Ketika Keperjakaan Direnggut Sejak Bocah


???????????????????????????????

hati-hati terhadap lelaki sok misterius seperti ini :3

Kabar kedua yang tak kalah menggemparkan datang dari persoalan JIS (Jakarta International School). Kiranya sudah menjadi rahasia umum, pelecehan seksual dan pedhopilia yang melibatkan pekerja outsourching di Jakarta International School menyita perhatian publik. Sampai saat ini saya masih heran dan tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang anak TK harus mengalami nasib tersial dalam hidupnya –hilang keperjakaan-.

Ada anggapan bahwa kasus ini sedemikian di blow up media, lantaran label internasional yang menguntit lembaga tersebut. Namun paling tidak kasus ini sudah mampu membuka mata kita, betapa mentalitas dan moralitas masyarakat kita masih patut dipertanyakan. Saya pribadi merasa tidak yakin, media akan menggembar-gemborkan kasus tersebut, bila tempat kejadiannya lain. Ada banyak sekali kasus serupa yang melibatkan anak-anak jalanan, para bocah-bocah dari kampung-kampung miskin, dll. Namun agaknya sesuatu yang wah dan memiliki label lebih terasa seksi bagi media.

Baiklah soal itu lupakan saja dulu. Sekarang kita akan membahas masalah pedofilia. Pedofilia adalah kelainan seksual, yang menyebabkan orang tersebut tertarik untuk berhubungan kelamin dengan anak-anak di bawah umur. Di masyarakat pedofilia sudah sangat merebak, bahkan pelaku kadang berasal dari keluarga dekat, seperti paman atau ayah. Kedekatan hubungan famili inilah yang kadang membuat seorang anak tidak merasa, bahwa dia mengalami pelecehan seksual (seorang anak kecil di bawah umur kadang tidak bisa membedakan mana kegiatan sesual dan mana kegiatan yang hanya sebatas penyaluran kasih sayang orang dewasa kepada orang yang lebih muda atau anak-anak). Dalam lingkup yang luas, pedofilia akan menjadikan trauma berkepanjangan, tak jarang kasus-kasus ini juga mengubah orientasi seksual korban. Seorang anak perempuan mungkin akan mengalami traumatik terhadap hubungan dengan lawan jenis, demikian pula seorang anak laki-laki, akan rentan untuk membelokkan orientasi seksualnya menjadi seorang gay. Terkait dengan trauma, korba JIS bukankah sering berteriak malam-malam, trauma untuk pergi ke sekolah, dan merasakan akit di sekitar alat kelaminnya? Kadang reaksi kesakitan itu muncul bukan karena reaksi fisik, melainkan psikis, mirip dengan orang yang mengalami delusi.

Tidak ada penyebab pasti yang bisa menjelaskan, mengapa seorang bisa mengalami penyimpangan seksual satu ini. Hal ini sama ddengan tidak bisa dijelaskannya perilaku fetish dalam kegiatan seksual. Salah satu staf JIS, yang merupakan buronan pedofilia internasional juga pernah mengalami pelecehan seksual pada masa kecilnya. Mungkin traumatik semacam ini ikut berperan dalam pembentukan perilaku seksual yang bersangkutan. Tapi lagi-lagi memang tidak ada penjelasan ilmiah soal ini, sama seperti, kenapa seorang menjadi eksibisionis atau berperilaku sado masokis. Hanya ada satu jawaban, semua itu karena kepuasan akan nafsu birahi. Mungkin melampiaskan diri pada anak-anak adalah hal yang membuat dia senang, terpuaskan, sekaligus merasa nyaman. Meskipun bagi saya, perilaku semacam itu adalah nafsu binatang.

