Menyikapi Puteri Indonesia VS Miss Indonesia “TEMPO”


Beberapa hari belakangan fans pageant Indonesia gempar, terlebih ketika screencapture dari majalah Tempo tersebut tersebar secara viral. Yaps artikel tersebut berjudul Puteri Indonesia Versus Miss Indonesia. Namun, bukan judulnyalah yang menghebohkan, melainkan isi dari artikel tersebut yang membuat banyak orang tercengang. Awalnya, Tempo mengajukan pertanyaan spontan terkait pengetahuan umum Indonesia kepada Miss Indonesia maupun Puteri Indonesia. Pertanyaan yang berjumlah lima soal itu sama. Adapun pertanyaan tersebut yaitu:

  1. Berapa jumlah kabupaten dan kota di Indonesia?
  2. Berasal dari provinsi manakah lagu daerah Ma Rencong-Rencong
  3. Sebutkan nama ibu kota Provinsi Papua Barat!
  4. Sebutkan nama lengkap pencipta lagu Indonesia Raya!
  5. Pada abad keberapa candi Borobudur di bangun?

Anindya Kusuma Putri, Puteri Indonesia 2015 memberikan dua jawaban salah dan tiga pertanyaan dia jawab dengan tidak tahu. Sementara itu, Maria Harfanti mampu menjawab lima pertanyaan dengan benar meskipun satu pertanyaan dia jawab dengan ragu-ragu (jawaban secara lengkap dapat dilihat di screenshoot). Respon atas jawaban inilah yang kemudian memicu kontroversi. Publik seakan tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Anin. Tak ayal Anin menjadi bulan-bulanan netizen, banyak yang menyindir bahwa Puteri Indonesia hanya menang cantik. Banyak fans Puteri Indonesia yang kemudian menganggap bahwa screenshoot tersebut hoax dan editan orang tak bertanggungjawab.

artikel di majalah tempo pada rubrik Pokok dan Tokoh

artikel di majalah tempo pada rubrik Pokok dan Tokoh

Sebenarnya kalau kita telisik lebih jauh, sangat manusiawi jika seseorang merasa blank ketika mendapatkan pertanyaan mendadak, terlebih untuk pertanyaan-pertanyaan terkait pengetahuan umum. Saya yakin, saya sendiri mungkin tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan di atas. Namun netizen menyayangkan, bagaimana Anin merespon pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pertama, dalam hal penggunaan bahasa, Maria Harfanti cenderung lebih paham sosiolinguistik. Sosiolinguistik sendiri merupakan gejala sosial. Solehudin (2009:3) mengatakan bahwa sebagai gejala sosial, bahasa dan pemakaian bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor linguistik tetapi juga oleh faktor nonlinguistik, seperti faktor social. Faktor sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa misalnya status sosial, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, jenis kelamin dan sebagainya. Di samping itu pemakaian bahasa juga dipengaruhi oleh faktor situasional, yaitu siapa bicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana dan mengenai masalah apa, seperti dengan ringkas dirumuskan oleh Pishman (1967:15) “Who speaks, what language, to whom and when.

Bagi Anda yang mempelajari bahasa Indonesia, Anda akan paham meskipun aku dan saya memiliki makna yang sama, merujuk pada kata ganti diri sendiri, namun keduanya memiliki fungsi sosial yang berbeda. Dalam hal ini, penggunaan kata ganti saya untuk sebuah wawancara dengan media, dinilai lebih tepat dibandingkan penggunaan kata aku.

Kedua, pilihan kata yang dipilih untuk mengelak. Perhatikan perbedaan keduanya ketika merespon jawaban yang tidak mereka ketahui. Anin menjawab dengan “Duh, enggak tahu”, “”Duh apa ya? Bentar, bentar…. pas deh”, dan “He-he-he, enggak tahu”. Sementara itu, Maria Harfanti merespon dengan “…., benar tidak?” dan “Saya kurang yakin, kalau tidak salah…..”. Respon yang diberikan, berkaitan dengan psikolinguistik. Salah satu fungsi dari psikolinguistik adalah mengetahui hubungan antara pengetahuan bahasa dengan pemakaian bahasa dan perubahan bahasa. Sebagai seorang aktivis kampus (terlebih sebagai Presiden Pertukaran Mahasiswa AIESEC Universitas Diponegoro) seharusnya Anin bisa lebih mengeksplore bahasanya ketika menunjukkan ketidaktahuan. Ini penting, untuk mengaburkan kesan “Udah deh, gue gak ngerti, so what?”.

