Talking About Rainbow Isues


pelangi

Setelah agak menimbang-nimbang, di tengah kesibukan menyiapkan perangkat pembelajaran semester baru, akhirnya saya menuliskan tulisan ini. Yaps topiknya memang sedikit kontroversial, meskipun udah agak so yesterday sih, cuman masih relevan lah. Masih ingat dengan hastag love wins yang beberapa waktu lalu sempat booming? Sekedar informasi, hastag ini muncul setelah otoritas Amerika Serikat melegalkan pernikahan sejenis. Tak ayal pro dan kontra mncul, namun trend sosial media yang bergerak secara viral tak mau ketinggalan menyemarakkan moment ini. Facebook menyediakan fitur pembuat rainbow photo profile. So kekinian mamen.
Well, tulisan ini tidak dalam rangka mendukung dan menolak pernikahan sejenis. Saya mungkin hanya ingin berbagi sedikit informasi mengenai dunia LGBT. Selama ini dunia Barat cenderung mejadi kambing hitam pernikahan sejenis. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa LGBT tidak sesuai dengan adat ketimuran. Uhuk… saya tidak setuju. Permasalahan gender dan orientasi seksual tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Hal ini terjadi atas sebab yang alamiah. Sebelum mengkambinghitamkan Barat, kita harusnya tahu bahwa masyarakat kita justru awalnya adalah masyarakat yang sangat toleran bahkan memuja LGBT. LGBT bagian dari kekayaan budaya yang pernah mewarnai bumi Indonesia.
Are you kidding me? Mungkin sebagian dari kalian akan menganggap saya sedang mabuk. No, I’am not drunk for sure! Saya seratus persen waras saat mengatakan hal ini. Homoseksual sendiri bisa dibagi menjadi bisex, homoseksual predominan heteroseksual, homoseksual predominan homoseksual, dan homoseksual eklusif. Pembedaan ini didasarkan pada tingkat kehomoseksualan seseorang. Homoseksual dominan heteroseksual, banyak dijumpai pada perilaku seksual sejenis di pondok pesantren, penjara, maupun kondektur atau sopir di kawsan pantura. Sementara seorang biseksual, dia bisa melakukannya dengan pria maupun wanita. Hatib (2007: 75) mengatakan di beberapa suku di luar negeri praktik LGBT banyak dijumpai pada masyarakat adat di Kepulauan Melanesia (Fiji dan Solomon), suku Marind dan Kiman, Sambia, Namba di Malekula.maupun Yunani dan Romawi Kuno. Selain itu peritualan LGBT juga ditemui di 13 suku di Amerika Utara, Asia Utara, Afrika, dan Indonesia.
Back to topic soal LGBT di dalam kebudayaan Indonesia. Anda tahu REOG Ponorogo yang sangat tersohor? Tahukah kalian bahwa dulu, reog adalah tradisi kesenian masyarakat yang sangat dekat dengan praktik homoseksualitas. Ditulis bahwa Ki Ageng Putu yang mendirikan sebuah perguruan memiliki kesaktian. Untuk mempertahankan kesaktian ini, Ki Ageng yang berjuluk Warok tidak boleh berhubungan intim dengan seorang wanita. (Cek tulisan Ian Douglas Wilson (1999) yang berjudul Reog Ponorogo: Spirituality, Sexuality, and Performance Tradition. Dikisahkan jika warok berhubungan intim dengan wanita maka kesaktiannya hilang dan berubah menjadi warokan. Ada yang berbeda antara warok dan warokan, warokan dipandang lebih rendah dari warok, dengan kata lain warokan adalah warok yang menuruti kehendak hawa nafsu dan melakukan banyak hal tercela. Kesenian Reog pernah dilarang oleh penguasa Kerajaan Majapahit karena banyak mengandung sindiran.
Lalu bagaimana Warok menjalani aktivitas seksual? Mereka akan mencari laki-laki muda untuk menggantikan posisi perempuan. Gemblak harus menemani warok di tempat tidur, mengikuti kemanapun warok pergi, mencuci, memasak, dll. Orang tua yang anaknya menjadi gemblak, otomatis gengsinya akan melejit dan itu adalah kebanggaan tersendiri bagi mereka. Tak jarang gemblak yang tampan dan cantik akan menjadi rebutan para warok. Masyarakat Ponorogo berkeyakinan bahwa gemblak adalah dua entitas penggabungan laki perempuan yang merepresentasikan kesatuan kosmis.
