Ketika Mereka Mulai Brutal


ini contoh anak yang mulai brutal -_-

ini contoh anak yang mulai brutal -_-

Pagi ini saya membaca sebuah berita yang dishare oleh fanpages Tribun News. Judulnya menarik dan juga menggiring minat saya untuk membaca, bukan karena judul tersebut sesuatu yang membahagiakan, melainkan karena berita tersebut membuat saya miris. “Anak SD di Kediri Tewas Berkelahi dengan Teman” demikian judul berita tersebut.

Saya tidak pernah habis pikir, mengapa dewasa ini hal-hal brutal dan kriminalitas yang menyebabkan anak-anak semakin berjangkitan di tengah masyarakat. Mereka baru usia 9 tahun, kelas 3 SD. Saya masih ingat bahwa usia segitu, perkelahian antar kami hanya saling cek cok adu mulut, kalau tidak ya main tempeleng, kunci-kuncian badan, dan salah satu dari kami akan menangis. Permasalahan selesai. Dalam berita ini disebutkan, bahwa korban mengalami luka parah. Jaman saya kecil, jangankan luka parah, sedikit memar ataupunrengek kesakitan, sudah membuat pelaku yang memukul atau nakal ketakutan. Bagaimana pun anak-anak jaman dulu masih peduli moralitas, takut terhadap orang tua, takut terhadap etika, atau tata krama.

Saya bukan pengamat anak, tapi setidaknya ada anak-anak di sekitar lingkungan saya. Pola didikan keluarga menjadi hal yang penting bagi perkembangan mereka. Selain itu lingkungan juga sangat berpengaruh. Mengubah apa yang menjadi habitus (dalam hal ini kriminalitas anak) memang sesuatu sulit. Diperlukan sinergi dari berbagai pihak, terutama institusi pendidikan dan hal-hal yang langsung berkaitan dengan anak.

Kalau tidak salah, dulu juga pernah terjadi hal serupa, pembunuhan yang dilakukan oleh seorang siswa SD kepada temannya sendiri. Orang tua memiliki peranan sangat penting, mereka seharusnya mampu memberikan didikan terkait sopan santun, tata krama, cinta kasih, dll. Namun sayangnya, orang tua sekarang cenderung kurang melindungi kepentingan anak-anak mereka sendiri (baca: perkembangan karakter). Kebutuhan materi dan pendidikan seolah sudah cukup bagi mereka. Menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah, bagaimana pun juga orang tua harus bisa menjadi suri tauladan bagi anak-anak mereka. Bagaimana seorang anak bisa arogan, temperamental dan emosional? Bisa jadi mereka belajar dari orang tuanya? Inilah kenapa, menjaga sikap di depan seorang anak adalah hal yang cukup penting.

Kedua, lingkungan pergaulan juga sangat berpengaruh. Terlebih selama ini perkembangan teknologi informasi, komunikasi, juga sudah semakin canggih. Tayangan-tayangan televisi dan media sosial memiliki peranan yang cukup penting untuk mengubah pola pendidikan anak di rumah. Seorang anak yang terlihat kalem dan penurut, bisa jadi karena cekokan media dan pertelevisian menjadi liar dan buas. Inilah mengapa, sebenarnya para pelaku bisnis media dan televisi perlu mengambil porsi lebih besar, atas penyebaran nilai-nilai dan karakter yang positif. Penguarangan tayangan-tayangan yang tidak mendidik juga menjadi kunci pembentukan mentalitas anak. Sebagaimana yang kita ketahui, saat ini anak-anak bukan lagi anak-anak orang tua merupakan anak-anak yang terlahir dari media. Dalam sebuah wacana yang saya tulis di Jurnal Kreativa tahun 2013, saya menyebutkan, bahwa media dan televisi memiliki andil yang cukup besar dalam mempengaruhi masa depan bangsa.

Ketiga, pelaku pendidikan. Di sekolah, guru dan institusi pendidikan memegang tanggung jawab penuh apapun yang terjadi di sekolah. Pola didikan tidak hanya berkisar pada ilmu dan tuntutan nilai. Memang dalam perkembangannya, pemerintah melalui Kemendiknas selalu melakukan pembaharuan kurikulum agar bisa memfasilitasi kepentingan-kepentigan yang dibutuhkan anak, salah satunya pembentukan karakter. Namun, sejauh mana penanaman karakter dan sikap ini benar-benar diimplementasikan di sekolah. Jangan-jangan semua itu hanya semacam menjadi pajangan di dalam kurikulum baru. Sudah saatnya dalam pengajaran, siswa juga difouskan untuk lebih saling menghargai, menghormati, dan juga mencintai sesamanya. Sikap peduli yang tinggi, akan melahirkan generasi-generasi toleran yang hidup dengan kebijaksanaan.

Kiranya tulisan ini tidak akan memberikan keuntungan yang berarti, tidak juga memberikan solusi yang signifikan. Namun paling tidak, tulisan ini bisa dijadikan bahan perenungan. Orang tua adalah orang yang penting untuk menyampaikan nilai-nilai moral. Guru adaah pendidik yang akan melahirkan generasi-generasi cerdas dan bernurani. Saya sebagai calon pendidik turut berkepentingan untuk membagikan kesadaran ini. Dalam harapan saya, kasus serupa tidak akan terulang lagi. Seorang anak biarlah tumbuh menjadi seorang anak layaknya, namun seorang anak bukan berarti menghadapi pembiaran terhadap apa yang mereka lakukan. Mungkin jika kita tidak tergugah untuk bersama memperbaiki ini, maka kekerasan yang melibatkan anak akan semakin berkembang. Bukankah kita tidak bisa berbuat banyak, ketika hal-hal tersebut melibatkan anak-anak? #SaveChild

Kost 27 April 2014, 7:55

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s