Misalnya untuk pertanyaan pertama, jawaban seperti “Kalau jumlah provinsi saya tahu ada 34, tapi untuk jumlah kabupaten/kota saya kurang hapal”. Jawaban semacam ini setidaknya menunjukkan bahwa dia berusaha untuk tetap menghargai pertanyaan tersebut dan menghilangkan kesan blank banget. Seseorang boleh merasa akrab dengan orang lain, namun ada kalanya kita harus mampu menempatkan diri di mana posisi kita saat ini. Terserah kalau di luar agenda wawancara mereka berbicara seakrab-akrabnya, namun ketika dia memposisikan diri sebagai Puteri Indonesia di hadapan awak media, maka penting kiranya untuk menjaga apa yang harus dilontarkan dan bagaimana melontarkan pernyataan tersebut. Ingat kembali slogan YPI, Brain, Beauty, and Behaviour. Maka, mau tidak mau, seorang puteri yang tengah menjalankan tugas harus paham betul aspek itu, harus sadar diri terkait siapa dia sekarang, ya kecuali kalau YPI sudah merevisi slogannya. Entahlah.

Adanya tanggapan netizen ini memicu reaksi yayasan yang menauginya, yaitu Yayasan Puteri Indonesia. Adapun surat keberatan YPI yang dikirimkan kepada tempo adalah sebagai berikut:

Surat Keberatan YPI terhadap Tempo

Surat Keberatan YPI terhadap Tempo

Banyak netizen menyayangkan adanya pengiriman surat keberatan ini. Mereka beranggapan bahwa keputusan YPI untuk menegur Tempo sangat berlebihan dan reaktif, terlebih ketika mengetahui isi dan alasan keberatan.

Pertama, khawatir terganggunya hubungan baik antar pendukung. Pada kenyataannya fans pageant baik-baik aja, kalaupun ada komentar keras, saat itu lebih berkaitan dengan keabsahan berita ini (dan berita ini benar, bukan hoax – red).  Selain itu mereka juga khawatir dengan judul yang dinilai provokatif (mungkin karena ada kata versus).

Kedua, “dimana ajang Miss Indonesia merupakan salah satu kompetitor Puteri Indonesia”. Nah masih berkaitan dengan poin pertama, di sini justru terlihat adanya dualisme sikap YPI. Mereka tidak mau diversuskan, tapi justru menegaskan diri bahwa ajang lain adalah kompetitor. So? Silahkan simpulkan sendiri!

Ketiga, dalam surat tersebut dijelaskan, Anin tidak diberi tahu bahwa pertanyaan tersebut untuk sebuah rubrik dan akan disandingkan dengan Miss Indonesia. Apa yang menjadi masalah di sini? Berdasarkan konfirmasi yang kami terima dari Maria Harfanti, dia juga tidak diberi tahu jika pertanyaan ini untuk sebuah rubrik.dia juga tidak tahu kalau akan dibattle dengan Puteri Indonesia, dia juga sama-sama mendapatkan wawancara secara mendadak. Jadi apa hal yang dipermasalahkan YPI? Kalaupun mendapatkan informasi bahwa pertanyaan tersebut untuk rubrik, lantas kenapa? Cari dulu di google? Belajar dulu kah? Ini semua murni bagaimana cara beauty queen membawa diri dan bereaksi terhadap media. Ini bukan soal siapa lebih cerdas dari siapa, melainkan siapa lebih bisa mengomunikasikan apa.

Inilah yang membuat netizen beranggapan bahwa surat yang dikirim oleh YPI adalah blunder. Mereka beranggapan bahwa belakangan YPI terlalu paranoid dan anti kritik. Ini bukan sekali dua, YPI melayangkan surat pada media karena pemberitaan. Entah, mungkin karena kesuksesan dua kali berturut-turut membuat YPI terkena sindrom, ingin selalu dipuji. Sebuah organisasi memperoleh kredibilitas dan popularitasnya karena media, namun harus diingat bahwa media juga menjadi sarana kontrol masyarakat terhadap sesuatu. Kalau memang merasa dirugikan dan apa yang disampaikan tidak sesuai fakta, maka YPI bisa melakukan klarifikasi dengan menggunakan Hak Jawab. Selain itu, sepanjang yang saya baca, tulisan tersebut tidak melanggar kode etik jurnalistik maupun Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Tanggapan YPI ini mendapatkan sentilan dari Mas Subkhan, selaku penulis rubrik Pokok dan Tokoh. Menurut saya, klarifikasi yang diberikan Mas Subkhan di jejaring sosial pathnya, merupakan salah satu tanggapan cerdas menyusul adanya surat dari YPI. Hal ini bisa dilihat dari screenshoot berikut:

Klarifikasi Mas Subkhan dari Tempo

Klarifikasi Mas Subkhan dari Tempo

Tempo tampaknya juga tidak berniat menjatuhkan salah satu pihak. Kalau pun akan menjatuhkan salah satu pihak, tidak mungkin mereka memberikan pertanyaan sama. Ini kasus yang berbeda, kalau kemudian hasil dari salah satu pihak ada yang terjatuh. Kalau tetap mempermasalahkan hasil tersebut? Itu ibarat Jokowi asal tanda tangan di berkas, diprotes masyarakat, kemudian medianya yang disalahkan karena memberitakan kesalahan tanda tangan ini. Dalam hal ini, saya berposisi sama dengan Mas Subkhan.

