My Love, Karangmalang A5


ini habis beberes

ini habis beberes

Beberapa hari yang lalu saya masih disibukkan dengan menata buku-buku ke dalam kardus, saya masih disibukkan dengan menata barang-barang untuk nantinya diangkut, saya masih sibuk untuk membereskan kamar. Antara senang karena sebentar lagi saya terbebas dari hidup sendiri, namun sekaligus merasa sangat-sangat terluka. Entahlah sesuatu membuat saya merasa sedih. Karangmalang Blok A/5, saya masih ingat dulu masuk sekitar bulan Juli 2010. Di sanalah awal saya mendapatkan teman-teman, bercerita banyak soal idealisme dan masa depan, bertemu dengan orang-orang yang sekarang sudah menggapai kesuksesannya masing-masing, tertawa bersama, dan bersedih.

            Di lantai 2, kamar paling pojok utara sebelah timur, bersebelahan dengan kamar mandi. Di sanalah 4 tahun saya bersemayam. Saya masih ingat, awal masuk kuliah dulu, saya belum memiliki apapun, hanya ada kasur tempe yang menggeol ketika kita bergerak di atasnya, lalu ada meja belajar, satu-satunya barang yang pantas di kamar ini. Saya juga ingat ada satu kardus, itulah tempat saya menaruh pakaian. Buku-buku ada di atas meja. Hanya itu. Saya pernah bertahan dari banjir dengan menyebar buletin sisa sebagai resapan air, saya juga menggulung kasur, kemudian meringkuk di pojok kamar, di atas gulungan kasur sambil tertidur. Saya selalu menunggu teman-teman tertidur, ketika saya membutuhkan waktu untuk mengerjakan tugas. Saya belum memiliki laptop. Awalnya ada komputer Kreativa, lengkap dengan modemnya, namun itu komputer memang benar-benar memprihatinkan seringkali rusak. Ah Kreativa, organisasi itu dulu, sebelum benar-benar dihancurkan, dipindah dan dibuat gedung baru, base camp nya ada di seberang jalan dari kost agak ke timur utara sedikit. Kelas saya juga hanya ada di seberang jalan, jadi saya hanya melintasi pagar kampus untuk sampai ke kelas, dulu pagar belum diperumit, Bapak kost masih memelihara kambing di sana.

            Tahun kedua saya mulai berpikir realistis, teman-teman sudah pindah, saya masih ingat yang bertahan kala itu hanya saya, Arya, dan Deby (Administrasi Negara, lulusan tercepat angkatan 2010). Mas Rizky (Matematik) tetangga kost pindah dan menjual almarinya, Saya menyanggupi, saya butuh, pakaian ini tak bisa selamanya berada di kardus. Saya juga butuh kasur, maka pada tahun ini saya membeli kasur busa, lengkap dengan bantalnya. Saya juga mulai menyisihkan uang untuk membeli dua rak buku. Selain itu, untuk menunjang kegiatan perkuliahan, saya akhirnya memutuskan untuk membeli laptop dengan menguras tabungan, tak lupa saya juga membeli voice recorder dan kamera untuk menunjang kegiatan jurnalistik saya (yang pada akhirnya lebih banyak untuk menunjang kegiatan narsis saya). Itulah yang kemudian saya punya.

