Orang-Orang yang Mati karena Skripsi


kalau yang ini ditemukan jamuran -_-

kalau yang ini ditemukan jamuran -_-

Saya masih sangat mengingat beberapa ceceran koran yang sempat terbaca. Mahasiswi salah satu universitas di bilangan Semarang memilih gantung diri daripada menyelesaikan skripsinya yang tak kunjung selesai. Di lain waktu, saya juga membaca laman berita, tentang seorang mahasiswa yang memilih menenggak racun serangga daripada menuntaskan skripsinya. Apakah skripsi semenakutkan itu? Tidak ada yang buruk dari skripsi, dnegan skripsi kita akan bergelut dengan banyak literatur dan itu menyenangkan.

Bagi mahasiswa tingkat akhir, skripsi menjadi dilema tersendiri. Sekali lagi, kadang bukan karena skripsinya, melainkan karena faktor-faktor lain yang terlibat di dalamnya. Sepertinya, kampus saya tak perlu sampai membaca berita, salah satu mahasiswanya ditemukan menenggak Mama Lemon karena stress, hanya untuk belajar, bagaimana mensinergikan setiap kebijakan secara bijak. #semoga saya masih diberikan kewarasan oleh Tuhan.

Kasus-kasus macam di atas, seharusnya tidak perlu terjadi, kalau ada komunikasi yang baik dan arif dari pihak kampus. Sebagai contoh kasus, pukulan telak saya rasakan, ketika meminta disposisi keringanan beasiswa beberapa waktu lalu. Saya ditanya, mengapa saya sampai terlambat lulus, maka dengan sedikit curhat saya menceritakan semuanya secara jujur. Alih-alih mendapatkan solusi atas setiap permasalahan yang saya hadapi, saya justru mendapatkan wanti-wanti “Kamu Oktober sudah harus yudisium lho ya! Klaau tidak nanti menanggung konsekuensinya.”

Itukah solusi? Saya memang sangat berterima kasih kepada kampus, karena di tengah kecemasan kami penerima beasiswa, kampus masih memberikan keleluasaan satu semester lagi sebagai perpanjangan dari waktu yang ditentukan, empat tahun. Tapi solusi instan tersebut setidaknya memberikan dua dampak negatif. Pertama akan memberikan preseden buruk, bahwa setelah itu kampus akan cuci tangan, karena mereka sudah memberikan disposisi plus-plus yang menurut mereka sudah sangat arif, bijak, dan longgar. Kedua, solusi instan semacam ini tidak memberikan pembelajaran yang baik, entah untuk mahasiswa, birokrat, maupun orang-orang yang bersinggungan langsung terhadap kelulusan mahasiswa.

Kampus seharusnya lebih memainkan peranannya dengan cerdas dan langsung ke pokok permasalahan. Sepanjang apapun kampus memberikan kelonggaran terhadap kelulusan mahasiswanya, itu tidak akan terlalu berpengaruh, ketika permasalahan utama tidak benar-benar diselesaikan. Permasalahan utamanya apa? Selidiki lah! Apa gunanya kampus, kalau tidak bisa menggunakan kewenangan dan kekuasaannya? Kalau memang permasalahan ada pada mahasiswa, jangan segan-segan untuk dethroned mahasiswa tersebut dari kampus, biar mereka mendapatkan pembelajaran untuk bersikap disiplin dan tanggung jawab. Sebaliknya, kalau memang yang bermasalah adalah dosen pembimbing, maka ambil saja lisensinya sebagai dosen pembimbing. Tapi sejauh mana kampus-kampus memiliki keberanian untuk melakukan hal tersebut? Sekalipun, baik mahasiswa maupun dosen yang bersangkutan telah menghambat tujuan kampus untuk mempercepat kelulusan mahasiswa-mahasiswanya.

Untuk membuka mata pengambil kebijakan, tak perlu ada korban untuk kampus ini kan? Selama ini kampus hanya mengonfirmasi satu pihak. Siapa lagi kalau bukan mahasiswa? Dan semua mahasiswa itu levelnya sama, they are no power. Kalau kampus menuntut seorang mahasiswa, seberapa berpengaruh sih usaha mahasiswa ketika masalah bukan pada mahasiswa? Inilah yang kemudian memunculkan postulat, mahasiswa selalu salah, kalau mahasiswa benar, mungkin yang salah adalah cara pandangnya. Kebenaran hanya milik mereka yang memiliki kekuasaan. That’s right?

