Beragama Tapi Gini? Banyak!


haha aye cuman jadi model memenya doang kok gan :D

haha aye cuman jadi model memenya doang kok gan😀

Tulisan ini tidak benar-benar ingin melukai siapapun, apalagi agama tertentu, Tidak! Saya manusia beragama kok meskipun bukan yang alim njekek! Tapi diakui atau tidak kita akan sering banget menemui orang yang model kaya begini (yang akan aye bahas). Dan di bawah ini ada sebuah percakapan, ya semacam percakapan imajiner gitulah, antara aye dengan hmmmm bagaimana kalau kita sebut fanatikus? Yuk disimak percakapannya kaya gimana! (Aye yang tugasnya ngejawab-jawabin😀 )

~(o)~

“Hai kau pendosa!”
“Hai kau Tuhan”
“Aku bukan Tuhan”
“Tapi sikapmu menuhankan diri”
“Kau tak pernah terlihat rajin mengikuti perintahNya!”
“Kau ini suka sekali yang terlihat, iman itu bukan sebuah brand, yang harus diiklankan di seluruh advertisement screen agar semua orang melihat!”
“Mau masuk neraka kau?”
“Kita sama-sama mahasiswa, sesama mahasiswa tak boleh saling mengisi DHS. Mau dapat IPK jelek atau bagus terserah yang ngelakuin dong. Kamu pikir mahasiswa itu anak playgroup yang masih piyik? Kamu pikir mahasiswa baik-baik, mahasiswa yang teoritis tingkat langit selalu mendapatkan IPK bagus dari dosen? Kamu pikir mereka yang terlihat ala kadarnya tak bisa mendapatkan IPK yang bagus? Tuhan punya selera!”
“Kau ya benar-benar….. ”
“Eitts kau bukan Tuhan, pergi sana, jangan bikin aku tak berselera dengan seleramu!”

~(o)~

Oke sekarang mari kita bahas? Di sekitar ente, banyak gak orang yang gampang banget ngejudge orang lain, for example: wah gak bakalan diterima ibadah lu, wah gimana Tuhan mau sayang ama lu?, Wah kebanyakan dosa sih lu, wah wah wah intinya orang ngelihat kita kaya bukan orang yang terpuji. Tapi kenyataannya mereka kan bukan Tuhan? Atas indikator apa mereka menilai? Apakah hanya karena kita tidak terlihat alim?

Yaps TERLIHAT. Kenapa terlihat? Bukankah karena sekarang orang menilai dari apa yang dia dengar, dia lihat, dia rasakan, dia pegang, dia apalah yang penting ditangkap oleh panca indera. Kalau yang paling sering sih yang terlihat ya, entah itu dalam bentuk tulisan, dokumen lain, atau secara langsung. Nah sekarang arti iman sendiri apa? Well, mari kita buka KBBI. Dalam KBBI disebutkan bahwa iman secara sempit adalah kepercayaan dan keyakinan berkenaan dengan agama, atau ketetapan hati, keteguhan batin, dan keseimbangan batin. Nah lho yang muncul adalah berkenaan dengan hati dan batin kan? Lu gimana nerawang hati orang lain tong? Minta diventung ya? Gethok kanan kiri bolak balik. Hahaha udah deh orang sama-sama manusia juga, gak usah gampang ngecap orang lain pendosa, orang lain kafirun, kafirin, tafir, jionis, wahyudi hanya karena tidak sejalan dengan kita. Kalau yang ketangkap panca indera aja masih sering salah, gimana ente mau ngeraba-raba yang di dalam. Aiihh… apalagi sampai yakin banget orang lain masuk neraka.

Iman dan agama itu urusan manusia dengan Tuhannya, very very personal and private. Lagian sebagai orang yang beragama dan berTuhan, bisa dong misal ada something wrong diingatkan dengan cara yang elegan, classy, serta uhm… positif mungkin (something like that). Lagian kalau iman yang diimplementasikan dalam bentuk ibadah digembar-gemborkan, akhirnya jadi ibadah medsos dong? “Alhamdulillah barusan mengaji”, “Akhirnya bisa rajin salat tahajud”, pap foto salat, pap foto baca Alquran, kutip hadist sana sini, posting ayat sana sini, yihaaa 5000 orang teman facebook tahu semua, semua follower twitter dan instagram tahu semua, like koment, puja puji. And the question is… harus ya? Sorry gak underestimated sih, gak semua orang gunain media sosial untuk pencitraan atau pamer, ada kok beberapa mereka yang mungkin berniat untuk “menginspirasi”. Uhuuuyy bahasanya sedap!

Gini ya sebagai pengandaian aja, jika sesama hamba Tuhan ini disamakan dengan mahasiswa, nah lho emangnya mahasiswa bisa saling ngisi DHS? Enak bener sama-sama mahasiswa bisa nentuin nilai temennya. Asik dong, ah aku sensi, kasih C ah, atau ah dia bromance gue nih, kasih A+ ah. Blaaahhh terus apa fungsinya dosen (dalam hal ini apa fungsinya Tuhan? Kalau hambanya bisa saling kasih penilaian akhir semau mereka?) Selera sesama hamba, beda lho ya ama selera Tuhan. Malu gak lu, misal elu yang koar-koar mendosa kafirkan orang, ternyata besok di akhirat justru lu yang didosa kafirkan ama Tuhan? Sementara yang lu sangka pendosa justru dapet surga? Mau melongo? Atau nyanyi? “Sakitnya tuh di sini di dalam hatiku, sakitnya tuh di sini lalala lalala yeye”.

Oh ya tambahan dikit, gimana mungkin orang bisa respect dengan agama dan ajaran atau keyakinan yang ente anut, kalau mereka nyatanya udah ngeri duluan lihat ente-ente ini ngejudge mereka? Sumpah, kita yang niatnya mau memberikan edukasi soal kebaikan, justru dijauhi orang lain karena kita mengomunikasikannya dengan cara yang salah. Please ya, sebelum respect orang ngilang satu-satu, lebih baik jadi orang yang terbuka, yang bisa menghargai perbedaan, yang meluruskan dengan kesantunan, yang aiih sudahlah, puasa-puasa masa capek nyinyir kan gak lutu. Otok otok otok… #aduh udah ah ntar aye kena ventung!😀

NIO, 25 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s