Ketika Nyawa Hanya Dibayar Pita Hitam di Lengan


Dimas Dinaka Handoko

Dimas Dinaka Handoko

Satu lagi berita membuat saya miris pagi ini. Sebenarnya, kasus yang akan saya bahas bukan sekali dua kali terjadi, bahkan sudah sering (kampus saya juga sudah pernah kena blow up media kok -_- ). Berita tersebut tak lain dan tak bukan, mengenai tewasnya seorang mahasiswa junior di kampus STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) Marunda, Jakarta Utara. Lagi-lagi hal ini dipicu oleh aksi senioritas yang brutal.

Korban meninggal tak lain adalah Dimas Dinaka Handoko, mahasiswa teknik yunior tingkat 1 asal Medan, Sumatera Utara. Dalam Tempo dijelaskan kronologis kejadian, pertama mahasiswa senior menegur mahasiswa senior tingkat 2, lantaran menilai yunior tingkat 1 berlaku tidak sopan. Hal ini ditindaklanjuti oleh senior tingkat 2 dengan cara mengumpulkan enam orang junior di kost salah satu senior. Di tempat ANG yang berlokasi di Jalan Kebon Baru Blok R Gang II No. 29, Semper Barat inilah tujuh orang senior melakukan “pembinaan” terhadap yunior tersebut (salah satunya Dimas). Pembinaan dilakukan dengan jalan menceramahi, menendang, memukul, dan menampar siswa tingkat satu berkali-kali. Naas, Dimas terjatuh dua kali, entah karena benturan, sehingga akhirnya dia pingsan. Melihat Dimas tak bangun, para senior panik dan langsung membawanya ke Rumah Sakit Pelabuhan, Koja. Kepada satpam senior-senior tersebut mengaku, kalau Dimas jatuh dua kali di kamar mandi. Tapi beruntung, petugas keamanan yang curiga langsung menghubungi polisi. Terungkaplah kasus ini (Tempo).

Dimas sendiri merupakan salah satu taruna yang dikenal ramah. Kalau kita menengok sosial media facebook milik Dimas, maka kita akan tahu kalau dia adalah seorang climber dan pemain basket. Penasaran? Cek this is https://www.facebook.com/dimas.d.handoko/. Hasil dari kepo tingkat dewa, semoga benar itu personal facebooknya. Kalau dilihat dari ciri-cirinya sih memang benar, suka climbing dan basket, serta anak Medan.

Sebenarnya kalau kita mengulik lebih dalam, apa yang menjadi dasar kekerasan? Mengapa kekerasan di institusi pendidikan terus terjadi? Dalam kasus ini, alasannya sangat sederhana. Hanya karena kurang hormat, sementara seharusnya para senior tersebut berkaca, apakah dengan tingkah laku mereka semacam itu mereka pantas dipedulikan dan dihormati? Big no! Saya sendiri akan muak untuk respek terhadap para pelaku tindak bar-bar. Saya masih ingat, ketika saya SMA dulu, saya juga mengalami aksi senioritas. Dikit-dikit hukum, dikit-dikit hukum (meskipun tidak sampai pada tahap penganiayaan). Senior memang sangat gila hormat. Masuk pada angkatan saya, khususnya di OSIS, senioritas direduksi habis-habisan. Kebetulan, waktu itu saya sebagai ketua OSIS (ya jelek-jelek begini saya mantan ketua OSIS meskipun tidak jelas) :3. Aksi senioritas biasanya lebih pada motif balas dendam, diperlakukan secara tidak menyenangkan ketika jadi junior, lantas memberlakukan hal yang sama ketika mereka menjadi senior. Sebenarnya mata rantai semacam ini bisa diputus, kalau saja ada generasi yang mau dan berniat mengalah. Kekerasan juga terjadi karena memang ada yang memiliki bakat premanisme. Mereka lebih suka menyelesaikan masalah dengan otot dibandingkan dengan otak dan pertimbangan akal sehat.

