Meredupnya Eksistensi Angkot di Pituruh


Kali ini saya ingin mengulas tentang realitas menyakitkan (setidaknya bagi saya) soal Pituruh. Sebagaimana pengguna moda transportasi umum yang lain, saya merasa resah dan gelisah, karena makin hari, keberadaan pilihan transportasi umum di wilayah ini sangat terbatas. Pasang ekspresi frustasi, kemudian teriak-teriak tak jelas “Angkott gue mana, angkoottt mana angkott” teriak Adet sembari garuk-garuk tembok. Hal dilematis semacam ini, setidaknya bukan hanya menjadi buah simalakama bagi saya, melainkan juga bagi penyedia jasa transportasi. Di kecamatan Pituruh, transportasi utama yang bisa kita pilih adalah angkot warna kuning jalur 3, selain itu ada juga andong, becak atau ojek. Yang lain? Entahlah mungkin sedang dirancang Tuhan :3
Sebagai angkoters, keberadaan angkot menjadi cukup vital bagi saya yang sering menjalani mobilitas. Namun, belakangan jam kerja angkot semakin dan semakin berkurang. Ambil contoh, dulu saya masih bisa leha-leha di rumah ketika jam menunjukkan pukul empat sore, lantaran angkot pasti masih ngetem sampai setidaknya jam lima. Sekarang? Jam tiga sore masih leha-leha di rumah saja, itu menjadi sinyalemen bahwa kamu mau tidak mau akan merogoh kocek lebih dalam.
Semakin pendeknya jam kerja para sopir angkot ini juga bukan tanpa pertimbangan dan alasan. Pernah saya berbincang dengan salah satu dari mereka. Mereka menyatakan bahwa menunggu penumpang sampai sore hanya akan rugi bandar, lantaran jumlah penumpang angkot makin hari makin tidak seberapa, sementara mereka harus setor nominal yang sama ke juragan setiap harinya. So, mereka memang tidak bisa disalahkan. Salah satu penyebab utama kebijakan pembatasan jam angkot ini adalah, banyaknya warga desa yang lebih memilih menggunakan motor dibandingkan harus naik angkot.
Let’s see, kalau memang ini menjadi sebuah penyebab, maka tidak bisa dikatakan demikian juga. Kalau angkot makin hari jam kerjanya makin menurun, maka mau tidak mau masyarakat memang harus beralih ke moda transportasi lain guna meningkatkan efektivitas mobilitas mereka. Satu-satunya yang memungkinkan adalah membeli motor. So, sebenarnya keterbatasan angkot ini hanya akan ‘memaksa’ masyarakat untuk bisa tak bisa membeli motor. Karena hanya itulah tumpuan mereka untuk bepergian. Tapi bagi orang-orang yang tak punya motor seperti saya? Hmm…. keberadaannya semakin terdesak *moduss😀 Ya Tuhan bawakanlah saya jet pribadi, yang akan menemani saya jalan-jalan kemanapun saya mau, santai itu atap rumah bisa buat parkir :3
Beralih ke becak atau ojek? Ckckck please kill me baby, dengan sedikit emosional saya pernah membayar becak, karena jarak Pituruh-Klepu, yang biasanya menggunakan motor saya tempuh tak lebih dari lima menit, dikenai tarif lima belas ribu. What the hell. Dan saya harus beralih ke alat transportasi ini? Ckckkc Ohh No No No (ciye Bruno Preteers lagi nyanyi Grenade -_-) mendingan saya jalan kaki dari Klepu ke Pituruh yang jaraknya lebih dari lima kilometer itu.
Menyoal transportasi umum di Pituruh itu memang gampang-gampang susah. Sekelas wilayah Pituruh akan dimasuki integreted mass trasport juga belum cucok, yang ada pemerintah daerah rugi besar-besaran. Sebenarnya masalah kultur dan mentalitas sih, sama sekali tak ada yang bisa disalahkan. Sopir angkot tak salah, masyarakat juga tak salah. Mereka sama-sama mengambil jalan, yang mana kiranya paling menguntungkan. Kira-kira begitu. Tapi seharusnya memang ada solusi alternatif untuk menyelamatkan keberadaan mereka, angkot-angkot itu atau pengguna jasa angkot. Mungkin Pituruh harus bisa menjadi kota besar terlebih dahulu, untuk benar-benar merasakan bahwa transportasi umum itu ada. I wish! *siap-siap bikin transformer, jadi kalau mau kemana-mana naik transformer aja -_- Pengguna jalan lain gak mau minggir, langsung deh bom atau injek :3 *arogansi angkoters yang terbuang :v :v

Pituruh, 0:41 18 Okt 2014

73237171

3 responses to “Meredupnya Eksistensi Angkot di Pituruh

  1. Betul,kalau dulu mau naik angkot ke arah Kutoarjo kalau nggak ke pasar Pituruh dulu saya yang berada di Blending pasti harus siap naik di pintu.Waktu itu penumpang masih banyak dan jam operasi mereka juga sampai jam 5 sore.Tapi sekarang seperti cerita di atas.Tapi hal tersebut tidak hanya terjadi di Pituruh.Di kampung istri saya (Ponjong,GN.Kidul,DIY) juga terjadi hal demikian.Angkot hanya rame jika hari pasaran.Padahal jaman dulu kata istri saya kalau naik angkot sampai berdiri (minibus).Penumpang beralih ke motor pribadi yg lebih ekonomis.Di sisi lain rakyat yang tak mampu memiliki motor jadi susah…Dilema…

  2. Biarpun sudah banyak ditinggalkan, angkot tetaplah dibutuhkan. Contohnya kalau seorang karyawan, motornya sedang mogok, apakah dia lalu nggak berangkat kerja? Nggak mungkin kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s