Ada satu hal yang perlu dipertanyakan. Ada dugaan pembiaran sekaligus habitus di lingkungan lembaga pendidikan yang bersangkutan. Bagaimana tidak? Salah satu buronan internasional terkait pedofilia yang menjadi staf JIS lolos bergentayangan di lembaga. Tak tanggung-tanggung dia menjadi buronan FBI, agen rahasia Amerika yang selama ini dinilai paling canggih. Kedua, pelecehan seksual terjadi bukan hanya sekali dua kali. Ketiga, korban tidak hanya satu orang melainkan ada korban lain. Keempat, modus yang digunakan pelaku sangat terorganisir, sehingga lebih mirip kebiasaan yang memang secara teratur mereka lakukan. Jumlah pelaku pun tak tanggung-tanggung berjumlah sekitar tujuh orang. Kelima, kabarnya pernah juga pelecehan dilakukan di kelas, lantas bagaimana mungkin guru tidak menyadari perubahan perilaku, perubahan fisik, atau sekedar perubahan ekspresi pada siswanya? Dan terakhir, JIS adalah sekolah internasional yang konon berbiaya dua puluh juta per bulan (apaaa? Iya benar sekali 20 juta untuk anak TK dan itu sebulan. Biaya sebesar itu bisa untuk kuliah saya dari awal sampai lulus). Dengan anggaran yang sangat-sangat besar, sebenarnya sangat mudah untuk JIS menyediakan pengawasan yang juga berstandar internasional. Apa gunanya sekolah dengan biaya mahal tapi pada beberapa aspek tidak terjamin. Di sinilah pengawasan lembaga dipertanyakan. Kabarnya ada satu pelaku berambut pirang (bisa diartikan dia orang asing), yang kemudian luput dari pengusutan polisi. Ada konspirasi?

Sebenarnya sebelum menyoal itu, kita perlu melihat bagaimana JIS beroperasi. JIS sebagaimana dirilis dalam pemberitaan, tidak mengantongi izin dari kementerian pendidikan. Lantas mengapa masih dibiarkan beraktivitas? Bukankah pemerintah memiliki wewenang untuk menutup dan membubarkan lembaga tersebut. Ironis memang, bahkan orang tua wali pun ada yang mengaku tidak tahu bahwa sekolah tempat anaknya menimba ilmu tidak berizin. Sekali lagi, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah lalai, dengan secara tidak tegas memutuskan status JIS. Kalau memang tidak berizin tinggal dibredel, atau kalau memang dilarang beroperasi, kenapa tidak dari dulu Kemendiknas melakukan rilis publik, sehingga masyarakat tahu. Kenapa baru setelah ada kasus, M Nuh memberikan pernyataan kontroversial itu?

Selain berita soal itu, saya juga membaca hal yang ironis dan miris. Di detik forum sempat ramai diperbincangkan, kalau kak Seto membela JIS sebagai sekolah berstandar internasional yang baik. Bagaimana bisa, seorang kak Seto yang menjadi ikon perlindungan anak justru menafikkan perasaan korban dan keluarganya. Baiklah, mungkin JIS memang sekolah MAHAL dan berstandar INTERNSIONAL. Namun bukan berarti JIS bisa sepenuhnya menjamin apa yang dibutuhkan oleh siswanya.

Belum selesai soal pengusutan kasus, publik lagi-lagi diguncang kabar mengejutkan. Azwar salah satu tersangka kasus pencabulan ini ditemukan meninggal bunuh diri di toilet kantor polisi. Azwar bunuh diri dengan cara meminum cairan pembersih lantai. Publik pun mulai memunculkan berbagai spekulasi, seperti, benarkah Azwar bunuh diri? Jangan-jangan dia sengaja dibunuh? Saya berpositif thinking kalau Azwar memang bunuh diri, bukan dibunuh. Atas asumsi itu saya punya analisa, bahwa Azwar yang konon katanya orang penting dalam sebuah komunitas pengajian tidak kuat menanggung malu atas pemberitaan yang menyangkut dirinya. Bagaimana mungkin seorang yang dikenal alim, religius, tiba-tiba diciduk oleh polisi, kasusnya pun memalukan yaitu pencabulan. Lebih memalukan lagi, korbannya anak TK, lebih-lebih memalukan lagi, jenis kelaminnya sama-sama cowok pula -_- Sebenarnya tidak ada hubungan antara religiusitas seseorang (apalagi yang terlihat religius saja) dengan perilaku seksual mereka. Ada berapa banyak contoh, guru ngaji mencabuli anak didiknya? Sebenarnya bukan bagaimana perilaku agama mereka yang penting, melainkan bagaimana mereka mau mengaplikasikan apa yang dia pelajari, salah satunya menahan nafsu.