Pemberitaan-pemberitaan semacam ini sebenarnya sangat miris. Bagaimana tidak, seseorang dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang, harapannya akan menjadi anak yang kelak bisa dibanggakan oleh orang tua. Dimas saja contohnya, dari jauh dia merantau ke Jakarta untuk mengenyam pendidikan, tak hanya itu untuk bisa masuk STIP, dia harus melewati proses dan seleksi yang tentu saja tidak mudah, belum lagi biaya yang dikeluarkan. Tapi apa yang dia dapatkan? Di tempat dia seharusnya menimba ilmu, dia justru meninggal dengan konyol di tangan para begundal-begundal akademik. Pernahkah ada dalam bayangan para senior itu, betapa sulitnya membesarkan dan mendidik seorang anak? Seberapa besar kehilangan yang akan diderita keluarga dan sanak saudara korban atas perlakuan bejat mereka? Pernahkah mereka berpikir betapa brengsek dan memalukannya aksi-aksi brutal tersebut? Saya jadi curiga dan berburuk sangka, jangan-jangan mereka tumbuh dan berkembang dengan kurang kasih sayang, sehingga mereka pun tidak memiliki rasa cinta kasih terhadap sesama. Saya selalu heran, kenapa orang bangga dan puas hanya dengan memberlakukan orang secara kasar dan semena-mena. What the fuck, what the hell, what the ohh… -_-

Sementara itu hal miris lain akan kita temui, ketika membaca berita, terdapat kutipan langsung semacam ini “Motifnya penganiayaan, pembinaan yang terlalu keras,” kata Kapolres Jakarta Utara Kombes (Pol) M. Iqbal di Mapolres Jakarta Utara, Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara, Sabtu (26/4/2014). Bapak polisi, Anda bercanda? Marilah berkaca, kalau anak Bapak yang menjadi korban, apakah bapak dengan entengnya tetap akan menyebut itu sebagai pembinaan? Kenapa Anda tidak menyebutnya sebagai “senioritas yang brutal” atau “premanisme di kampus”. Pembinaan macam apa yang menyebabkan anak orang meninggal dengan sia-sia? Kampus tersebut didirikan untuk melahirkan para pelaut handal, bukan tukang pukul. Mereka akan membawa kapal, bukan membawa keributan di kapal. Kalau memang alasannya pembentukan mental, lantas mental seperti apa yang ingin dibentuk? Mental preman? Mental kriminal? Untunglah STIP segera mengeluarkan taruna (meskipun sebenarnya tidak pantas disebut taruna) yang terlibat penganiayaan, kampus tersebut masih termaafkan. Alasan bahwa kasus tersebut bukan tanggung jawab kampus, lantaran dilakukan di luar kampus juga terkesan mengada-ada. Apapun perilakunya selama yang terlibat adalah siswa institusi tersebut, maka kampus juga memiliki tanggung jawab, minimal tanggung jawab moral. Tingkah bar-bar mereka, juga bagian dari ketidakmampuan STIP dalam membangun mental yang mendidik bagi para tarunanya. Coba kalau jauh-jauh hari, mahasiswa sudah mendapat warning yang tegas, pasti para taruna juga tidak akan berani menerapkan aturannya sendiri. Hukum di lingkungan akademik bukan hukum rimba.

Kalau membaca di atas sudah ironis, maka lebih ironis lagi membaca komentar calon mahasiswa yang ingin mendaftar di STIP, bukan soal keberanian mereka mendaftar, melainkan statement mereka dalam menanggapi kasus ini yang terlihat menyepelekan. Seorang calon taruna mengatakan “Ah yang seperti itu udah biasa gak takut” Penggunaan kata biasa terlalu menganggap sederhana kasus, saya curiga dia sudah terbiasa berantem dan main kasar. Lampu merah buat kampus, kalau dapat calon mahasiswa semacam ini. Bisa jadi akan melanggengkan praktik kekerasan di lingkungan STIP. Ada pula yang mengatakan “Pola didikannya kan emang harus keras, karena nantinya di laut juga akan menghadapi sesuatu yang keras” komentar ini mengingatkan saya pada komentar sesemahasiswa di Universitas Pembangunan Malang (yang dulu kalau tidak salah juga kena kasus). Dia bilang kerja lapangan itu keras. Benar! Tapi bukan berarti keras main pukul, bikin klenger anak orang, dan gak bisa ganti nyawa yang dibunuh. Tolong, di lapangan yang dihadapi adalah alam. Tapi jujur sesama manusia memang lebih berbahaya dibandingkan alam. Ingin lihat contoh? Tengok saja STIP. Hai Bapak Kepala yang terhormat, nyawa seseorang tidak bisa ditukar hanya dengan penggunaan pita hitam di lengan :3

