong, karena sesungguhnya itu jauh lebih bagus untuk kondisi psikologis. Ya emang dengan beragamnya harga, beragamnya pilihan, emang menggiurkan, kadang bikin greget, kadang bikin gedheg, tapi setiap orang pasti memiliki prioritas.
Saya dulu misalnya, kenapa kemudian menjatuhkan pilihan pada Canon Powershoot SX 410 IS, tak lain dan tak bukan karena prioritas. Alasan saya dulu membeli kamera adalah karena kamera saya sebelumnya pocket rusak, dan tak bisa diperbaiki. Ya tak ada pilihan lain sebenarnya, selain nunggu tabungan banyak atau gagal jadi instagramers. Well, saya sudah mencoba menjadi instagramers menggunakan kamera hape itupun dibantu aplikasi ailis. You know? Apalah daya, orang yang biasa mendapatkan suguhan foto gambar tajam, sekarang harus ribet hanya untuk menghasilkan gambar yang rata-rata, maklum lah ponsel saya bukanlah ponsel dengan kualitas kamera yang bagus. Oh sory jika ngelantur, alasan saya membeli kamera dengan seri itu adalah karena saya menyukai fotografi scenery, tentu saja saya perlu memotret banyak hal dari jarak yang sangat jauh. Saya butuh kamera dengan optical zoom yang lumayan (karena kamera seri ini pada akhirnya mewujudkan keinginan saya untuk bisa memotret bulan yang bulat penuh dan perawan). Selain itu saya juga membutuhkan sebuah kamera yang praktis tanpa harus mengatur mode manual (dan inilah salah satu alasan mengapa saya tak juga memilih kamera dslr). Saya menyukai feature dan street fotografi, jadi memang kadang saya tidak boleh terlalu berdekatan dengan obyek, karena itu akan mengganggu sifat naturalnya. Yang ketiga, saya memang sudah jatuh hati dengan Canon, beberapa dari kalian mungkin akan tahu bahwa sebenarnya jika seseorang sudah menyukai satu merk, maka dia akan mengabaikan banyak hal. Yaps akhirnya saya memilih kamera tersebut. Sebuah kamera yang praktis dengan daya jangkau yang jauh, meskipun saya kemudian harus merelakan beberapa hal, mislanya kesulitan saat membuat foto macro serta berada di tempat kurang cahaya atau ruangan hall dan aula. Tapi sekali lagi itu adalah soal prioritas.
Tuhan bekerja dengan cara yang tidak sama persis namun memiliki maksud yang mirip. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Tuhan mempertimbangkan aspek keuntungan, namun saya hanya ingin mengatakan bahwa sudah benar Tuhan memberikan kita banyak pilihan. Kenapa? Jawabannya simple, karena Tuhan ingin bersikap adil. Bayangkan jika setiap manusia adalah sempurna? Kita tak akan pernah memilih? Kita tak akan pernah mempertimbangkan apapun?
Wajar jika manusia memiliki kelebihan ini dan kekurangan itu, wajar jika orang bisa ini dan gak bisa itu. Masih belum mendapatkan poin dari tulisan ini? Well, jika kamu cowok, kemudian nyari cewek, maka apa yang harus kamu lakukan? “Duhh si A itu bla bla bla, tapi sayangnya dia itu orangnya na ni na nana…”, “Ehmmm si ini kayanya cakep buanget buanget, tapi dia mah orangnya gitu lah…”. sekarang cobalah bertanya untuk diri sendiri, sebenarnya kita mencari orang, sebenarnya kita memilih pasangan itu untuk apa? Karakter apa yang paling kalian butuhkan dari dia? Ya itu aja yang dipilih, nggak usah berkhayal terntang berbagai tambahan hal baik tentang dirinya. Nah gitu… gimana? Jika kau mengharapkan 100% kebaikan dari ciptaan Tuhan maka kamu minta digampar. Tuhan itu pinter kok, Dia nyiptain kaumnya plus minus supaya bisa saling melengkapi. Nana nina… oh ya btw mana nih yang bisa melengkapi aku? Duuuhh…

Lab Komp, 1 September 2015, 13: 09

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s