            Saya masih ingat beberapa memori tentang kelakuan kami, pada tahun pertama, kami seringkali berkumpul di kamar bawah, entah itu kamarnya Amir (Sasing), kamarnya Rasman (mapresnya FBS), kamarnya Tomi (yang sekarang jadi ketua BEM), atau kalau tidak kami akan berkumpul di teras lantai dua. Dulu ada Rina (Biologi),soal yang satu ini entah mengapa banyak anak kost yang bikin gosip dan mencoba menjodoh-jodohkanku dengannya. Dulu teman-temannya Rasman, Tomi, dan Amir seringkali main ke kost. Ibu kost pernah memarahi kami, karena di lantai dua ribut, apalagi kalau tidak kelakuan anak-anak yang saling melempar-lemparkan celana dalam bekas, entah celana dalam siapa. Kami juga sering menonton film atau video bareng (paling sering video tentang iluminati dan freemason, karena anak-anak kami orang-orang yang agak punya ketertarikan berlebih soal teori konspirasi), makan  bareng kalau ada yang ulang tahun, kalau tidak nongkrong di kamarnya Vicky (anak FT asal Kudus yang sudah tua haha), kami juga kadang menonton TV di kamar mas Hamid (anak FT yang punya mantan cewek Gunungkidul, dengan kondisi kamar mirip kapal pecah :3 ). Tahun ini juga menjadi saksi jadiannya Arya (Administrasi Negara, yang sekarang lanjut S2 di UGM) dengan Dini (Biologi). Cinlok teman-teman🙂 pada tahun pertama ada hal yang cukup familiar di kalangan anak A5, yaitu suara tertawa cekikikan yang bikin geli, serta lagunya Killing Me Inside yang berjudul Biarlah “Dirimu di hatiku, masih terlalu lama, Biarlah kumencoba, untuk tinggalkan semua” saya yang tak kenal lagu ini, sampai hapal luar kepala, lantaran seorang anak kost menyanyikannya tiap hari. Kami sering juga membersihkan kost bersama-sama minimal sebulan sekali, di tahun ini ada satu hal yang lumayan bikin gempar, apalagi kalau bukan soal sound system yang sering bervolume keras sendiri di kamar pojok, depan kamarku.

            Tahun kedua, kami menjadi lebih hening, anak-anak baru mulai datang menggantikan mereka yang pergi, angkatan 2010 hanya tertinggal aku, Arya, dan Deby. Masuk adik-adik angkatan kami Defry (Tata Boga asal Lampung), Happy (Sasing asal Banjarnegara), Haris (I’am forget asalnya juga lupa), Wayan (FT asal Bali), Vijar (Seni Tari asal Kebumen). Tak banyak yang bisa diceritakan dari kelakuan kami tahun kedua, yang pasti kami sering mengalami masalah dengan air dan sanyo. Tahun ketiga hampir sama, tahun keempat pun juga, yang membedakan hanyalah, saya yang semakin hening dengan kesibukan, masalah, kesepian, dan juga tugas-tugas.

            Tahun kedua, seiring dengan masuknya dua rak buku, saya mulai menambah koleksi (sampai sekarang ada sekitar 300 an buku saya punyai). Awal tahun ketiga, saya mulai disibukkan dengan menjadi freelance editor di Buku Pintar Publishing, mulai mengenal cinta, beberapa teman kadang menginap, saya mulai disibukkan dengan berbagai latihan drama, lalu saya kehilangan pekerjaan juga kehilangan cinta secara beruntun. Pertengahan tahun ketiga di kost, selama bulan Desember-Januari, kost menjadi saksi bisu, tulisan-tulisan yang saya buat, mata saya yang sering memerah, tidur saya yang hancur, dan Someone Like You nya Adelle yang terus terputar, ini adalah tahun-tahun di mana saya benar-benar terpuruk. Tahun keempat, saya memulainya dengan KKN PPL, meninggalkan kamar ini lama, kemudian masuk lagi dan disibukkan dengan proposal serta skripsi, hingga belum sempat semua perjalanan itu berakhir, saya sudah harus mengakhiri masa tinggal di kamar ini. Mas Toro (mahasiswa S2 asal Jambi, akan mendiami kamar saya nanti, mungkin malam ini dia sudah berada di kamar saya). Yaps itulah kelakuan-kelakuan kami di kost ini. Karena jet pump mati, saya bahkan pernah kencing di botol Minute Maid Pulpy rasa Aloe Vera dan Anggur Hijau (fermentasi air kencing itu baru saya buang kemarin sebelum saya pindahan).

