Mempertanyakan Keadilan BOS


yang seperti ini pantes dapat bantuan? Bantuan pencerahan mungkin

yang seperti ini pantes dapat bantuan? Bantuan pencerahan mungkin

Adil adalah menyikapi sesuatu sesuai dengan porsi dan posisinya masing-masing. Adil bukan berarti sama rasa dan sama rata. Bagi saya keadilan semacam itu adalah keadilan buta. Pun ketika kita berbicara masalah pendidikan. Ada banyak sengkarut yang memang harus diurai, mulai dari kebijakan anggaran, sarana prasarana, sampai hal-hal teknis (salah satunya penyelenggaraan ujian nasional).

Salah satu kebijakan pemerintah yang akan disoroti adalah seputar pemberian BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Awalnya, kebijakan BOS ini diluncurkan pemerintah sebagai tanggung jawab atas diberlakukannya Wajar (Wajib Belajar) sembilan tahun. Dengan adanya BOS, semua biaya operasional pendidikan untuk SD dan SMP digratiskan tanpa pandang bulu.

Sebenarnya sebagai tanggung jawab moral, hal ini cukup baik, mengingat digulirkannya BOS sangat membantu masyarakat dalam mengenyam wajib belajar sembilan tahun. Namun, sebenarnya tanggung jawab ini harus disesuaikan, karena pendidikan merupakan tanggung jawab masyarakat, orang tua, dan juga pemerintah. Artinya, angka partisipasi pendidikan bukan hanya merupakan tanggung jawab pemerintah saja. Lantas apa akibatnya bila BOS diberikan kepada seluruh peserta didik tanpa pandang bulu? Yang pasti, akan ada orang yang tidak berhak untuk menerima anggaran ini. Saya mengatakan bahwa hal ini memicu pemborosan anggaran.

Siapa yang dianggap tidak berhak menerima dana BOS? Pertama adalah mereka yang secara ekonomi berada pada tataran menengah ke atas, kedua mereka bodoh dan tidak memiliki kemauan untuk sekolah, ketiga mereka yang miskin dan bergaya hedonis. Saya kira tiga jenis pelajar semacam itu tidak pantas untuk mendapatkan dana BOS. Pelajar jenis pertama memang sudah selayaknya menanggung biaya pendidikan sendiri (toh meskipun menanggung biaya sendiri, tapi sebenrnya mereka sudah mendapatkan subsidi dari pemerintah bukan?), nah dengan sistem ini pemerintah dapat memberikan subsidi silang. Artinya dana yang seharusnya dinikmati oleh pelajar dari golongan keluarga kaya, bisa digunakan untuk memberikan subsidi yang sebesar-besarnya untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Pelajar jenis kedua, adalah mereka yang bodoh namun tidak memiliki kemauan untuk sekolah. Kalau bodoh tetapi masih memiliki tekad untuk sekolah, maka masih mending. Bagaimana kalau sudah bodoh tapi kalau sekolah selalu membolos, skolah pun dibiayai pemerintah? Bagi saya hal ini seperti menyia-nyiakan kesempatan. Untuk apa pemerintah membantu pelajar yang tidak ingin dibantu. Memang untuk menyadarkan pelajar seperti ini, merupakan tanggung jawab guru dan orang tua. Tapi, sekali lagi, hal ini masalah mentalitas. Jenis pelajar ketiga adalah pelajar dari golongan miskin yang bersikap hedonis. Mengapa saya bilang tidak pantas? Bagaimanapun seorang dari golongan keluarga tidak mampu, sudah sepantasnya bersikap prihatin. Kalau dia bisa bersikap hedonis artinya dia memang mampu untuk mengusahakan kesenangan mereka? Orang yang bisa mengusahakan kesenangan-kesenangan sekunder, mereka tidak pantas untuk mendapatkan bantuan pada kebutuhan primer, salah satunya dengan pendidikan.

Maka, pemberian dana BOS pun sebaiknya dievaluasi, ada sistem penjanringan penerima dana BOS. Namun, penjaringan pun sebenarnya memiliki kelemahan yang sangat besar, yaitu masalah mentalitas. Dari dulu, kalangan bawah sudah sering memberikan data-data palsu, maka kalau memang ingin membangun pendidikan Indonesia lebih baik, tidak bisa hanya membangun mentalitas di kalangan elit pengambil kebijakan. Kalangan bawah, dari guru pun sudah harus membangun mental yang positif. Terkait teknis, data yang dikirimkan sekolah, mendapatkan verifikasi, sementara siswa harus menandatangi kontrak belajar, yang salah satu point nya adalah pemerintah berhak mencabut dana BOS, apabila pelajar yang bersangkutan tidak mematuhi ketentuan-ketetntuan yang diberlakukan. Hal ini akan memicu dan mendorong para pelajar untuk lebih serius menjalani pendidikan mereka. Hal ini sekaligus untuk membangun mnetal positif di dalam diri anak, supaya mereka juga tahu bagaimana menerima hak dan secara bersamaan juga menjalankan kewajiban. Memang pada implementasinya pemerintah harus tegas. Ini sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan generasi muda. Dengan adanya penjaringan penerima dana BOS, maka orang tua dari keluarga menengah ke bawah pun akan serius membimbing anak-anak mereka. Nah sebagian dana yang selama ini dibagi rata, bisa difokuskan untuk memberikan reward sebagai pemicu prestasi anak, dapat diberikan kepada siswa di jenjang SMA atau lebih-lebih Perguruan Tinggi. Secara kasar, beban pemerintah (dalam hal ini anggaran yang dikeluarkan pemerintah sama saja), namun jangkauan wilayah dari anggaran ini semakin luas dan banyak.

Kalau sistem BOS masih seperti sekarang, maka akan semakin banyak anak-anak yang terenggut haknya. Maka, akan semakin banyak peserta didik tak layak. Sebenarnya masalah bukan ada pasa anak, melainkan karena kebijakan kita yang tidak pernah mengenalkan hak dan kewajiban sebagai penerima BOS. Mereka selama ini hanya sekedar tahu, mereka sekolah gratis. Ya sudah, mereka merasa bahwa itu hak mereka, apakah mereka akan sekolah dengan benar atau bermain-main. Apakah mereka akan fokus atau lebih memilih pacaran terus, bergaya sok kaya, dan bersikap masa bodoh. Sekali lagi bahwa pendidikan merupakan hasil kerja bersama, antara masyarakat, orang tua, guru, serta pemerintah. Kita tidak bisa membebankan pendidikan hanya pada satu stakeholder. Anak-anak Indonesia memang sudah secara alamiah terbentuk, namun kita juga mampu memilih untuk menjadikan mereka lebih baik.

 

Home, 13 Mei 2014, 12:29

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s