#BringBackOurPeculiarity (Menyoal Fenomena Klitih Pelajar)


Klitih

Semua orang sepertinya setuju jika Yogyakarta memang sebuah kota yang istimewa. Setidaknya, hal ini saya rasakan ketika awal-awal kuliah. Jogja dengan kemurahan harga makanannya, budayanya, pendidikannya, masyarakatnya, hiburannya, tempat-tempat eksotisnya, sampai pada cinta-cinta yang tumbuh di dalamnya. Suit suit… Sampai beberapa bulan lalu di twitter komunitas Jogja, seseorang mengenalkan kepada saya sebuah istilah yang baru. Klitih. Waktu itu, saya tak pernah memahami apa makna klitih yang sebenarnya, sampai salah satu pengguna lini masa mereply sebuah jawaban yang menjelaskan bahwa secara umum, klitih adalah main. Namun, kemudian dia memberikan tambahan penjelasan bahwa makna klitih secara lebih sempit adalah perilaku remaja bersekolah yang suka menghadang orang dengan tujuan memalak atau melakukan kekerasan. Kekerasan biasanya hanya dilakukan terhadap siswa dari sekolah yang mereka anggap musuh (baca: ada fanatisme yang membawa nama sekolah di situ). Seperti yang kita ketahui, bahwa pada perkembangannya, geng remaja memiliki krakteristik yang menjurus pada identitas almamater, maka tak heran kalau di beberapa daerah bisa ditandai, jika sekolah ini pasti sering tawuran dengan sekolah B, atau sekolah C sering terlibat bentrok dengan sekolah D. Fine, sampai sejauh itu, saya hanya menambahkan kata klitih sebagai vocabulary yang memperkaya wawasan saya tentang bahasa yang orang Jogja gunakan.

Namun tiba-tiba kata klitih itu menyerbu beberapa hari yang lalu. Ya, kata itu muncul lagi namun dengan suasana yang berbeda. Setiap orang yang tinggal di Jogja, yang tadinya tak mengenal kata-kata itu, mungkin belakangan menjadi tahu atau paling tidak mencoba untuk mencari tahu. Maklum, belakangan beberapa kekerasan yang menjurus ke arah klitih sempat meresahkan masyarakat. Sekian orang, yang tak tahu dosanya di mana, salahnya di mana, tiba-tiba harus menghadapi sabetan parang atau bacokan pisau di jalanan. Kabarnya ada korban meninggal dari insiden ini. Sebenarnya yang menjadi ironis pada kasus ini adalah status pelaku, yang sebagian besar masih pelajar. Apa? Pelajar? Ya! Saya pun hanya bisa menggelengkan kepala prihatin. Kebanyakan pelaku adalah pelajar SMA.

Kerisauan masyarakat semakin meningkat, seiring bergulirnya isu pesan berantai yang berkembang melalui BlackBerry Messenger. Berikut bunyi pesan berantai tersebut “Hati-hati sudah mulai memanas situasi di Yogyakarta saat ini! Mungkin kalian sudah pernah mendengar nama salah satu organisasi Raden Kian Santang (RKS) sebelumnya? Yaitu sekumpulan grup pemuda dari luar kota yang mencoba merusak/menghancurkan generasi anak muda kalangan SMP dan SMA dan merekrut remaja yang sedang mencari jati diri. Organisasi ini diketuai oleh salah seorang pria dewasa yang berpengaruh dan mempunyai ilmu hitam/kekebalan tubuh. Organisasi ini sudah tersebar dan merajalela di area Yogyakarta tepatnya di daerah Sleman Barat dan Utara. Beberapa kasus terjadi di daerah Jl. Godean dan sering tindakan penganiayaan menggunakan senjata tajam pada saat malam hari yang situasi jalanan saat sepi /lengang. Jadi saran dari kepolisian setempat agar lebih berhati-hati jika keluar malam saat ini. Lebih waspada dan jaga diri di setiap situasi karena anggota dari RKS ini tidak pandang bulu serta tidak memilih target untuk dianiaya.

Konon berdasarkan konfirmasi dari Kabid Humas Polda DIY, AKBP Anny Pudjiastuti  yang dilansir dari Merdeka.com, 16 Oktober 2014, isu tersebut tidak benar. Intinya masyarakat diharapkan tenang dan beraktivitas seperti biasa, karena Polda DIY beserta jajarannya akan menjamin keamanan di wilayah hukum Polda DIY. Simplenya, kalau memang pihak kepolisian bisa menjamin keamanan, pasti dengan sendirinya masyarakat akan merasa tenang dan aman. Nyatanya, aksi ini terus berlanjut. Sebenarnya, bukan hanya isu yang disebar via BBM saja yang membuat masyarakat resah, mereka justru resah karena melihat realita di lapangan mengenai aksi-aksi tersebut. Mau kita akui atau tidak, jika pihak yang berwenang tidak mampu menghandle hal ini, tentu juga akan berpengaruh terhadap citra Jogja secara keseluruhan. Terlebih isu ini sudah disangkutpautkan dengan aliran hitam, yang mana seolah-olah pelaku melakukan semua itu di luar kesadaran (setidaknya ini yang diyakini benar oleh teman kost saya dan sebagian pedagang di lingkungan kampus saya). Memang tidak mudah untuk menangani pola gengster remaja, bahkan kabarnya Disdikpora pun belum berencana untuk memberikan sanksi kepada pelajar-pelajar yang terlibat. Mungkin mereka gamang dan serba salah atau mungkin takut! Tapi kembali lagi, bahwa anak dengan kenakalan semacam ini harus dididik secara tepat, bagaimana pun ulah mereka sudah mengancam nyawa orang lain! Tindakan ini masuk kriminalitas dan pelanggaran tingkat berat. Mungkin Disdikpora, sekolah, sert orang tua perlu membangun sinergi yang lebih erat, khususnya untuk mengantisipasi hal-hal semacam ini.

Buat para pelajar yang terlibat, please, silahkan berhenti dan kembali pada track record yang benar. Apa motifnya melakukan semua itu? Iseng? Ckckck… sadar nggak, kalau kalian bermain-main dengan nyawa? Percaya hukum karma? Saya dengar dari cerita teman, bahwa seorang pelaku mengakui nekad melakukan itu sebagai wujud keberanian karena diprovokatori oleh kakak angkatan mereka (entah, mungkin mereka dibilang pengecut karena tidak berani melakukan kenakalan sebagaimana yang kakak kelas mereka lakukan dulu). Kalau memang ingin unjuk keberanian dan melakukan hal sensasional, gampang saja, tak perlu merugikan orang lain, kalian bisa hijrah ke Gaza, atau mengikatkan diri di rel kereta api sambil menunggu kereta lewat di atas tubuh kalian, kalau kalian bisa selamat dari maut makacibirlah kakak kelas kalian dan ganti tantang mereka untuk melakukan hal yang sama! Moral valuenya adalah, silahkan nakal selama itu tidak merugikan orang lain (meskipun kita juga seharusnya tak perlu merugikan diri sendiri untuk menebus kenakalan kita).

Oke,  intinya sebagai orang yang pernah tinggal lebih dari empat tahun di Jogja, saya sangat berharap Jogja tetap dengan keistimewaannya, sebagai kota yang damai, aman, nyaman, ramah, santun, dan berpendidikan. Jangan sampai ulah beberapa oknum yang tinggal di dalamnya membuat Jogja menjadi tercoreng. Yang peduli dengan Jogja pasti setuju dengan pernyataan ini, #BringBackOurPeculiarity

Pituruh, 11:52 19 Okt 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s