Masih dalam kebudayaan Jawa. Konon tarian tertinggi di Kraton Yogyakarta hingga awal abad 20 diperankan oleh seorang laki-laki. Untuk itu Hatib (2007) mengatakan bahwa tanpa kita sadari Kebudayaan Jawa kuno saat akan unsur homoerotic.
Tak hanya di Jawa, di daerah yang sekarang kuat dengan religiusitasnya pun dulu adalah wilayah dengan kultur homoseksualitas yang cukup kuat. Daerah tersebut adalah Bugis. Di sana ada yang dinamakan Bissu. Seorang Bissu tidak boleh genit, mengenakan pakaian yang tak senonoh, dan terlibat skandal seksual. Kalau itu dilanggar, hukumannya adalah hukuman mati dengan cara penenggelaman tubuh ke dasar laut. Bissu memiliki seorang tobatto, yaitu seorang pria muda yang harus memenuhi kebutuhan seksual seorang Bissu. Manuskrip terkait dengan Bissu ini banyak ditemukan di naskah kuno suku bugis I La Galigo. Seorang bissu sangat dihormati, dia memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat, dia bertugas untuk menjaga pusaka dan memimpin berbagai ritual adat. Dalam riset yang dilakukan Sharyn Graham (2002 yang dipubikasikan IIAS Newsletter, via Hatib, 2007), dia mengatakan bahwa ada perbedaan antara calabai dan bissu. Seorang calabai belum tentu bissu, namun seorang bissu sudah tentu calabai. Calabai (termasuk di dalamnya bissu) terbagi ke dalam tiga tingkatan: Calabai tungke’ na lino, yang memiliki tingkatan pertama. Lalu kedua pancalabai yang memiliki orientasi biseksual. Dan terakhir calabai kedo-kedonani, adalah seorang heteroseksual yang bergaya waria hanya untuk memperdaya para perempuan.
Praktik yang mengarah pada sensualitas LGBT sebenarnya banyak tercermin dalam kehidupan masyarakat kita. Benedict Anderson misalnya, menuliskan beberapa contoh seperti balita di Bali yang menghisap puting susu ayahnya ketika sang ibu bekerja, kaum bangsawan Aceh yang membeli laki-laki terpilih dari Nias untuk menari, induk Jawi dalam sistem surau masyarakat Minangkabau, mairilan dalam kultur pondok pesantren di Jawa, kaum Basir di Dayak Ngaju, serta Kaum Bayasa di Tana Toraja. Penelitian antropolog Clifford Geertz misalnya menyebutkan bahwa pemain luduk jaman dulu juga memiliki tendensi pada homoseksualitas. Dan mereka sangat digandrungi oleh para petani dan kalangan menengah Mojokuto.
Soal kedekatan bangsa ini dengan homoseksualitas, lebih lanjut, Hatib (2007: 86-89) menguraikan hubungan erotisme homoseksual dengan salah satu naskah Jawa kuno yang cukup penting. Ya Serat Centhini. Anda mungkin akan kaget, bagaimana mungkin serat yang sangat dekat dengan Islam tersebut mampu sarat akan cerita-cerita homo erotis? Diceritakan bahwa Nurwitri dan Cebolang diperlakukan sebagai pihak feminim ketika bertemu dengan Adipati di Kabupaten Daha. Oh ya Nurwitri dan Cebolang adalah laki-laki. Hatib menuliskan “Digambarkan bahwa Adipati meminta Cebolang untuk “menghentikan tikaman-tikamannya” yang terlalu kasar dan mendalam. Karena itu gerakan Cebolang mulai lebih ringan dan lebih memperhatikan rekannya. Serat yang sarat dengan muatan homoerotisme itu justru banyak berlatarbelakang wilayah pesantren. Contoh bisa diambilkan dari sebuah adegan di mana semalam suntuk Cebolang berhubungan seks dengan dua remaja berparas tampan. Dengan suasana senang dan bahagia mereka melakukan oral dan seks melalui dubur. Dan ketika subuh menjelang, mereka segera mandi junub untuk melakukan salat, di mana Cebolang menjadi imam salat secara khidmat.”