Adanya kontroversi juga diperparah oleh fans PI maupun fans Anin, yang tidak mau membuka mata, tidak mau mendengar, dan justru terkesan memerosokkan Anin. Setelah gagal mengklaim bahwa berita tersebut hoax, mereka mengatakan bahwa hal-hal semacam itu tak penting, karena toh nantinya tidak diperlukan di Miss Universe. Di sini saya merasa prihatin, selama ini mereka bergembor bahwa Puteri Indonesia itu sangat Indonesia, dan setelah kasus ini bergulir mereka menganggap bahwa wawasan seorang Puteri terhadap Indonesia tidak penting. Hell yeah! Kalau mas Subkhan mengatakan “tahu dan mengenal itu awal dari cinta” maka saya dengan bahasa denotatif mengatakan “kalau belum mengenal Indonesia, bagaimana mungkin akan memperkenalkan Indonesia kepada orang lain?”. Sayangnya kritik mengenai hal ini mendapatkan tanggapan yang negatif dari fansnya (dan cenderung keras, mengingatkan saya pada NIC, salah satu fansbase militan Agnez Mo). Lebih lucu lagi, ketika mereka merasa tidak perlu dan tidak penting dengan ini semua, tapi masih mempermasalahkan soal terbitnya artikel tersebut. Kalau memang hal tersebut tidak penting, bukankah terserah mau terbit atau tidak, akan dirilis atau tidak, akan dipublikasikan secara massif atau tidak? Kalau masih kebakaran jenggot dan berkomentar anarkis, berarti menunjukkan bahwa hasil ini penting bukan? #logika

Menjadi seorang fans fanatik boleh, namun membiarkan sesuatu yang salah tetap salah adalah kesalahan terbesar. Mengapa para fans tidak memberikan satu hal yang positif, bahwa dengan hasil wawancara Tempo ini, bisa dijadikan salah satu bahan evaluasi dan intropeksi. Mungkin sang Puteri perlu menerima pembekalan wawasan yang lebih, mungkin sang Puteri disarankan untuk lebih banyak belajar dan mengenal negerinya sendiri, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya. Bagaimanapun ketika seseorang membawa nama Indonesia, maka itulah yang harus ditunjukkan. Memang tidak mudah menjadi seorang beauty queen, orang memiliki ekspektasi yang tinggi dan menuntut untuk sempurna. Ini setidaknya saya dapatkan dari wawancara bersama dengan Shinta Safira, 2nd runner up Miss Indonesia 2013. Dia mengatakan bahwa masyarakat menganggap seorang Miss itu ikon yang harus bisa segalanya. Dia bercerita bahwa dia pernah diminta untuk menyanyi meskipun sebenarnya tidak terbiasa. Hal-hal semacam ini seharusnya mampu menjadi pendorong semangat untuk lebih baik. Ingat, bahwa sebagai ikon, gerak gerik kita, tingkah laku, tutur kata, komentar, penampilan, serta kemampuan kita menjadi sorotan. Perlu kiranya untuk pandai menempatkan diri, paling tidak selama mereka memegang jabatan sebagai seorang Miss atau Puteri.

Sekali lagi untuk para fans fanatik, memang berat dan susah untuk menerima bahwa orang atau organisasi yang kita idolakan masih memilki kekurangan. Namun semakin fans pageant menutupinya dan hanya memuji-muji ria, maka ini justru akan berakibat buruk pada sang Puteri atau Miss. Kritikan, saran dan masukan yang membangun itu penting, selama diberikan dengan baik dan bijak. Ingat, masyarakat awam mulai mau melirik pageant setelah mereka menyadari bahwa orang yang menjadi beauty queen (di Indonesia khususnya), tidak hanya memiliki kecantikan. Jangan biarkan apa yang sudah menjadi pandangan bagus masyarakat awam ini, runtuh tiba-tiba karena kita menutup mata pada apa yang seharusnya perlu diperbaiki oleh beauty queen kita.

One response to “Menyikapi Puteri Indonesia VS Miss Indonesia “TEMPO”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s