Membangun Sinergitas Kampus, Skripsiers, dan DP


1000048_316468595155037_1688970836_nSaya sudah lama ingin sekali menuliskan hal ini, semua itu didasari sewaktu saya membaca sebuah berita. Seorang mahasiswi ditemukan tewas gantung diri di rumahnya sendiri, di bilangan Semarang. Berdasarkan keterangan keluarga korban, mahasiswi tersebut mengalami tekanan, lantaran skripsi tidak kunjung disetujui oleh dosen pembimbingnya. Saat itu berita tersebut ramai diperbincangkan dan dibagikan oleh teman-teman di jejaring sosial. Saya punya satu kesimpulan tersendiri, bahwa dengan membagikan berita tersebut, mahasiswa tingkat akhir berharap mendapatkan anugerah, berupa kesadaran dari para dosen pembimbing. Tapi nyatanya apa? Nihil. Tapi tidak pernah ada yang salah dalam mencoba bukan?

Tulisan ini juga didasari atas keprihatinan saya pribadi terhadap kebijakan-kebijakan kampus di seluruh Indonesia, yang setengah mengharuskan percepatan kelulusan bagi mahasiswanya. Percepatan tersebut tidak akan pernah mengundang keprihatinan saya secara personal, ketika kampus memiliki sinergi, visi, dan misi yang sama soal kelulusan mahasiswa. Tapi ini cukup disayangkan, ketika kampus menuntut mahasiswa lulus cepat, tanpa diimbangi dengan solusi-solusi yang komprehensif dan melibatkan banyak pihak. Ibarat kata, kampus itu seperti surat perintah, yang berisi instruksi-instruksi, namun kalangan yang ada di bawah, harus mencari solusinya sendiri-sendiri (termasuk mahasiswa).

Meskipun saya seorang mahasiswa tua, namun saya juga banyak menerima keluhan, baik dari teman satu kampus maupun dari luar kampus yang berbeda. Ada banyak permasalahan yang mahasiswa hadapi, mulai dari judul saja itu sudah muncul masalah (terlebih bagi mahasiswa yang memiliki dua pembimbing). Salah satu teman saya, yang saya temui di Semarang menyatakan bahwa ada beberapa kendala ketika berhadapan dengan dua pembimbing, tidak semua pembimbing bisa rukun dan akur. Ada kalanya mereka tidak memiliki satu pemahaman dalam membimbing. Kalau sudah seperti ini siapa yang menjadi korban? Mahasiswa. Ada juga cerita lain ketika akan mengajukan proposal mahasiswa dilempar-lempar seperti bola basket, ini cerita dari teman saya beda fakultas. Begitu sudah dapat pembimbing, ternyata diminta untuk ganti judul, tidak cukup sekali. Kalau sudah seperti ini siapa yang jadi korban? Mahasiswa. Permasalahan judul selesai, masuk ke penulisan proposal, tidak semua dosen memiliki waktu senggang, tidak semua dosen rajin untuk mengecek apa yang sudah diserahkan oleh mahasiswa, maka, tidak ada pilihan lain kecuali waktu bimbingan yang berlarut-larut. Hal-hal semacam ini baru kendala awal, belum lagi nanti kalau sudah masuk ke perizinan penelitian, penelitian, kemudian penulisan skripsi. Semua ini sangat kompleks. Banyak mahasiswa yang cerita kepada saya, bahwa mereka bingung untuk sekedar curhat. Karena bagaimana bisa mengungkapkan problem-problem yang dia hadapi, sementara dosen belum dicurhati saja sudah menyuruh keluar atau menyemprot. Tenanglah, maklum posisi kalian HANYA mahasiswa rendah. Dan orang-orang kalangan rendah, memang harus banyak-banyak memberikan permakluman.