Ulasan lain soal homoseksual secara lebih lengkap dapat dilihat pada Abdul Khadir, Hatib. 2007. Tangan Kuasa Dalam Kelamin. Yogyakarta: InsistPress. Jika Bissu dan Warok dikirim ke Amerika pada abad 18 atau awal 20an, maka mungkin mereka akan dilempar jumroh di sana. Poin pertama yang akan saya ambil adalah, kita tidak bisa mengkambinghitamkan Barat soal LGBT, karena nyatanya, masyarakat kita sudah lebih dulu mengenalnya dan bahkan menjunjung tinggi adanya kultur LGBT. Jika kemudian setelah hastag #lovewins beredar muncul banyak orang memproklamirkan diri sebagai LGBT, percayalah bahwa itu bukan karena legalisasi pernikahan sejenis di Amerika, melainkan kitalah yang tidak menyadari bahwa LGBT itu sebenarnya sangat dekat berada di sekitar kita. Logikanya tidak mungkin seorang straight akan dengan sangat girang memproklamirkan dirinya homo hanya gara-gara hastag #lovewins. Are you kidding me?
Poin kedua yang menjadi isu tulisan ini adalah seputar penolakan pernikahan sesama jenis. Bisa saya bertanya sebuah pertanyaan yang sangat sederhana “Maukah Anda atau bolehkan anak Anda atau saudara dekat Anda menikahi seorang gay, lesbian, atau transeksual?” Saya berani bertaruh, pasti Anda menjawab tidak. Mengapa? Anda menginginkan mereka untuk menikah secara “normal” bukan? Anda tidak ingin membantu mereka menjadi normal dalam sebuah koridor pernikahan yang legal? Sayangnya Anda menolak perilaku mereka dan secara mengejutkan Anda juga tidak mau merangkul mereka ke dalam kehidupan Anda yang kemudian disebut dengan nama rumah tangga? Ini seperti Anda frustasi untuk mengenyahkan mereka tapi tidak tahu bagaimana caranya!
Pemaksaan seorang LGBT untuk hidup menikah “normal”, secara logika justru akan menyakiti banyak pihak. Pertama dia sendiri, karena merasa harus bertopeng, menjalankan pernikahan hanya untuk memuaskan lingkungannya, dan hidup menjadi orang lain. “Lho memangnya LGBT bisa memiliki anak?” Jangan pikir seorang homoseksual tidak bisa memiliki seorang anak  Bisa membuahi sel telur atau bisa mengandung seorang bayi, bukan jaminan bahwa dia bukan pelaku LGBT. Kedua, tentu saja istri atau suami yang dia miliki, kenapa? Habitus homoseksual bukanlah penyakit yang bisa diobati dengan menenggak tiga tablet obat setiap hari. Jika mereka kembali pada kebiasaan lama mereka sementara status mereka sudah terikat sebuah pernikahan, tentu ini akan sangat menyakitkan untuk pasangan bukan? So? Biarlah mereka memilih jalan hidup sendiri, mau memutuskan untuk menikah sesuai keinginan lingkungnnya atau tidak, bukankah hidup adalah pilihan?
Poin ketiga, stigma negatif pelaku LGBT. Saya ada challenge sederhana. Carilah 10 pelaku LGBT entah itu lesbian, gay, biseksual, maupun transeksual. Ya tak perlu banyak-banyak cukup carilah 10 orang saja. (Santai saja mereka sangat welcome kok kalau kita respek dengan mereka). Lantas apa yang harus Anda cari tahu. Paling tidak, Anda menanyakan sejak kapan mereka “begitu” dan apa penyebab mereka “begitu”. Kalau sudah mendapatkan jawabannya, silahkan diposting di kolom komentar. Saya pikir, Anda akan mendapatkan jawaban-jawaban ajaib, yang mungkin membuat Anda bisa lebih menghargai perbedaan. Karena menjadi LGBT bukan sekedar “Aku sedang ingin menjadi LGBT” atau “Ah aku bosen menjadi LGBT, balik normal lagi ah”. No…!!
Poin keempat, masyarakat kita secara disadari atau tidak menyuburkan praktik LGBT. Anda tahu mengapa LGBT berkembang? Karena mereka memiliki komunitas yang senasib dan sepenanggungan. Konon ikatan orang-orang yang senasib itu cukup kuat. Apa yang membuat komunitas mereka menguat? Karena adanya pengucilan dan diskriminasi. Well, sepertinya saya harus membahas hal ini sedikit.
