Menyoal Pernikahan Rafi dan Gigi


Raffi Naggita

Disiarkannya pernikahan Rafi dan Gigi secara live, menuai banyaks ekali pro kontra. Ada yang menganggap itu hal yang wajar dan entertaining, ada pula yang justru menilai bahwa tayangan tersebut terlalu berlebihan. Well, saya akan menjadi orang yang berada di tengah-tengah antara setuju dan tidak setuju.
Btw kabarnya menurut gosipa gosipi, pernikahan ini banyak banget sponsornya ya? Duh jadi pengen deh nikahan disponsorin wkwkwk… ayo ayo siapa yang mau nyeponsorin? *cari calonnya aja belom :3 Oke saya tak akan membahas panjang lebar soal masuknya sponsor di sebuah acara pernikahan seorang artis, sudahlah biar itu urusan rumah tangga mereka. Kita akan fokus menyoroti peran media dalam pernikahan ini saja.
Pertama, saya setuju dengan adanya acara ini. Bagaimana pun acara semacam ini bagus, apalagi bila dikemas dengan kemasan tradisional, yang mana masyarakat Indonesia juga semakin tahu budayanya, terutama terkait adat istiadat pernikahan. Tayangan pernikahan seorang selebritis, bisa jadi ajang promosi wisata gratis lho, bila dikemas dengan menarik dan terkonsep. Contohnya saja Royal Wedding keluarga Sri Sultan Hamengkubuwono X beberapa tahun silam. Pernah saya berbincang dengan adik angkatan saya di jurusan Seni Tari. Dia mengatakan bahwa semakin ke sini, konsep pernikahan di Indonesia semakin tidak ritualis dan minimalis. Mereka hanya memiliki kepentingan atas ijab dan qobul, lalu duduk seharian di kursi pengantin. Cukup. Sudah banyak masyarakat di pedesaan yang meninggalkan tata cara dan alur-alur tradisional rangkaian upacara pernikahan. Saya bahkan berani bertaruh, anak sekarang tidak akan paham urutan-urutan ritus pernikahan yang suci ala adat Jawa misalnya. Saya sendiri sedikit tahu mulai dari awal pengantin melakukan ijab obul, lantas kedua belah pihak pengantin tersebut dipertemukan dengan diiringi oleh putri domas dan manggala yudha serta dipimpin oleh seorang cucuk lampah. Kalau sudah dipertemukan mereka akan saling berlempar sirih, memandikan kaki masing-masing pasangan, ditaburi beras, harus melangkahi sesuatu, kemudian ada sungkeman, saling menyuapi, dan biasanya pengantin akan ganti busana selama beberapa kali dalam satu hari tersebut. Setidaknya itu yang saya amati selama dua kali bertugassebagai manggala yudha  Kesetujuan saya lebih karena pengenalan kultural dan prosesi pernikahan yang menarik.
Kedua, saya tidak setuju dengan adanya acara ini. Setidaknya kita tahu bahwa dua stasiun televisi mencoba untuk membeli hak siar eklusif pernikahan Rafi dan Gigi. Kedua stasiun televisi tersebut yaitu Trans dan RCTI. Ketidaksetujuan saya lebih terletak pada bagaimana kedua televisi tersebut mengemas dan memprioritaskan acara. Masalah hak eklusif itu urusan pihak stasiun televisi dan orang yang nikah ya, toh mereka sama-sama diuntungkan. Pihak stasiun televisi dapat rating, sedangkan si pengantin mungkin dapat uang yang tidak sedikit. Permasalahannya adalah konon kabarnya, prosesi pernikahan tersebut disiarkan secara maraton dan LIVE. Come on, betapa banyak permasalahan negeri ini dan pernikahan seorang selebritis ternyata lebih sedemikian pentingnya dibandingkan berbagai sengkarut yang ada. Ckckck perasaan anak presiden menikah saja tak heboh semacam ini? Dan itu LIVE, bayangkan apakah orang Inonesia memang sebegitu ingin tahunya pernikahan Rafi dan Gigi? Memang animo masyarakat cukup besar, tapi sebuah media paling tidak memiliki prioritas yang jelas, terlepas dari unsur komersial yang kemudian menjadi suguhan utama.
Terkait hal tersebut saya sebenarnya justru memiliki pemikiran yang kiranya bisa jadi sumbangsih bagi pemilik stasiun televisi. Pertama kalau emang ingin mengejar untung, media bisa saja memberikan beberapa sneak peek ketika acara, boom pemberitaan dengan sebuah editorial yang seolah-olah acara ini spektakuler. Dengan itu, penikmat acara akan semakin penasaran seperti apa sih acara pernikahan heboh itu. Biarlah tak ada LIVE LIVE an, biarlah media lain krik krik tak bisa mengabarkan berita apapun (kan katanya eklusif cuman buat dua media tersebut?). Nah baru beberapa hari berikutnya, media menayangkan prosesi yang sudah dibuat alur dan versi editnya. Dibuat seartistik mungkin seperti sebuah film. Jadi orang nonton pun juga speerti nonton film, ada cerita di dalamnya, nggak cuman orang mondar mandir pringas pringis aja dishoot (nah kalau live kan mau gak mau gitu, mau penting gak penting yang penting hajar aja hayuukk). Dijamin deh, ratingnya pasti tinggi, karena masyarakat akan penasaran pasca membaca pemberitaan. Mereka pasti memburu bentuk visualisasinya. Konon keep secret dan bikin penasaran orang lain itu untungnya gede lho😀.
Alasan ini juga untuk menjaga sakralitas sebuah pernikahan. Yang namanya orang nikah itu kan bukan reality show, jadi ya sudahlah biarkan mereka menikah dengan kesuciannya. Entah mengapa acara live terhadap pernikahan bagi saya mengurangi kesyahduan biduk pelaminan. Halaah… pernikahan itu adalah hal yang intim, bukan konsumsi publik tiap detail acaranya disaksikan oleh jutaan pasang mata. Well, oke lah beberapa prosesi memang boleh ditunjukkan, tapi tidak terus semua prosesi mendapatkan eklusivitasannya di prime time. Sampai-sampai ada seloroh mengatakan “Waah ini malam pertamanya Rafi dan Gigi udah diambil hak siarnya eklusif secara live belum nih ama Trans?” Nah lho. Please masyarakat kita tidak bisa disuguhi sesuatu yang terlalu over, seharian penuh lihat prosesi nikahan orang, lihat orang lalu lalang, gak capek? Media perlu mengemasnya menjadi lebih cantik dan menarik 
Kira-kira ocehan saya yang nggak penting ini cukup sampai di sini dulu. Selamat deh buat Rafi dan Gigi smeoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Eh btw saya besok kalau ada event organizer mau bikinin konsep gitu, boleh lho jadi sponsor dan mengemas pernikahan saya layaknya karnaval dan event budaya. Haha kan biar menarik gitu? Ayo-ayo sini sponsor pada dateng, haha media mana nih yang mau beli hak siaran eklusif nya secara live? Hayuukk dan tinggal hajaar aja😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s