Membincang seputar mahasiswa dan pembimbing, maka kita akan membincang sebuah hubungan. Selama ini seberapa persen dosen pembimbing yang memiliki hubungan personal dengan mahasiswa (baca: hubungan yang terkait dengan informasi personal mahasiswa). Mungkin secara akademis mereka memiliki kedekatan, tapi tentu hanya sedikit dosen pembimbing yang mengetahui latar belakang keluarga, problematika mahasiswa, kondisi psikologis, atau riwayat mahasiswa. Padahal, hal-hal di luar akademis adalah aspek penting dari kehidupan mahasiswa. Apakah mahasiswa memiliki kendala di dalam keluarganya? Apa mahasiswa memiliki problematika di luar dunia akademis? Apa mahasiswa memiliki masalah psikologis? Seberapa banyak dosen yang mampu memahami mahasiswa sedalam itu?

Selama ini disadari atau tidak, diakui atau tidak, dunia kampus membangun konstruksi yang eklusif. Ada sekat antara dunia kampus dan dunia di luar kampus. Maka tak heran, kalau kemudian orang-orang kampus tak peduli dengan apa yang terjadi dengan mahasiswanya di luar kampus? Mereka memberikan tuntutan akademis, yang terkadang menafikkan hal-hal di luar itu. Kalau kita memposisikan diri sebagai mahasiswa, maka mereka seakan menjadi dua manusia yang lain, sebagai mahasiswa di lingkungan kampus dan sebagai seorang anak di lingkungan keluarga. Di lingkungan kampus mereka memiliki berbagai kewajiban akademis yang harus dijalankan, namun di lingkungan keluarga dia tetaplah sebagai seorang anak yang memiliki kewajiban dan perasaan terhadap keluarganya. Pernah tidak orang-orang di kampus memikirkan bagaimana sebuah keluarga harus menafikkan hal-hal lain, hanya untuk membayar kebutuhan-kebutuhan kuliah? Pernah tidak orang-orang di kampus memikirkan bagaimana orang tua mengorbankan banyak hal, untuk sementara kuliah sang anak menjadi prioritas? Tak usah protes jika kamu lulus lama. I don’t care! So what? Dan mereka kemudian melupakan faktor ekonomi yang pada beberapa kesempatan menjadi hal krusial bagi mahasiswa tertentu. Bukankah lama tidaknya seseorang lulus juga memiliki batas kewajarannya? Wajar tidak mahasiswa ini lulus lama? Wajar tidak pengerjaan skripsi sekian bulan? Apakah dunia akademis menjelma sedemikian egois, sampai tak peduli dengan hal-hal lain? Saya percaya di antara dosen-dosen itu masih ada yang berhati, namun itu lebih berkaitan dengan hubungan personal mahasiswa kepada sang dosen, sehingga mereka tidak segan untuk curhat. Tapi pendekatan personal sebagai suatu langkah massif institusional, pernah tidak diberlakukan?

Bukankah sudah seharusnya pendidikan sebagai pengurai problematika hidup dan bukan sebaliknya? Lantas bagaimana mungkin pendidikan mampu menjadi problem solving, ketika pendidikan enggan menjamah dan bersinergi dengan kehidupan personal orang-orang di dalamnya. Sudah saatnya membangun kesadaran yang sama, mahasiswa menciptakan hubungan yang kooperatif, begitu pun sebaliknya. Mahasiswa memiliki spirit untuk mencapai tujuan bersama, begitu pun sebaliknya. Bukankah pencapaian yang besar, hanya mampu dilahirkan oleh mereka-mereka yang mampu menyalingkan diri? Slaing bekerja sama, saling memahami, saling mengerti, dan saling menghargai satu sama lain. Sekali lagi, setiap penantian memiliki batas kewajaran, setiap permakluman juga memiliki porsinya sendiri. Kampus ini tak perlu berita miris dari mahasiswanya, hanya untuk membangun kesadaran komunal. HIDUP PARA PEJUANG SKRIPSI..!! Setidaknya kalian masih berjuang dan tidak menambah panjang deretan nama orang-orang yang mati karena skripsi dan sia-sia. Tabahlah kalian, tabahlah kita!

 

Pituruh, 4 September 2014 19:25

2 responses to “Orang-Orang yang Mati karena Skripsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s