Saya memiliki beberapa kasus menarik. Pertama seorang gay yang menceritakan pengakuan soal penerimaan keluarga terhadapnya, kedua seorang ibu yang memberikan testimoni soal anaknya yang ternyata gay, dan ketiga seorang waria yang sampai sekarang masih terus terintimidasi dengan statusnya. Ketiga contoh kasus tersebut saya rasa cukup untuk pembahasan.
Pelaku LGBT biasanya sudah menunjukkan karakteristik tersebut sejak masih kecil. Sebagaimana pengakuan seorang narasumber yang saya sebutkan di atas, dia sempat bersitegang dengan keluarganya dan menjaga jarak. Namun pada akhirnya orang tuanya mengakui, bahwa dia adalah orang terdekat, yang merawat si narasumber ini sejak kecil, dia tahu jika ada sesuatu yang berbeda, ada sesuatu yang tidak wajar. Tapi apa? Dia membohongi diri sendiri, dengan terus beranggapan bahwa anaknya sama dengan anak-anak lain. Konflik pasti ada, ketidakberterimaan pasti ada, namun kesadaran yang dia rasakan sejak lama itulah yang lantas menyadarkan bahwa tak ada yang bisa dilakukan kecuali terpaksa memberikan penerimaan.
Sedikit berbeda kasus dengan yang di atas. Kisah ini dituturkan oleh seorang ibu yang mendapati anaknya sebagai gay. Dia bukannya tanpa usaha untuk menyadarkan si anak, bahkan sempat membawanya ke psikiater. Tapi apa yang didapatkan? Psikiater hanya bisa tersenyum sambil berkata “Ya, itulah anak ibu.” Pukulan telak inilah yang kemudian membawa beliau untuk masuk dalam dunia LGBT. Dia bersosialisasi dengan kawan-kawan si anak, clubing, nyamperin kegiatan-kegiatan komunitas, sampai dia mendapatkan pemahaman bahwa, being LGBT just about feel, tidak berbeda dengan manusia-manusia yang lain yang tetap bisa berkarya dan berprestasi. Beliau percaya, bahwa Tuhan lebih tahu semua rahasia itu, perkara dosa, beliau mengatakan bahwa biarlah itu urusan hamba dengan Tuhannya.
Then, banyak anggapan bahwa menjadi LGBT adalah karena trauma masa lalu atau pelecehan seksual, atau bahkan karena berasal dari keluarga broken home. Guess what? Kisah terakhir ini mungkin akan membuat Anda berpikir ulang. Dia terlahir sebagai laki-laki yang feminim. Tidak ada satu pun anggota keluarganya yang serupa dia. Dia masih ingat, umurnya masih balita, ketika ayahnya berjuang keras untuk membelikan dia berbagai mainan laki-laki, memintanya untuk bergaul dengan teman-teman yang lelaki, serta melakukan berbagai permainan khas anak laki-laki seperti bermain bola, dll. Tapi di usianya yang masih dini ternyata dia lebih senang bermain boneka dan make up. Dia mulai tumbuh besar, ketika satu per satu bullying dia alami dari teman-temannya maupun dari anggota keluarga. Konflik yang terjadi dalam keluarga inilah yang kemudian membuat dia memutuskan untuk merantau, menjadi pengamen jalanan. Sampai saat ini dia selalu merasa teritimidasi untuk mengaku, bahwa dia adalah waria. Setiap kali pulang ke rumah, dia selalu mengatakan bahwa dia kerja di salon.
Mari sedikit berpikir, siapakah yang salah? Sang anakkah yang tidak bisa tumbuh menjadi laki-laki atau perempuan sebagaimana mestinya? Keluarganyakah yang tidak bisa mengubah si anak meskipun sudah berusaha? Atau masyarakat sekitarnyakah yang mendiskriminasi karena kurangnya edukasi? Saya pikir saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk saling menyalahkan. Atau justru kita semua salah? Tentu bukan hal yang tepat menyalahkan seseorang dengan “natural bakatnya”. Bisa dijelaskan bagaimana seorang bisa berperilaku seperti itu padahal tak ada seorang pun yang mengarahkan dia untuk bertendensi pada hal-hal terkait LGBT? Tahu apa anak balita soal homoseksualitas, bukankah dia hanya merasakan apa yang ada di hatinya? Adil tidak menyalahkan keluarganya, padahal kita tahu tak ada satu orang pun yang menginginkan anak-anak mereka menjadi sedemikian ini. Wajar dan pantaskah kemudian orang memberikan penghakiman?
