When September End (September Wish)


cengar cengir dulu biar gak stress

cengar cengir dulu biar gak stress

Tak terasa waktu begitu cepat, sangat cepat bahkan. Aku masih sangat ingat, tahun kemarin ketika bulan September aku juga menuliskan catatan harian tak jelas. Kubuka lagi blog ku. Hahaha hanya ada satu tulisan kubuat, judulnya Cowok Pemakan Mie Remes. Itu cerita sangat epic. Betapa dulu segala sesuatunya belum seberat sekarangšŸ˜€

Ini aku kembali lagi pada September yang lain, September yang berbeda, tahun yang berbeda. Dulu aku tak terlalu banyak berharap, tapi sekarang mau tak mau aku membangun harapan, bukan sekedar untukku sendiri, namun untuk orang-orang yang pada akhirnya akan berkepentingan denganku.

Ini masa-masa pengerjaan skripsi, aku tak begitu peduli beberapa tahun lalu mengolok mereka yang tak kunjung selesai dengan tugas akhirnya. Haha… aku kejam, mungkin sekarang karma. Tapi sebenarnya kami berbeda, dulu dia atau mereka memang tak niat membuatnya, wajar jika konsekuensinya skripsi mereka alang kepalang. Sedangkan aku? aku masih menunggu bagaimana dosen pembimbing akan berbaik hati memberikan ACC ujian. Pasti indah jika itu terjadi awal atau maksimal pertengahan September ini. Aku sudah memulainya awal tahun ini, betapa sudah begitu lama, 8 bulan. Aku bahkan manergetkan bisa wisuda Agustus kemarin dengan segela bentuk rencana (yang pada akhirnya hancur berantakan). Aku sekarang dengan senang hati membangun rencana baru.

ā€œOke sekarang kamu ACCā€ pasti akan indah jika aku segera mendengarnya dari dosen pembimbing tercinta. Aku akan segera ujian, setelah sekian lama menunggu, setelah sekian lama mendapatkan ebgitu banyak janji. Ujian akhir Juli, diundur menjadi ujian awal Agustus dengan senang hati aku terima, kemudian diundur sampai September sekarang. Semoga ini menjadi yang terakhir. I wish this journey end in September. Betapa bahagianya pergulatanku kalau skripsi murni setebal 120 halaman dan 36 daftar pustaka itu mendapatkan penghormatannya untuk dipresentasikan kepada empat dewan penguji. Ahh… when September end.

Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Aku sudah membuat disposisi atas beasiswaku sampai akhir semester ini, kalau tidak, semester depan aku terancam harus membayar 2,4 juta karena SPP sudah memasuki uang kuliah tunggal (UKT). Entah mengapa saya selalu merasa sedih mengingat semua itu. Ada banyak cerita yang aku lalui sampai sejauh ini, ada banyak tantangan (dan aku percaya setiap skripsiers pasti memiliki tantangannya masing-masing). Jadi, tak terlalu berlebihan jika aku berharap pada Tuhan, bahwa aku akan ujian bulan ini, setidaknya pertengahan atau akhir bulan.

Aku bukannya benci dengan skripsi, aku bukannya benci dengan dosen pembimbing, aku hanya benci menyadari bahwa semua ini akan sangat berat ketika tidak kuselesaikan semester ini. Sejujurnya aku mencintai skripsi, karena darinya ada begitu banyak pelajaran dan ilmu baru yang kuperoleh. Aku mengetahui sesuatu yang benar-benar baru, yang selama ini hanya mengisi rak-rak bukuku (setiap mahasiswa pasti tahu habitusnya, dia hanya akan memfotocopy sebuah buku ketika dosen benar-benar memintanya, kemudian mereka akan berjamaah menggandakan. Buku itu akan memenuhi ruangannya, namun hanya sekedar sebagai pajanganšŸ˜€ ). Aku menikmati setiap proses ini dan merasa menjadi sebegitu luar biasa. Aku tak membenci dosen pembimbingku yang begitu lama dengan setiap koreksiannya. Tidak. Aku tidak membenci soal itu. Aku tahu setiap orang memiliki kesibukan. Aku banyak mencuri ilmu darinya, belajar banyak hal, dan benar-benar menjadi orang yang mau belajar (belajar untuk apapun, termasuk belajar bersabar *halah). Aku juga menyukai gaya bimbingannya yang detail, sampai pada titik koma dan typo-typo kecil yang sering kubuat. Sampai kadang membuat teman-temanku iri, aku diperhatikan sebegitu menyeluruh.

Sekali lagi aku hanya membenci deadline, aku membenci banyak konsekuensi yang akan mengimbas ketika aku tidak lulus semester ini. Pernah aku berpikir, bahwa soal ujian, aku bahkan rela untuk mendapatkan nilai tidak A, asalkan aku bisa ujian sesegera mungkin. Aku sama sekali bukan tak ingin berproses, tapi aku tak bisa begitu saja menerima konsekuensi yang terjadi bukan karena kesalahanku. Terlebih konsekuensi itu lebih ke arah konsekuensi yang menghantam ekonomi, jujur, aku tak siap. Kalau saja boleh memohon, aku ingin memohon disegerakan ujian, tak perlu mempertimbangkan perasaanku, apakah perasaanku baik-baik saja selama ini. Itu tak perlu, sebab aku sudah biasa diabaikan orang. Namun paling tidak beri aku tiket ujian dengan pertimbangan kondisi keluargaku. Tak mudah hidup biasa, dengan seorang adik yang kost dan makan uang di bangku STM, ayah yang mulai menua dan beberapa kali sakit. Ahhh…. aku juga berpikir, karena aku adalah anak sulung. Itā€™s simple. Soal skripsi, aku bukannya tak berusaha. Seringkali aku baru bisa tidur pagi karena melembur. Di saat mahasiswa lain hanya berkutat dengan beberapa buku, aku harus menyelami sekitar 36 referensi yang mayoritas berbahasa Inggris. Sengaja tak kuterjemahkan lewat orang lain, karena aku mau banyak belajar. Soal keadaanku, aku lebih dilematis lagi, aku tak mampu mengerjakan apapun, sementara aku masih harus bolak-nalik Jogjakarta untuk bimbingan. Mau kerja juga tak bisa fokus. Alhasil aku hanya jadi seorang pengangguran sampai menunggu kebaikan hati dosen.

So September sudah datang, aku tak punya banyak waktu. Oktober akhir aku sudah harus yudisium untuk bisa menjalani prosesi wisuda pada awal Desember mendatang. Oke aku tak mau mengatakan apapun, aku tahu Tuhan tahu usaha setiap hambaNya, aku tahu Beliau punya begitu banyak skenario yang ajaib. Semoga sedikit harapanku di bulan ini bisa terwujud Amin. Perjalanan ini sudah terlalu lama, panjang, dan tidak mudah, aku ingin jika masanya tiba, aku mengatakan dengan senyum, When September End. Semptember berbaik hatilah kamu, pada manusia kecil yang malang ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s