Tangan Kuasa Dalam Kelamin


cover buku Tangan Kuasa dalam Kelamin

cover buku Tangan Kuasa dalam Kelamin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul: Tangan Kuasa dalam Kelamin

Penulis: Hatib Abdul Kadir
Penerbit: INSISTPress
Halaman: 310 halaman
Tahun: 2007
Genre: semi ilmiah (non fiksi)

Pernikahan tidak akan berarti tanpa digarami dengan seks, sebaliknya seks tetap akan menjadi sesuatu yang penting meski tanpa pernikahan. Itulah salah satu kutipan menarik yang ada pada buku ini. Tangan Kuasa dalam kelamin terdiri dari 5 bab. Bab 1: Seksualitas dalam konstruksi sosial. Dalam bab ini pembaca akan mendapatkan pengetahuan bagaimana isu-isu mengenai dualisme entitas tubuh mengenai seksual dikupas. Dualisme ini terkait dengan sifat seks yang mendua, seks sesuatu yang dipuja sekaligus dicaci maki, dianggap hina, serta tabu. Batasan mengenai ketabuan seks juga dianggap sebagai batasan tabu kultural yang terkait dengan perkembangan zaman. Tulisan juga mengetengahkan pandangan-pandangan Hatib mengenai sejarah seksualitas dunia dan Indonesia. Bagaimana masyarakat lampau memandang seksualitas? Bagaimana isu-isu mengenai seks bergulir, dll. Bab 2: Homoseksualitas: Ada, Dilarang, dan Resistan. Bab ini cukup menarik, lantaran menghadirkan sejarah panjang kehidupan homoseks dalam peradaban manusia. Selain itu, tulisan yang termuat dalam buku mengenai homoseksualitas, juga berisi penyangkalan mengenai pengaruh barat dalam praktik homoseksualitas di Indonesia. Karena, pada kenyataannya praktik ini sudah ada jauh sebelum paham barat dan liberal masuk ke negeri ini. Homoseksualitas hadir dalam bentuk tradisi dan lokal wisdom, yang oleh kekuasaan negara dan agama kemudian direduksi. Keberadaan homoseksualitas di Indonesia melalui tradisi sebenarnya terlihat dari adanya kesenian reog, bissu, cebolang, dan kesenian Seudati. Hatib juga mengajukan beberapa alasan, mengapa kaum homoseksual (baik gay, lesbian, maupun transgender) didorong untuk terpenuhi hak-haknya dan mendapatkan perlakuan yang layak. Pada Bab III: Pekerja Seks di Indonesia, penulis menghadirkan sejarah prostitusi di Indonesia. Pembahasan mulai dari bagaimana prostitusi, dalam hal ini pekerja seks komersil berkembang pada masa kolonial, berbagai kegiatan prostitusi di beberapa kota besar di Indonesia, sampai dengan pembahasan mengenai perkembangan lokalisasi. Selain bahasan tersebut, penulis juga memberikan pandangan penyeimbang, mengenai tuduhan negatif masyarakat terhadap pekerja seks. Pada Bab IV: Seks Bebas di Indonesia, penulis membedakan antara seks bebas dengan seks komersial yang di dalamnya terdapat unsur transaksi dan tawar menawar. Dalam bab ini, penulis juga memasukkan kumpul kebo sebagai bagian dari seks bebas. Di sini, dia mengkritisi tentang aparatus moral, yang terdiri dari negara, agama, dan masyarakat kaitannya dalam pemberlakuan terhadap pelaku “seks bebas”. Selain itu, penulis juga menyangkal beberapa penelitian ilmiah yang dianggapnya tidak relevan dan terlalu lemah serta sarat akan kepentingan politis. Pada Bab V: Merayakan Seksualitas dalam Selimut Agama dan Kapital, Hatib memberikan semacam rangkuman atas bahasan-bahasan yang sudah dia lakukan di bab-bab sebelumnya. Bagaimana dia mencoba memberikan relasi antara seksualitas, fenomena-fenomena yang ada di masyarakat, serta bagaimana seharusnya kekuasaan mengcover fenomena seksual tersebut.
Secara umum, buku ini menghadirkan suatu pandangan baru mengenai seksualitas yang selama ini dianggap tabu dalam masyarakat. Penulis tidak hanya menghadirkan sesuatu secara ilmiah, namun juga membandingkan dengan penelitian lain, memberikan data-data penelitian pembanding, sampai beberapa pengutipan dari kitab. Latar belakang penulis yang mendalami antropologi mencoba memberikan pandangan-pandangan yang lebih universal serta manusiawi bagi pelaku-pelaku yang dibahas dalam buku ini. Meskipun di berbagai halaman, penulis mencoba untuk menggiring opini publik untuk memberikan pemakluman atas fenomena-fenomena sosial tersebut. Ada pembelaan-pembelaan yang begitu gencar diberikan, dengan menyodorkan berbagai alasan dan juga bukti-bukti bahwa fenomena tersebut bukan sesuatu yang salah. Hal ini menjadi menarik, lantaran penulis mencoba untuk melawan arus, menghindar dari pandangan umum masyarakat yang mainstream. Ini pulalah yang menyebabkan Tangan Kuasa dalam Kelamin tidak direkomendasikan untuk kaum-kaum agamais yang tidak open minded. Bagaimana pun juga akan banyak perdebatan dan juga sanggahan-sanggahan yang mencoba mengguat buku ini. Namun secara keseluruhan, buku ini bagus bagi pembaca yang ingin mengetahui sisi lain dari fenomena seksual dalam masyarakat, khususnya dunia homoseksual, prostitusi, dan seks bebas.
Dilihat dari kualitasnya, buku ini cukup bagus, menghadirkan tidak hanya analisis subyektif, namun juga dilengkapi dengan data pembanding sebagai bahan penguat. Penulis juga banyak terinspirasi oleh pemikiran Pierre Bourdieu, Foucault, dan Sigmund Freaud, serta tak lupa Strauss tentunya. Sekalipun cukup bagus, buku ini terlalu berat bagi orang awam, pertama dilihat dari temanya, buku ini bukan tipikal tema yang digemari oleh masyarakat (bagaimanapun tema-tema yang dianggap membahas deviasi seksual hanya akan dilumat oleh orang-orang yang berkepentingan atas hal ini), kedua banyak istilah-istilah asing yang “tidak ramah” bagi pembaca awam, ketiga, gaya penuturan kurang to the point, sehingga pembaca memperoleh pemahaman yang memutar. Namun demikian, ada beberapa bagian yang cukup menarik, atau setidaknya lebih ringan dibandingkan bagian lain dari buku ini, bagian-bagian tersebut antara lain ketika penulis menelanjangi hasil penelitian yang menurutnya ala kadarnya dan dangkal, kedua mengenai pembahasan film Indonesia. Dua hal ini cukup ringan, karena faktor kedekatan dengan pembaca. Selebihnya, buku ini cocok dibaca oleh pegiat-pegiat LGBT, LSM dan mahasiswa khususnya mahasiswa sosiologi dan psikologi (termasuk di dalamnya antropologi).
Sedikit mengutip kalimat dalam bab terakhir buku ini “Seksualias yang ekspresif dan nikmat merupakan salah satu bentuk kebenaran tersendiri tanpa mengesampingkan berbagai kebenaran lainnya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s