Kartini Itu Adalah Ibu


Contoh Kartini masa kini

Contoh Kartini masa kini

Kemarin peringatan Hari Kartini dirayakan dengan gegap gempita. Saya tak ingin menyoroti lebih banyak soal siapakah Kartini dan bagaimana sepak terjangnya. Karena itu bisa dibaca di buku-buku literatur. Yang pasti mengapa Kartini? Saya juga tak akan menjelaskan dengan gamblang. Ada banyak perdebatan, mengapa harus dia, sementara pahlawan wanita yang tak kalah heroiknya di negeri ini amat banyak. Dewi Sartika, Cut Meutia, Cut Nya Dien, Nyai Ahmad Dahlan, dan pejuang-pejuang wanita lain. Kenapa? Saya pikir hal ini hanyalah simbol atau bentuk keterwakilan untuk menghargai pejuang-pejuang wanita (yang pada dasarnya memiliki posisi, keududukan, dan penghargaan yang sama). Sama dengan mengapa Hari Pahlawan diperingati pada tanggal 10 November? Ini hanya soal alasan praksis upaya peringatan terhadap perjuangan para pendahulu kita. Bukankah jaman dulu bukan hanya pertumpahan darah di Surabaya saja yang heroik? Ada banyak pertumpahan darah yang tak kalah heroik dibandingkan dengan pertempuran Surabaya. Kembali lagi, ini semua hanya soal keterwakilan kita mengingat jasa dan perjuangan masa lalu. Tidak semua pejuang wanita atau tidak semua pertempuran harus dijadikan hari nasional satu persatu kan? Bisa jadi setiap orang memiliki hari personalnya sendiri. Atau mungkin memang penetapan soal Hari Kartini adalah sesuatu yang subyektif dan tidak kebetulan? Saya tidak akan memperdebatkan soal itu.

Peringatan hari Kartini sewajarnya tidak hanya sebagai simbolik, atas peringatan salah satu sosok saja, melainkan spirit wanita pada masa-masa perjuangan secara general. Spirit itulah yang seharusnya ditanamkan kepada generasi penerus. Ada hal lain yang patut diperjuangkan sekarang ini, yang tentu berbeda dari masa lalu. Kalau jaman dulu, kesamaan akan pendidikan, keluar dari kekangan pingit, hegemoni laki-laki yang mengharuskan wanita hanya tahu soal anak, manak, dan masak, menjadi isu sentral perjuangan. Stereotype itu sekarang mulai bergeser, paling tidak sejalan dengan tuntutan jaman. Wanita saat ini bukan hanya soal menyejajarkan posisi wanita dan pria (bagaimana pun ada beberapa feminis yang begitu ambisius untuk bahkan melebihi pria). Seharusnya sekalipun emansipasi terus digalakkan, namun bukan berarti bisa dengan bebas ke luar dari jalur yang sudah dikodratkan. Ada tugas lain yang lebih penting dibandingkan sekedar duduk dalam jabatan, menggeser pekerjaan laki-laki, dll. Ada tugas yang lebih mulia, semisal mendidik generasi baru negeri ini, bersama dengan para pria berkontribusi dan membangun Indonesia menjadi negeri yang makmur serta beradab. Intinya Kartini-Kartini muda, atau Cut Nya Dien muda atau Dewi Sartika muda, harus tetap berperang, harus tetap memiliki spirit perjuangan. Berperang untuk melawan kebodohan, kemiskinan, tindakan asusila, mundurnya moralitas, gempuran budaya asing, penegakan atas harkat dan martabat wanita, serta spirit untuk terus memajukan Indonesia dengan bidang dan passion mereka masing-masing. Ada banyak hal yang bisa wanita lakukan. Sejujurnya, dalam hal bernegara, wanita adalah tiang, seperti salat dalam agama Islam. Wanita memiliki peran yang sangat penting, secara khusus untuk menyiapkan kader-kader terbaik bangsa.