Membangun sinergitas antara kampus, penulis skripsi, dan dosen pembimbinag sangatlah penting. Hal ini terkait dengan visi misi serta pencapaian tujuan bersama. Dengan adanya kesamaan tujuan, maka hasil yang ditargetkan akan lebih mudah tercapai, secara efektif dan efisien. Sinergitas akan menghasilkan simbiosis mutualisme antara kampus, skripsiers, dan juga dosen pembimbing. Hubungan, kormunikasi, dan koordinasi yang baik, memungkinkan kampus lebih cepat mencetak lulusan, mahasiswa bisa lebih cepat menyelesaikan tugasnya, serta dosen juga memiliki target serta pencapaian yang lebih, kaitannya dalam hal pembimbingan mahasiswa.

Lantas bagaimana hal ini dibangun? Kampus adalah motor penggerak paling vital dalam hal ini. Pimpinan kampus sebagai pemegang kekuasaan, hendaknya mulai memobilisasi aspek-aspek yang terkait dengan kelulusan mahasiswa. Misalnya membangun kesadaran mahasiswa untuk segera menyelesaikan tugas akhir. Maksimal pada semester tujuh, mahasiswa sudah mendapatkan pembekalan yang cukup terkait dengan penulisan tugas akhir. Pada masa itu, mahasiswa dikondisikan sudah dalam masa serius. Artinya selain memobilisasi mahasiswa, pimpinan kampus juga mengadakan kontrak kesepakatan dengan semua dosen pembimbing yang nantinya akan membersamai mahasiswa sampai selesai. Kontrak itu, terutama tenggat waktu kapan mahasiswa harus benar-benar menyelesaikan studinya (terlebih untuk mereka para penerima beasiswa). Di semester yang sama, mahasiswa sudah harus menyerahkan proposal skripsi, yang kemudian dicarikan pembimbing. Begitu mahasiswa mendapatkan pembimbing, maka tugas pembimbing adalah, pertama mengadakan koordinasi internal (terutama untuk mereka yang memiliki dua pembimbing). Sehingga, antara pembimbing satu dengan pembimbing dua, sudah memiliki satu pandangan dan kesamaan persepsi dalam membimbing. Kedua, dosen pembimbing menjelaskan kontrak kesepakatan yang sudah disetujui dengan pimpinan kampus, yang artinya mahasiswa juga harus melaksanakan kontrak tersebut. Ketiga, ketika poin kedua sudah dijalankan, maka di semester ini, dosen pembimbing sudah memutuskan, apakah proposal tersebut sudah diterima atau harus diganti. Kalau pun harus diganti, maka pergantian ini dilakukan pada masa-masa sekarang. Keempat, kalau sudah ada persetujuan proposal, maka hal penting lain yang harus dilakukan adalah membuat peta konsep dan matrikulasi, kapan harus mengerjakan sesuatu? Apa yang dikerjakan? Dan bagaimana targetnya? Apabila keempat target tersebut dilaksanakan, maka minimal, pada awal semester delapan, mahasiswa sudah benar-benar fokus pada proposal yang sudah disetujui. Mereka sudah tidak lagi diributkan dengan ganti judul, ganti proposal, ganti pembimbing, dosen pembimbing yang tidak akur satu dengan yang lainnya, serta hal-hal terkait teknis lainnya. Sementara itu, matrikulasi berguna untuk memudahkan kerja, artinya mahasiswa memiliki target, dosen juga memiliki target. Maka kejadian bimbingan yang berlarut-larut bisa diminimalkan. Matrikulasi juga membuat segalanya jelas, artinya mahasiswa sudah tahu, pada minggu ini apa yang harus dilakukan, pada minggu berikutnya target apa yang sudah harus dilampaui. Dengan begitu, yakin, akan banyak mahasiswa yang lulus tepat pada waktunya, bahkan lulus sebelum waktunya. Segala bentuk progress harus dilaporkan secara berkala ke pihak universitas. Hal ini memang agak meribetkan, namun di sisi lain hal ini juga bisa memicu kedisiplinan semua pihak.