            Yang membuat saya berat meninggalkan ruangan itu, tentu karena saya menyimpan banyak sekali kenangan. Kamar adalah hal terbaik, ketika kita lelah dan merasa kesepian. Maka tak heran, tahun keempat saya lebih banyak mengunci kamar hanya supaya bisa tenang online atau tertidur di kasurnya. Saya masih sering begadang kemudian lelap karena lelah dengan laptop masih menyala. Saya pernah menangis di kamar itu, saya sering ngoceh sendiri, saya suka menyanyi dengan suara-suara aneh, saya sering menyanyi lagu Lingsir Wengi versi Durma, saya dua atau tiga kali ke kampus tanpa mandi karena kesiangan maupun karena air mati, awal-awal kost saya pernah meminum air keran mentah secara langsung, saya pernah makan nasi dan garam saja, saya pernah tidur lebih dari 18 jam sehingga saya terlambat masuk kuliah linguistik, saya pernah memecahkan dua buah gelas besar, saya pernah tidak tidur tiga hari dua malam ketika saya masih bekerja sebagai editor, orang yang paling sering main ke kost saya adalah Mas Hendra dan Hidanz, satu-satunya cewek yang pernah tidur di kost saya (siang hari) adalah Mbak (saya lupa namanya tapi dia kakak kelas saya), kamar ini pernah digunakan sebagai base camp Kreativa, satu kali Kreativa pernah mengadakan rapat di sini, kamar saya pernah banjir setinggi mata kaki ketika saya tinggal pulkam, saya pernah jatuh dari tangga kost dan harus membayar biaya pengobatan lebih dari seratus ribu di Rumah Sakit Panti Rapih, penyakit ceguken saya sembuh pada tahun kedua saya kost, saya sering merasakan tindihan dan mendengar suara tertentu tapi saya tidak pernah ditemui yang aneh-aneh, ketika saya dalam keadaan sakit ada salah satu setan yang menyamar menjadi saya dan ikutan latihan drama di depan Lab Karawitan, dua kali pemanas air plastik saya meledak karena saya mencolokkan kabel tanpa mengisi pemanas tersebut dengan air, orang pertama yang pernah menginap di kamar kost saya adalah nggg lupa tapi dia kerja di EO, orang terakhir yang menginap di kost saya sebelum saya pindah adalah Mas Dio, suatu hari pernah datang seorang teman yang katanya tinggi dan berisi (yang saya kira kiriman bodyguard dari mana) ternyata itu Heri Miswan teman saya di FKPP, Arya tidak memberikan data yang valid -_-, selama kost, saya pernah dua kali menerima kiriman, pertama dari Malaysia, kedua dari Diva Press, di kamar ini saya pernah minta izin menenggak tujuh butir obat tidur, tapi tidak dibolehkan oleh seseorang, olahraga paling sering saya lakukan di sini adalah angkat dumbel, push up, sit up, sesekali saya juga peregangan, saya satu kali mengganti lampu kamar, saya sering menyemangati diri sendiri dan menuliskan beberapa deadline serta target di white board yang saya tempel di dinding sebelah selatan, saya mendapatkan sterofoam hitam dari Arya, stereofoam di dinding sebelah timur tersebut saya gunakan untuk menempel tiga keping CD rusak, tanggal jadian dengan pacar, serta kuitansi pembelian laptop atau kuitansi penting lain, seseorang pernah berjanji untuk mencintai saya setulus hati di kamar ini, seseorang pernah mengatakan minta putus di kamar ini, saya memiliki tempat rahasia yang bisa membuat kamar terlihat rapi hanya dalam waktu lima menit, saya ganti magic jar satu kali, saya ganti heater satu kali, kamar ini menjadi kenangan bagaimana saya mengerjakan tugas-tugas tanpa tertidur, kamar ini adalah yang tahu bagaimana perjuangan saya untuk tetap bersabar, kamar ini adalah tempat yang Tuhan kirimkan pada saya untuk mengetahui kecewa, suka, duka, kehancuran, keterasingan, sampai dengan rasa menyesal. Saya mengenal tempat tiga kali dua setengah meter ini dengan sangat baik, dimana saya harus meletakkan barang A agar terlihat luas, di mana saya harus menyembunyikan sesuatu agar tak terlihat, di sudut mana saya harus menyimpan barang-barang kecil, di sudut loteng sebelah mana tikus biasa bermukim, di bagian mana semut berasal, di mana saya harus menyemprotkan minyak wangi, di sebelah mana saya menepikan laptop untuk menghindari tempias air hujan, di mana saya harus meletakkan dumbel yang aman, di mana saya harus memasak air supaya bisa mengurangi getar serta suara, bagian mana yang harus ditutup supaya kamar bisa menjadi lebih kedap suara, saya tahu setiap sudut ruangan ini, di mana lantai cepat menjadi kotor, di mana laba-laba sering bermukim, ahh. Saya pernah merasakan dua kali hujan abu dengan hujan abu terparah ketika Kelud meletus, saya pernah mengalami tiga kali gempa yang lumayan besar, saya pernah mengalami satu kali puting beliung yang membuat saya sudah panik, saya mengingat semua itu, saya merindukan mereka yang pernah singgah di kost ini. Saya tahu, parkiran di kost ini memang busuk, sangat sempit (saya tak terimbas, hanya akan menyulitkan jika ada teman saya yang akan menginap, untuk itu weekend menjadi waktu yang direkomendasikan). Jam malam di sini juga payah, pintu gerbang ditutup pukul 22.00 malam (karenanya saya sering jadi bahan ceng-cengan sering dikatakan kost-kostan cewek), dulus etiap pulang dari latihan drama saya pasti ngegembel di depan kost, kalau sudah lewat jam 1 malam, saya lebih memilih tidur di base camp Kreativa atau masjid Mujahidin. Meski begitu, saya tetap mencintai kost ini, saya selalu punya alasan untuk pulang lebih cepat, untuk menghindari kegiatan-kegiatan malam tak penting.

