Sekelumit Catatan Banjir Pituruh


salah satu dampak banjir Pituruh

salah satu dampak banjir Pituruh

Ini hari Selasa, seperti biasa saya baru akan mengajar nanti pukul 10.15. Maka, pukul delapan pagi kurang sedikit, saya baru ke luar rumah. Sudah jamak bagi masyarakat Pituruh, bila pusat kota akan ramai pada hari Selasa dan Jumat, karena pada hari itu sedang pasaran. Namun pagi ini agak berbeda, jalan di pertigaan yang biasanya dipenuhi dengan mobil bak terbuka yang mengangkut hasil bumi, juga manusia-manusia dari utara yang melakukan eksodus singkat, tak kentara dari hadapan.

Pagi terasa berbeda, jalanan sepi, padahal hari ini saya berangkat lebih pagi dibandingkan minggu-minggu yang sudah terlewati selama beberapa bulan terakhir. Perjalanan menuju Kalikotes pun tak digairahkan dengan mobil bak terbuka dan anak-anak kecil yang menumpang berdiri berdesakan bersama dengan pisang, atau hilir mudik manusia-manusia utara yang bersepeda motor membawa sayuran, ahhh… benar pagi ini memang sunyi. Setidaknya sesuatu yang tidak normal telah terjadi.

Petang dua hari lalu (28/3) mungkin menjadi senja yang tak akan terlupakan bagi manusia-manusia utara, demikian pun dengan saya. Setidaknya semua itu terlihat dalam sebuah catatan ini:

Kami masih mengerjakan tugas hingga sore, rencana awal kami akan berada di sekolah sampai setidaknya pukul 17.00. Namun Tuhan punya rencana lain, sore itu hujan datang dengan derasnya, namun bukan itu yang membuat kami terjebak, melainkan petir yang terdengar menggelegar dan nampak berkilat-kilat. Kami tak mau ambil resiko (terutama saya yang pulang bersepeda). Kami masih menahan diri, untuk mencoba menyelesaikan apa yang bisa kami selesaikan. Hujan makin menderas, menjelang maghrib kami sudah melihat ketinggian air di lapangan sekolah dan beberapa taman sekolah sudah dalam batas yang tidak wajar. Kami masih berpikir positif di perpustakaan, fine kami menunggu sambil terus bekerja (dan saya yang kadang memandangi laptop dengan setengah mengantuk berat). Ketinggian air sudah menjilat bibir emperan perpustakaan, kami mulai kalang kabut, karena beberapa meja masih berserakan dengan laptop dan kertas-kertas data yang tengah kami kerjakan, sementara buku-buku masih berada di lantai. Air hujan naik ke emperan perpustakaan, di saat inilah ketinggian air bergerak dengan sangat cepat. Kami kalang kabut, langsung merapikan meja-meja, oh ya kami berenam. Kami langsung mengevakuasi buku-buku paket siswa ke meja-meja dan kursi baca perpus, jumlahnya ratusan (atau mungkin ribuan?). Kami juga sempat menghalangi air dengan papan supaya tidak masuk ke ruangan, namun air lebih cepat bergerak. Kami membagi tugas, sebagian menghalau air dan sebagian lagi terus mengevakuasi buku-buku tersebut. Well done, ketika air menggenangi seluruh ruangan, kami berhasil menyelamatkan buku-buku tersebut (meski beberapa di antaranya di bagian bawah masih terkena air). Ketika buku sudah aman, kami bersama dengan penjaga sekolah juga langsung mengecek lab komputer, yah seperti yang terlihat di pintu, air masuk. Tak mau ambil resiko dengan banyaknya kabel-kabel, kami langsung mematikan aliran listrik. Kami juga mengecek sekeliling, dan yah apa boleh buat, ikan-ikan yang kami budidayakan sepertinya terbawa arus. Tugas kami belum selesai, kami akan melanjutkannya besok malam, dan kurang lebih setengah tujuh, saya bisa menjejakkan kaki dengan selamat turun dari sepeda, dalam keadaan basah kuyub. Mantel tak terlalu guna untuk badan, but thanks you protect my lovely notebook.

Yaps itulah secuil cerita soal malam Minggu. Senja itu tanpa diduga banjir bandang dan tanah longsor melanda kawasan utara. Yaps 15 desa di Kecamatan Pituruh dan 2 desa di Kecamatan Kemiri memang tak pernah memiliki persiapan untuk tanggap bencana banjir. Bagaimanapun saya masih ingat dulu sewaktu hidup masih putih abu-abu, saya sering bercanda dengan teman-teman dari Kawasan utara. Mereka katakan “Kalau Kaliglagah banjir, Pituruh sudah tenggelam” kemudian diiringi sebuah tawa ringan. Saya pun demikian, tertawa! Karena bagaimanapun juga, daerah mereka jauh lebih tinggi dibandingkan kami yang berada di daratan yang rendah. Logika kami sebagai manusia dengan latah mengamininya, yaps apabila Kaliglagah banjir, maka saya sudah mengapung di atas atap rumah memakai pelampung bebek.

Tapi nyatanya Tuhan memang Maha Sutradara, kita memang hanyalah butiran dari butiran debu di hadapanNya. Kun fayakun, yang terjadi maka terjadilah. Banjir di Pituruh bagian selatan mungkin sudah menjadi sesuatu yang jamak, namun banjir bandang di kawasan utara, mungkin inilah yang membuat bupati Purworejo tak habis pikir. Banjir itu biasanya disebabkan meluapnya air dari tanggul sungai. Namun, musibah banjir yang menerjang wilayah pegunungan ini sangat langka dan baru pertama terjadi di Pituruh. Tak tanggung-tanggung tiga akses jembatan terputus total, satu orang meninggal dunia terkena longsoran, belum lagi kerugian material yang ditaksir mencapai 13 miliar.

Siapa yang akan menyangka dan bersiap? Tak ada. Pituruh menjelma daerah pinggiran kecil, yang dipampang di judul-judul pada laman berita online, tanpa didampingi Purworejo. Siapalah yang mengenal Pituruh sebelumnya? Sampai pada kahirnya berita-berita televisi pun turut meliriknya.

Kami baru saja akan menunaikan salat di masjid sekolah, ketika alat berat dan mobil-mobil tim gabungan dari kabupaten berkonvoi menuju arah utara. Siang makin tinggi dan saya berpulang sambil memikirkan bagaimana menuliskannya dalam sebuah blog. Oh ya saya hampir terlupa, Tuhan tahu bagaimana membuat jalan untuk umatnya, Tuhan tak pernah salah menentukan, kitalah yang harus lebih banyak belajar🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s