Kalau orang bertanya pada saya, siapa kartini yang paling saya kenal, maka saya akan menjawab ibu. Bagaimana tidak, sudah lebih dari dua puluh satu tahun sampai sekarang ini, saya masih terus bersamanya, meskipun empat tahun belakangan saya tak terlampau intensif bertemu. Saya masih ingat bagaimana beliau mengurus keluarga. Ada hal-hal bersifat memoar dan sentimental yang masih terus saya ingat, bahkan sampai sekarang. Dari mulai saya kecil, sampai saya sudah kuliah dan dewasa (mungkin). Masa kecil tak ada yang menarik untuk dibicarakan, begitu juga masa SD. Namun yang saya tahu, sejak SD ibu sudah mengajarkan saya untuk hidup hemat. Ketika yang lain bisa jajan sesuka hati mereka, maka dengan caranya sendiri, saya mendapatkan uang saku sekolah per minggu. Kondisi ini memang mengharuskan saya untuk cerdas mengelola uang. Per minggu membuat saya berpikir untuk menabung menyisihkan sedikit demi sedikit. Dinilai sudah lulus ujian, maka jumlah minggu semakin ditingkatkan, dua mingguan, kemudian satu bulan, ketika saya memasuki SMP dan SMA. Soal manajemen anggaran keluarga, ibu saya boleh dibilang jempol. Ketika tetangga dan orang lain sibuk dengan hutang sana sini, tidak dengan ibu. Keluarga kami adalah keluarga anti hutang, kecuali sangat kepepet. Manajemen semacam ini juga menurun kepada saya, saya tak pernah merasa kekurangan uang. Ketika, teman-teman penerima beasiswa lain sudah kehabisan uang bahkan di tengah-tengah bulan, saya dengan normal, wajar, dan nyaman masih bisa menjalani hidup. Hidup yang layak dengan makan dan kesenangan. Uang kami sama, kebutuhan kami sebagai anak kost juga sama. Kadang ibu dengan iseng (ketika saya pulang kampung), menanyakan “Det, butuh uang saku tidak” saya tahu ibu tidak punya uang dan seperti sudah menjadi ritus, beliau akan menambahkan “Kalau butuh uang ambil di ATM, Bapak”. Ibu tahu jawaban saya akan sama saya akan menggeleng, dengan sedikit congak menjawab “Saya tak butuh uang, apalagi harus ambil di ATM, kalau mau Bapak suruh transfer saja” kemudian saya akan tertawa. Saya memang anti untuk menerima uang dari orang tua sejak kuliah, saya juga anti untuk ambil uang sendiri di ATM Bapak, sekalipun saya punya akses untuk itu. Bahkan sekarang ATM Bapak saya yang pegang, saya hanya akan mengambil ketika dapat instruksi dari ibu. Ibu sama dengan saya, beliau tidak akan meminta saya ambil uang kalau tidak untuk keperluan adik atau dalam keadaan terdesak. Ibu hanya mau menerima uang langsung dari Bapak, bedanya, saya tidak mau menerima uang cash dari orang tua:/ Secara tidak langsung keluarga mengajarkan saya untuk bisa dipercara, mengajarkan saya akan kejujuran. Kalau saja orang tua memberi kuasa penuh atas ATM, sedang saya adalah orang yang semena-mena, maka habis sudah semua uang Bapak di bank. Tapi, itu semua tidak akan pernah terjadi. Masa SMP adalah masa di mana saya sudah mulai berani mendebat dan mengintervensi keputusan-keputusan orang tua. Mulai dari keperluan sekolah, beli komputer waktu masuk SMA (saya waktu itu bilangnya hutang pada orang tua dan sampai sekarang belum terbayarkan, karena orang tua tak ingin saya membayarnya), sampai persoalan pilih jurusan. Awalnya memang alot, karena saya tak pernah atau setidaknya belum membuktikan apa-apa. Saya hanyalah