8 Agustus adalah waktu saya mulai packing barang, 10 Agustus siang barang-barang sudah semua saya keluarkan, 10 Agustus agak sore masih saya sempatkan untuk membersihkan kamar sebelum digunakan oleh penghuni baru. Sekitar pukul lima sore, barang-barang sudah dipindah ke bawah siap-siap menunggu jemputan. Thanks untuk Arya, Faisal (anak Administrasi Negara yang aneh bin ajaib sering jadi bahan ceng-cengan anak kost), dan mas Toro (calon penerusku, semoga bisa memperlakukan kamar pojok secara lebih baik). Saya sempatkan untuk pamit kepada Bapak Kost, Bapak Jayadi, saya katakan bahwa terima kasih atas bimbingannya selama ini, juga mohon maaf jika selama 4 tahun saya berada di sini, saya banyak salah. Beliau mengatakan bahwa sekalipun saya sudah pindah, sering-seringlah mampir kalau ke Jogja. Pada waktu yang sama saya juga hendak berpamit pada ibu, yang setiap pagi dengan rajin membuang sampah anak-anak kost, membereskan benda-benda yang berserak di luar, serta menyapu teras lantai dua. Sayang beliau sedang tak ada di tempat, karena tengah melakukan pengajian. Bapak ikut menunggui mobil pick up jemputan datang, mengingatkan tak ada barang yang tertinggal, sampai mewanti-wanti pak sopir supaya mengemas barang dengan aman, bahkan beliau sempat menali layar penutup mobil, kata beliau “Biar lebih aman, perjalanan jauh”. Hiks… ternyata Bapak baik, mobil berjalan menjauh, lewat depan FE, namun karena dirasa akan lebih lama, maka mobil memutar di sana, kami kembali melewati depan kost, Bapak dan teman-teman masih di sana, di depan kost, mungkin bapak barusan bercerita bahwa saya baru saja berangkat, mendapati mobil kami lewat di depannya, ibu berteriak-teriak “Iya mas, hati-hati ya” padahal saya tak mengatakan apa-apa, mungkin beliau tahu kalau saya sudah pamit tadi lewat Bapak. Mobil makin menjauh, sesuatu yang sakit menghujam di sana, di dalam hati. Karangmalang A5, will miss all about you there. Saya bersyukur, pindahnya saya berlangsung dengan baik-baik, bukan karena adanya permasalahan.

Malam ini saya menuliskan sebuah status “Karena menulis tentang A5, mata saya berkaca-kaca. Ada yang masih tertinggal di sana, di tiap dindingnya yang saya gambari dengan relief-relief tak kasat mata, yang saya sebuli atap-atapnya dengan mantra-mantra beradu dengan gaduh suara tikus-tikus loteng, ada yang tersisa dari udara yang tak mungkin saya bawa serta untuk pulang, semua itu tak lain dan tak bukan adalah kenangan. Will miss all about you”.

Home, 12 August 2014, 4:27

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s