Belum hilang kasus Dimas dari pemberitaan, maka muncul pula kasus baru, lagi dan lagi. Kali ini kampus yang terlibat adalah pemain lama (baca: memang sudah sering terlibat kasus kekerasan). Kampus tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah IPDN. Kampus yang seyogyanya menghasilkan aparatur negara yang berkualitas, nyatanya justru memperlihatkan citra buruk terhadap masyarakat. Bagaimana tidak, dulu selepas kasus meninggalnya seorang praja, kini muncul lagi kasus baru bermotif penganiayaan. Parahnya, kejadian ini melibatkan praja putri, dengan korban juga putri. Entah apa yang menjadi penyebab kejadian ini, yang pasti beberapa orang praja mengalami penyiraman air asam di bagian mata mereka, sehingga menyebabkan iritasi (tadinya berhembus kabar bahwa ada penyiraman air keras, namun belakangan, hal ini dibantah oleh rumah sakit yang menangani korban). Yang patut dicela, praja yang bersangkutan hanya mendapatkan konsekuensi penangguhan kelas. Mengapa kampus sama sekali tidak berani untuk langsung mengeluarkan pelaku? Memang benar, dalam kasus ini, akibat yang ditimbulkan memang tidak terlalu fatal. Akan tetapi, apabila kekerasan-kekerasan semacam ini mendapatkan toleransi, maka tidak mungkin kematian praja seperti tempo dulu akan terjadi lagi. Ada satu hal yang membuat saya merasa muak dengan institusi itu, yaitu dilarangnya para korban untuk berbicara kepada media. Dapat dipastikan keterbukaan institusi dipertanyakan. Mengapa korban dilarang berbicara? Untuk melindungi nama baik kampus kah? Kalau memang kampus ingin melindungi dirinya, maka tak ada cara lain selain menjaganya dengan cara terhormat (baca: menghindari terjadinya kekerasan di IPDN sekaligus membentuk mental waras para prajanya). Saya tak habis pikir, kenapa perempuan bisa sejalang itu. Kalau kejadian seperti ini terus berlangsung, maka bagi saya IPDN sudah tidak relevan untuk mencetak para aparatur negara. IPDN mungkin masih akan terus mendapatkan legitimasi mencetak para pegawai pemerintahan, namun jika dipaksakan, mereka tidak lebih mencetak pejabat-pejabat bobrok, arogan, suka berkelit, emosional, dan juga kriminal (kecuali jika mereka mau melakukan perbaikan besar-besaran di intern IPDN).

Sebenarnya tidak ada cara yang lebih efektif untuk mencegah semua ini terulang lagi, kecuali dengan memberikan seminimal mungkin ruang untuk kasus-kasus serupa. Ataupun, kalau memang kasus sudah terjadi, maka pemberian konsekuensi yang membuat mereka jera harus diperlakukan. Blow up media dan juga pengeluaran secara tidak terhormat saya kira cukup efektif. Kampus tidak selayaknya menutup-nutupi kasus semacam ini. Memang pada akhirnya citra kampus dipertaruhkan, namun sorotan media dan keterbukaan kampus wajib diapresiasi. Kenapa? Dengan adanya media terlibat, maka kampus akan benar-benar terpacu untuk melakukan pembenahan dan mencegah hal-hal yang mampu membuat citra kampus terpuruk. Demikian juga untuk para pelaku, blow up media akan memberikan rasa malu, sedangkan pengeluaran secara tidak terhormat akan membuat mereka berpikir dua kali untuk melakukan tindakat bejat. Kiranya itulah pembahasan dari tiga bentuk kekerasan yang terjadi di lingkungan akademik. Semoga kita bisa bersama-sama membangun kultur mental, moral, dan karakter yang jauh lebih positif.

Kost, 27 April 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s