Kesimpulan dari cerita-cerita di atas adalah berkaitan dengan penerimaan. Nah kembali pada topik diskriminasi masyarakat yang menyebabkan LGBT tumbuh subur. Pernah suatu ketika, untuk mencari bahan tulisan, saya menemukan chanel youtube bernama CONQ, silahkan dicari. Postingan pertama mereka saya pikir menarik. Apa dan bagaimana gay tersebut! Well, mereka menyebut diri mereka sebagai conq. Mereka mengatakan, mengapa para conq ini begitu stagnan, ketika kumpul dengan teman-temannya hanya membahas seputar dunia per conq an saja? Ya karena mereka tidak mungkin terbuka dengan orang yang berada di luar mereka. Maka nyaris, obrolan sesama conq tidak pernah ke luar dari dunia LGBT, jauh dari topik bahasan yang lain seperti, pendidikan, ekonomi, politik, dll. Ruang lingkup mereka semakin membesar dan membesar, para pelaku LGBT yang tadinya merasa sendirian, jadi merasa memiliki teman. Perasaan saling membutuhkan inilah yang kemudian tidak akan mampu dibendung oleh masyarakat.
Pernahkah kita melihat seorang anak kecil diolok-olok, diejek, dan dipermalukan dengan verbal bullying macam banci, waria, wadam, bencong, dan sejenisnya? Dan setelah mereka besar kita mengharapkan mereka akan hidup “normal”? Tidak, dia tidak akan menjadi seperti yang Anda minta, mereka akan lebih nyaman untuk bersama dengan orang-orang yang sedunianya dan memandang Anda sebagai orang yang mengancam! Lantas kita meminta mereka untuk tobat, berubah, dan menjadi normal kembali? Bayangkan, guyonan macam apa ini, apa Anda-Anda pikir dengan segala perlakuan yang sudah diberikan, dengan segala bentuk sanksi sosial yang diberlakukan mereka akan berubah? Nyatanya pelaku LGBT semakin hari semakin banyak. Saya pikir ini bagian dari perlawanan.
Bagaimana mungkin mereka akan respek dengan ajakan Anda untuk “kembali” jika Anda saja menganggap mereka nyaris seperti makhluk yang pantas dilenyapkan dari muka bumi? Sebuah pepatah mengatakan, bahwa air yang terus menetes bisa menghancurkan sebuah batu. Kita bisa kok mengubah mereka atau membuat mereka menjadi lebih positif dan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Respek dan kasih sayang menjadi dukungan penting untuk mereka mau dirangkul. Jika ada orang lain yang peduli dan mau mendengarkan mereka, maka ilustrasi yang digambarkan bahwa dunia conq hanya akan membahas soal conq menjadi bisa dikaburkan. Dengan support orang-orang terdekat, kemungkinan mereka untuk “menginspirasi” sesamanya jauh lebih terbuka lebar.
Perilaku LGBT seringkali disebut sebagai bentuk penyimpangan. Mari kita lihat apa makna penyimpangan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pe•nyim•pang•an n 1 proses, cara, perbuatan menyimpang atau menyimpangkan; 2 Huk sikap tindak di luar ukuran (kaidah) yg berlaku.
Kalau kita cermati maka korupsi, berselingkuh, MBA, dan berbagai tindakan lain juga merupakan penyimpangan. Namun nyatanya masyarakat kita sangat toleran dengan penyimpangan-penyimpangan semacam itu. Apakah karena perilaku LGBT itu berkenaan dengan kelamin dan kelamin? Saya bilang yang menyimpang adalah perilaku negatif LGBT itu sendiri bukan LGBT nya. Sama jika ada orang mengatasnamakan agama tertentu untuk mengusik pemeluk agama lain, kita tak akan menggeneralisir oh Islam itu teroris. No! Makanya ada pepatah yang bagus mengatakan “Islam itu tidak salah, kalau ada yang salah itu artinya saya yang belum mampu menerapkan agama secara benar”. Kurang lebih semacam itulah LGBT bagi saya.
