Bertanya Lebih Jauh Soal Sertifikasi


guru_idamanSertifikasi kalau saya bilang, boleh disebut sebagai alat legalitas menyebut diri sebagai orang yang profesional. Program sertifikasi sesungguhnya belum lama diluncurkan oleh pemerintah. Saya baru tahu adanya gembar-gembor sertifikasi saat saya SMA. Yang saya ingat dari sertifikasi, guru saya dulu membuat portofolio yang sangat tebal, entah berapa ribu halaman. Sertifikasi diberlakukan seiring dicanangkannya guru sebagai profesi profesional.

Seorang guru bisa mendapatkan sertifikasi, ketika dia sudah memenuhi jam mengajar, memiliki track records yang baik, memiliki prestasi di bidang keguruan, memiliki karya, memiliki kemampuan pedagogik, profesional, dan sosial yang memadai, mengikuti UKG, dll. Setelah melalui berbagai hal tersebut, seorang guru baru bisa mendapatkan sertifikat profesi. Sertifikasi ini boleh jadi menjadi magnet yang menarik seseorang untuk menggeluti profesi guru. Karena, dengan adanya sertifikasi maka gaji guru bisa dua kali lipat. Kendati sudat dibilang profesional, benarkah guru tersebut profesional?

Dari bincang-bincang seorang guru, sertifikasi justru melenakan para guru. Sertifikasi menyebabkan guru menjadi tidak mau tahu dan seenak sendiri, lantaran merasa sudah aman. Jarang sekali dari mereka yang memilih untuk meningkatkan kompetensi mereka. Fenomena yang merebak, yang bisa saya amati, justru sertifikasi memicu gelombang kredit besar-besaran, terutama kredit mobil. Mobil menjadi semacam penanda baru bagi seorang guru.

Saya menyadari ketidakprofesionalan guru, selama melakukan penelitian. Hal ini pun diamini oleh nara sumber saya sendiri yang sepertinya memang turut prihatin dengan habitus guru saat ini. Setelah guru menerima sertifikasi, tidak ada evaluasi yang jelas terhadap guru. Guru seperti seolah mendapatkan kebebasannya (kecuali jam mengajar selama 24 jam). Namun bagaimana kompetensi mereka? Bagaimana penguasaan mereka terhadap materi, pembelajaran, dan hal-hal teknis lain? Bagaimana sikap mereka sebagai seorang guru? Maka pada tulisan sebelumnya, saya pernah mengusulkan, sekali-kali dari dinas datang melakukan inspeksi mendadak dan melakukan uji profesionalitas saat itu juga. Dengan kunjungan yang dilakukan secara tiba-tiba, tentu dapat memicu guru untuk meningkatkan profesionalitasnya, termasuk penguasaan pedagogik. Bagaimana pun juga mereka tidak akan pernah tahu, kapan orang dinas akan datang. Ide ini sepertinya akan sangat kejam bagi guru, namun demi perbaikan kualitas pendidikan tidak ada salahnya dicoba. Bukankan tuntutan dari gaji sekian juta dan sertifikat itu adalah profesionalitas?

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan kampus, wakil dekan 1 saat itu menyatakan, bahwa di negara-negara dengan pendidikan maju sertifikasi pendidik diberlakukan berkala. Artinya, setiap sekian tahun sekali, guru harus diuji, apakah masih profesional atau tidak. Kalau dalam ujian dianggap tidak profesional, maka sertifikat dapat dicabut oleh pemerintah. Saya setuju dengan pemberlakuan sistem ini, dengan alasan bahwa sertifikasi berkala akan memicu guru untuk berlomba-lomba meningkatkan kompetensi mereka. Selain itu di beberapa negara profesi guru sangat dihormati, kendati gaji mereka sangat rendah. Penghormatan terhadap guru bukan sekedar pada kanaikan gaji dan penghasilan yang layak. Namun lebih berkaitan pada mentalitas masyarakatnya. di sana, guru memperoleh kebahagiaan lantaran posisi mereka sangat eklusif. Sangat sulit menjadi seorang guru, mereka yang tidak benar-benar memiliki niat dan kemauan menjadi guru, dipastikan akan gagal dalam tahap seleksi. Sementara itu, di Indonesia, lembaga pendidik tenaga kependidikan (LPTK) menjamur dimana-mana, guna kepentingan komersial kampus. Lihat saja sekarang semakin banyak kampus yang membuka jurusan kependidikan, karena profesi pendidik sekarang sudah tidak dianggap sebelah mata (terutama dilihat dari gajinya). Namun, bagaimana mereka menjamin para lulusannya?

Saya sendiri merasa belum mampu melakukan apa-apa, belum pantas sebagai guru. Masih banyak yang harus saya pelajari untuk menjadi guru profesional, masih banyak jam terbang yang harus saya lalui untuk menjadi guru handal, masih ada niat yang harus ditata. Namun setidaknya, saya memiliki itikad baik untuk benar-benar menjadi pendidik yang profesional. Segala hal yang besar tidak dimulai dari sempurna, namun setiap dari kita bisa memulai setiap langkah dan terus mengumpulkan keping-keping ketidaksempurnaan itu, untuk kemudian menjadi sesuatu yang sempurna.

Home, 13 Mei 2014, 13:19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s