Ketika Anak Broken Home dan Raksasa Jatuh Cinta


IMG_6403

Judul               : Raksasa Dari Jogja

Penulis             : Dwitasari

Penerbit           : PlatPoint Publishing

Cetakan           : cetakan kedua November 2012

Halaman          : 270 halaman

Genre              : Novel populer

 

Sinetron yang tertulis. Kurang lebih itulah yang terlontar dalam pikiran saya pertama kali. Sebenarnya membaca judul yang tertera pada sampul buku, saya memiliki ekspekstasi yang lebih pada judul ini. Alih-alih menganggapnya sebagai cerita anak-anak, saya justru beranggapan bahwa buku ini merupakan buku dengan karya sastra tinggi, paling tidak selevel karya-karya Dewi Lestari atau Ayu Utami.

Cerita ini diawali dari hubungan broken home keluarga Bianca. Ayah ibunya yang sering bertengkar dan bersitegang. Problematika semakin bertambah ketika Letisha, satu-satunya sahabat yang sangat dekat dengannya terlibat cinta segitiga dengan Joshua. Bianca dan Letisha sama-sama tidak menyadari bahwa mereka mencintai orang yang sama, meski demikian Bianca tetap saja merasa terkhianati (bagaimana mungkin dia merasa terkhianati sementara mereka sama-sama tidak tahu? Sahabat macam apaan itu? Labil sekali!). Sakit hati atas ayahnya dan juga sahabatnya, mendorong Bianca semakin semangat untuk melanjutkan kuliah di Jogja. Jakarta baginya menyimpan terlalu banyak hal menyakitkan. Di Jogja, dia tinggal bersama dengan Kevin, salah satu sepupu.

Sejak awal cerita, Bianca digambarkan sebagai pribadi yang pesimistis terhadap cinta, namun masa-masa kuliah membawanya ke perasaan yang berbeda. Dia bertemu dengan Gabriel, salah satu sosok mahasiswa misterius. Percintaannya mendapatkan pertentangan keras dari Kevin. Hubungan itulah yang kemudian menyebabkan gesekan-gesekan dari ketiganya. Akhir cerita ditutup dengan perceraian antara kedua orang tua Bianca. Ya… sangat pop.

Mengapa saya bilang bahwa cerita ini sangat sinetron (atau FTV)? Karena memang ending dari cerita sangat mudah ditebak, lengkap dengan alur yang dibangun secara kasar. Kelebihannya, memang cerita ini sangat ringan, dengan genre populer, mengingatkan saya pada novel-navel Mira W. Tema yang diangkat pun sangat remaja sekali, dunia remaja yang labil dan absurd, lengkap dengan cerita percintaan yang picisan, hingga cerita-cerita broken home ala kehidupan rumah tangga perkotaan. Satu lagi hal yang perlu dikritisi dari novel ini adalah bahasa lokal yang seakan dipaksakan, kurang soft dalam memasukkan dialog-dialog lokal tersebut. Belum lagi, penggambaran tokoh Bianca yang menurut saya terlalu berlebihan, entah sikapnya terhadap Letisha maupun sepupunya Kevin. Terlepas dari itu, Raksasa Dari Jogja mencoba menyelipkan beberapa pengetahuan di sana-sini, baik soal kultur maupun keadaan Jogja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s