Menghubungkan LGBT rasanya tak lengkap jika tidak menyandingkannya dengan agama (sebagaimana yang sudah sering kita temui saat ini). Saya tidak akan membahas soal ayat-ayat dan lain-lain, karena saya menyadari bahwa ilmu saya sama sekali tidak cukup untuk mengatakan itu. Saya hanya menolak anggapan, bahwa para pelaku LGBT tersebut tidak beragama dan tidak tahu agama. Jangan salah, banyak dari mereka yang orang pesantren. Seorang teman bahkan sangat-sangat alim, selalu mengerjakan salat tepat waktu, salat malam, selalu mengaji, bahkan mempelajari berbagai kitab. Toh nyatanya dia seorang homoseksual! Di berbagai media sosial kecaman terhadap LGBT menguat, atas dasar agama mereka mencaci maki dan berkata-kata kasar. Saya tersenyum membaca komentar-komentar mereka, betapa kontradiktif dan hipokritnya mereka. Mereka menginginkan orang lain suci, tapi mereka sendiri tidak mampu merefleksikan kesan suci dari diri mereka. Bagi saya menjadi apapun seseorang itu terserah mereka, tugas kita hanya mengingatkan. Benar bahwasannya mereka adalah manusia-manusia dewasa sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Hubungan manusia dengan Tuhan cukuplah menjadi pertanggungjawaban personal seseorang. Tuhan sudah cukup cerdas dan pandai menjadi hakim, kita tak perlu untuk membantu Tuhan melakukan pekerjaanNya.
Di lain sisi dari sikap saya yang toleran terhadap pelaku LGBT, namun ada beberapa catatan yang tampaknya perlu untuk mereka pikirkan. Selama ini stigma negatif terhadap pelaku LGBT dialamatkan pada tindakan seks bebas, hedonisme, alkohol, dan berbagai hal negatif yang lain. Inilah yang menjadi PR besar mereka. Menjadi berbeda saja sudah menghadirkan konsekuensi sosial tersendiri, sudah seharusnya para pelaku LGBT tidak menambah kerumitan hidup dengan menampilkan berbagai citra negatif.
Membentuk dan menjadi bagian dari komunitas LGBT bisa kok melakukan berbagai aktivitas positif. Di Jogja misalnya, beberapa orang LGBT dari beragam etnis dan suku berkumpul untuk memanfaatkan lahan kosong dan mengedukasi masyarakat untuk merancang lahan produktif. Mereka mengembangkan bercocok tanam hidroponik, menanam tanaman obat-obatan, dll. Sementara komunitas LGBT lain melakukan aksi sosial, melakukan diskusi bedah buku, pemutaran film, bakti sosial, sosialisasi HIV AIDS yang konon banyak berkembang di kalangan LGBT, mengadakan pentas seni, mengadakan pameran karya, atau pun fundraising dan charity. Itulah citra yang harus ditampilkan dan dikuatkan.
Kemungkinan dengan adanya kegiatan-kegiatan positif tersebut, LGBT mendapatkan sedikit ruang untuk dipandang sama dengan manusia lain. Bukan tidak mungkin, segala bentuk aktivitas yang dilakukan bisa menjadi jembatan untuk mengakomodir banyak kepentingan. Sekali lagi tulisan ini bukan dalam rangka mendukung atau menolak keberadaan LGBT. Ada orang mengatakan, seberagama-beragamanya seseorang, jika dia tidak baik, lantas apalah guna agama. Bukankah agama diciptakan untuk menciptakan kedamaian? Memberikan respek bukan berarti mendukung, saya bosan mengatakan soal HAM karena mungkin akan basi, namun bagaimana pun mengintimidasi dan mendiskriminasi mereka bukanlah jalan yang terbaik untuk menyelesaikan kasus LGBT. Toh apakah kita bisa melarang perilaku LGBT? Bukankah sebaik-baiknya sebuah pendekatan adalah pendekatan yang win-win solution? Kalau memang tidak setuju dengan mereka, buatlah mereka menjadi lebih baik dan positif, namun jika Anda hanya menghakimi, maka Anda sama saja dengan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s