Seiring dengan bergulirnya kasus, lembaga pun terkesan menutup-nutupi apa yang terjadi di lingkungan sekolah. Mereka juga memberikan surat edaran melalui email yang intinya para orang tua dilarang berbicara ke media. Namun hal ini disanggal oleh pihak JIS. Mereka hanya mengatakan bahwa surat edaran berisi pemberitahuan tentang upaya yang telah diambil JIS terkait kasus ini. Sanggahan itu bisa dibaca, dalam wawancara pihak sekolah dengan tempo. Chek this http://www.tempo.co/read/news/2014/04/25/064573284/Wawancara-Khusus-Kepala-JIS-Kasus-Ini-Amat-Berat. Alasan mereka adalah, melindungi siswa dan guru agar tetap fokus belajar.

Dalam kasus JIS, opini publik terbagi, ada yang menyalahkan orang tua, sekolah, juga kemendiknas. Namun bagi saya pribadi, kiranya tidak arif jika orang tua disalahkan dengan sangat dalam kasus ini. Memang benar, bahwasannya pendidikan seksual dari orang tua sangat penting, tentang apa yang boleh dan tidak boleh orang lakukan kepada anak. Pelajaran semacam ini cukup membantu anak dalam memahami lingkungan sekitarnya. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang bocah kecil yang masih lugu, tidak tahu apa-apa, dan tidak bisa membela diri, ketika dia diancam oleh orang-orang dewasa? Tak tanggung-tanggung tidak hanya satu orang yang melakukan, melainkan lebih dari dua orang yang mengintimidasi. Sulit untuk melawan. Dan pengajaran tentang apa yang patut dan patut diterima oleh si anak pun menjadi tidak berarti. Sudah baik, seorang anak mau terbuka kepada orang tuanya. Dan lebih beruntung lagi, orang tua bisa menerima keadaan si anak. Itu menandakan keluaraga yang demokratis dan toleran.

Tugas orang tua dalam mendidik dan mengawasi anak adalah ketika mereka berada di rumah, ketika mereka berada di lingkungan sekolah, maka yang bertanggungjawab penuh adalah pihak sekolah. Terlebih korban adalah anak di bawah umur yang masih sangat polos. Saya masih ingat dulu jaman TK, ketika ada anak yang hendak buang air, maka guru mengantar dan menungguinya di depan toilet. Dari sini saya berpendapat bahwa sekolah di TK konvensional, dengan bayaran tak lebih dari dua puluh ribu (bahkan beberapa di antaranya lebih murah dari itu) sebulan, jauh lebih baik dibandingkan sistem pendidikan ala dua puluh juta per bulan, yang nyatanya tidak bisa menjamin keamanan siswa. Dari sekian banyak kasus yang terjadi, perlu kiranya membangun mentalitas dan moralitas, tidak hanya mereka yang bersekolah, namun juga mereka yang sudah dikategorikan manusia dewasa. Religiusitas seseorang nyatanya tidak bisa menjamin kemampuan mereka dalam mengendalikan hal-hal semacam itu. Guna menghindari kauss serupa terjadi, maka kiranya sangat perlu untuk menghukum berat pelaku. Bagaimanapun mereka sudah merusak masa depan generasi penerus. Kalau memang mereka butuh akan kebutuhan seks, kenapa harus anak-anak? Mereka tidak layak untuk dijerumuskan ke dalam pengalaman buruk macam ini. Kalau mau kenapa tidak mencari mereka yang sudah cukup umur (bukan berarti saya hendak melegalkan seks bebas). Saya pernah membaca sebuah komentar ironis tentang hal ini kira-kira bunyinya begini “Kenapa harus anak kecil yang masih polos? Noh lu kalau mau ama homo aja, jangankan lu paksa gak lu paksa juga bakalan minta”. Di sini saya tidak berposisi mendiskreditkan kaum LGBT dengan kecenderungan seks, hanya saja saya hendak memberikan gambaran bagaimana perilaku yang sama bisa memberikan dampak yang sangat berbeda. Terlepas dari smeua itu, kalau memang sudah tak bisa menahan hasrat, kenapa tidak menikah saja? Dengar-dengar Azwar sebentar lagi menikah? Eh kok malah diri… aduh dekk.

Kost, 27 April 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s