Lantas apakah itu cukup? Tidak. Seorang dosen pembimbing, wajib melakukan pendekatan personal kepada mahasiswa. Paling tidak di awal bimbingan, seorang dosen sudah tahu latar belakang sosial, akademik, bahkan psikologis mahasiswa yang bersangkutan, berbicara dari hati ke hati. Sehingga, kesalahan-kesalahan terkecil sekalipun bisa dihindarkan. Ketika secara ekonomi agak di bawah, maka mungkin dosen pembimbing memiliki kebijakan untuk memprioritaskan mahasiswa tersebut. Selama ini, hal-hal sepele macam ini justru banyak menggangu mahasiswa. Saya banyak menerima keluhan dari teman-teman, seperti misal, kalau saya tidak lulus bulan ini, lalu bagaimana saya akan membayar uang kuliah (apalagi untuk kampus-kampus yang menerapkan sistem pembayaran paket). Tapi apakah hal-hal semacam ini pernah terbersit oleh para dosen pembimbing dan kampus? Mereka tak akan mempedulikan hal-hal semacam ini, urusan bayar kuliah itu urusan masing-masing. Sementara lama bimbingan juga menjadi urusan masing-masing, bukan? Kampus juga seharusnya memiliki kewajiban yang sama, paling tidak mereka akan tahu akar permasalahan mengapa si A agak sedikit lambat, mengapa si B tidak ada kemajuan? Dengan diketahuinya akar permasalahan, maka solusi pun akan lebih mudah dicari dan didapatkan. Kalau selama ini yang kampus tahu hanyalah soal, mahasiswa A belum ada progress, mahasiswa B sama sekali tidak ada perkembangan. Mereka sama sekali tidak tahu, mengapa itu bisa terjadi, apa saja kendalanya, dll. Dan seperti sudah menjadi habitus, salah atau tidak salah, mahasiswa lah yang harus menanggung cap salah kalau sampai terlambat lulus. Paling kalimat yang terlontar “Kamu itu harus segera menyelesaikan skripsi”. Memangnya skripsi hanya bisa diselesaikan oleh aku? Oleh kami, mahasiswa? Tidak!

Tentu dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan dalam sinergitas ini, salah satu modal utamanya adalah passion, kemauan, dan kerja keras mahasiswa itu sendiri. Selama mahasiswa memiliki kemauan dan kerja keras, bisa mendapatkan tekanan untuk gerak cepat, mematuhi semua kontrak kesepakatan yang sudah menjadi kepentingan bersama, mengapa harus dipersulit? Kontrak kesepakatan hanya akan gugur, bila dosen menilai, mahasiswa tak memiliki dorongan untuk menyelesaikan skripsi, ketika dosen menilai mahasiswa tak memiliki itikad baik untuk tepat waktu. Kalau sudah semacam ini maka permasalahan ada di mahasiswa, matrikulasi yang sudah dibuat menjadi gugur. Itu sah. Tapi kalau mengabaikan mereka yang benar-benar berjuang dan berusaha atas skripsinya? Saya pikir ini tidak bijak. Maka tak heran ketika banyak mahasiswa stress dan muncullah kasus sebagaimana yang sudah diulas di awal, karena mahasiswa sudah merasa berusaha semaksimal mungkin tapi tidak diimbangi oleh pihak-pihak lainnya.

Mari, kalau memang kampus masih tetap memaksakan kebijakan lulus tepat waktu, maka paling tidak, kita, semua mahasiswa di Indonesia dan di semua kampus, harus memiliki sinergi dan kerja bersama. Mulai sekarang sepertinya semangat “kalau bisa dipermudah mengapa harus dipersulit” wajib dikorbarkan lagi. Mempermudah mahasiswa dalam tugas akhirnya bukan berarti mencetak sarjana-sarjana instan. Karena bagaimana pun juga mereka tetap berproses, menerima tekanan, menghadapi batas waktu, dan juga berjuang memenangkan tantangan. Jadi, masih ingin mengulur-ulur waktu bimbingan? Ilmu itu bukan soal seberapa lama dia dicari, melainkan bagaimana dia disampaikan, diterima, dan kemudian dijalankan.

 

Home, 13 Mei 2014, 20:34

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s