Good Bye, Jogja


penampakan barang pasca sampai rumah

penampakan barang pasca sampai rumah

Mobil terus menjauh, rasa-rasanya aku masih mengingat semuanya dengan jelas dan pasti. Gemerlap kota Jogja mulai terang. Di salah satu gang daerah Samirono, sopir menghentikan mobil, nampaknya beliau menaikkan anaknya yang dia ajak ikut serta. Kami mengobrol, naaknya ternyata duduk di kelas XI SMK ambil otomotif, anehnya dia tak bisa menyopir. Konon, kata bapaknya dia tak mau belajar. Aku hanya mengulum senyum.

Di lain kesempatan, sang bapak asyik bercerita soal pengalamannya hari itu, 10 Agustus 2014. Mengantarkan 15 anak ke Pantai Indrayanti dan tersesat jauh nyaris satu jam, dari rute yang seharusnya ditempuh. Dia hanya tertawa, padahal sebelumnya menceritakan kerugian bensin dan lain-lain. Sementara itu, anaknya sesekali mengaduh kesakitan karena kakinya yang terkena koral laut.

Mobil ini terus menjauh, jalanan mulai lengang. Sopir memilih jalur alternatif yang sepi dan menerabas. Sepanjang jalan hanya ada pohon dan persawahan. Jauh lebih cepat dari yang biasa kutempuh jika ingin pulang. Rembulan kuning sedikit aranye bersinar penuh di langit sisi timur. Aku jadi teringat perjalanan Raditya Dika di Australia yang menghabiskan malam-malam di bus. Semua kenangan datang menyerbu. Aku terus mengamati bulan itu dan tak melepas pandangan sedikit pun. Kalau saya aku membawa gadget yang portabel, bisa digunakan untuk mengetik, tentu malam ini aku akan hujan dengan ide-ide. Betapa bulan begitu menenangkan sekaligus menyedihkan, jika mengingat perjalanan setelah ini. Jogja.

Kami terus membelah jalanan, mobil tak bisa berlari cepat, hanya mampu merangkak, karena truk-truk besar dari Sentolo sampai Purworejo memenuhi jalanan. Aku tak ingat mengapa sedemikian cepat truk-truk besar itu ramai lalu lalang. Aku hanya mampu berpikir, bahwa derap ekonomi negeri ini makin terasa, peti kemas dari berbagai perusahaan tumpah ruah, mengingatkanku pada perjalanan Jogja-Semarang. Mobil sekali mengerem mendadak, sebelum memasuki kawasan Kabupaten Purworejo. Sopir sempat memaki sekali, kemudian mengeluhkan pengguna jalan yang tidak memperhatikan keselamatan pengguna jalan lain. Dia juga berkali-kali memberikan instruksi pada anaknya, bagaimana cara supaya meminta jalan, bagaimana untuk mengedarkan pandangan tentang objek di depan, bagaimana memberikan instruksi untuk lebih pelan dan macam-macam. Aku tersenyum, manusia berdua ini cukup kompak, bahkan ketika kitamelihat perbedaan usia mereka sekalipun.

Mobil melambat saat memasuki jalur Klepu berbelok ke utara, jalanan mulus, baru saja selesai diperbaiki. Sekali dua, mobil terhentak sedikit keras, lantaran sopir tak tahu medan. Pinggiran jalan tidak datar dengan badan jalan. Hampir setengah 10 kami sampai di rumah. Mereka dan juga aku antusias menurunkan barang. Mereka antusias karena sudah sampai, aku sendiri antusias karena pada akhirnya hal ini terjadi juga. Sopir dan anaknya menolak tawaran kami untuk singgah sebentar, padahal kami sudah siapkan teh hangat. Aku tahu mereka lelah. Namun, karena alasan anaknya yang akan sekolah, besok ada carteran lagi, sampai perjalanan yang tak ingin tiba larut di Jogja. Aku mahfum. Kuambil delapan lembar lima puluh ribuan, mulus. Beberapa hari sebelumnya, aku baru menguras rekening. Sengaja kulebihkan lima puluh ribu dari hasil perjanjian kami di awal, yaitu tiga ratus lima puluh ribu. Aku tahu seperti apa apesnya dia hari ini, aku tahu sebagaimana melelahkannya perjalanan ini, aku tahu akan sampai selarut apa pula dia nanti.

Selmat tinggal, Jogja, akhirnya kau hanya akan kusinggahi ketika aku terpaksa. Malam itu, ada sesuatu yang menyakitkan kurasakan, kenangan-kenangan. Aku tertidur di kasur busa yang kubawa dari Jogja, enggan melepaskan nuansa kost. Buku-buku masih kubiarkan tetap dalam kardus-kardusnya, begitupun baju dan barang-barang lain. Aku benar-benar sangat lelah. Malam makin larut dan pikiranku masih juga memikirkan kamar, itu, kamar yang sudah empat tahun aku huni…

 

Pituruh, 22 Agustus 2014 0:14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s