dianggap bocah, meskipun seiring waktu, I prove them wrong. Kami berproses dan saling melengkapi, ibu belajar dari saya dan saya belajar dari ibu. Ibu yang tadinya selalu membuat keputusan sendiri atas hidup saya, mulai menjelma menjadi orang tua yang demokratis. Saya mulai menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis keluarga. Dari sini saya melihat, ibu adalah sosok yang demokratis dan mau memberi kesempatan untuk maju, mendukung saya dalam berproses. Saya masih ingat jaman SMA karena satu hal saya berdiam diri, dengan tidak berkomunikasi baik-baik selama beberapa hari (dan itu membuat saya merasa bersalah sampai sekarang). Permasalahannya bukan pada hubungan kami yang renggang, tapi lebih karena ketidakmampuan saya dalam mengkomunikasikan keinginan (antara ingin mengungkapkan, tapi takut jika apa yang saya ungkapkan akan menimbulkan masalah baru). Well saya sampai memilih tidur di lantai, di sela-sela saya pura-pura tertidur, ibu membawakan selimut dan segera menyelimuti. Hubungan kami sudah sangat buruk saat itu, hingga di Idul Fitri tahun yang sama, untuk pertama kalinya saya menangis meminta maaf. Di sini saya bisa melihat kesabaran ibu dalam mendidik anak-anaknya. Ibu juga adalah orang yang sangat perhatian, kalau saya balik ke kost, ibu selalu menanyakan beberapa jam sebelum saya berangkat, apakah semua perlengkapan sudah disiapkan? Apa yang akan saya bawa? Ibu akan memasakan saya beberapa bekal, membawakan beras, dan segala macamnya. Ibu tahu, kalau semua tas saya sudah penuh dengan barang bawaan, tapi kadang beliau memaksa menambah bawaan dengan kantong kresek atau bahkan kardus. Sampai-sampai kadang saya bilang “Kapan saya akan ke Jogja dengan hanya membawa badan?” Ibu terlalu khawatir kalau stok logistik di kost tidak bisa memenuhi kebutuhan, apalagi melihat tubuh saya yang makin kurus (ibu tidak tahu kalau saya kurus memang begini adanya, bukan karena kurang makan). Biasanya ibu akan menyiapkan bekal, membuat kering, menggoreng sesuatu, pada malam sebelum saya berangkat. Kadang saya heran sendiri, please, saya hanya ke Jogja, bukan ke Jakarta atau tempat yang jauh. Tapi itulah ibu. Soal bermasyarakat, ibu berbeda dengan saya. Beliau sering diminta orang untuk memasak di tempat orang punya hajatan, syukuran, atau hanya sekedar pesanan. Sering pagi-pagi sekali beliau berangkat, pukul dua dini hari, sementara aku dengan nyenyaknya masih tertidur, paling akan menguncikan pintu, kemudian kembali tertidur. Kadang saya berpikir bahwa ibu memang kaliber, bisa berhari-hari memasak di tempat orang, dari tempat satu ke tempat lain, terlebih jika sedang musim hajatan. Dan saya akan tahu bagaimana akhirnya, ibu selalu tepar. Kadang saya memintanya untuk tidak berangkat barang satu atau dua hari untuk memulihkan badan, tapi beliau menolak. Lagi-lagi itulah ibu. Itulah mengapa bagi saya, ibu adalah sebenar-benarnya Kartini. Saya percaya seorang wanita selalu butuh pendamping, seorang wanita bisa dengan memaksimalkan perannya jika ada pihak lain. Begitu pun ibu, beliau bisa sedemikian, karena Bapak yang bisa mengimbanginya. Seperti yang sudah disebutkan, bahwa kami sekeluarga sama-sama belajar, ibu bisa menjadi semakin Kartini dalam hidup saya, karena saya juga berusaha untuk bersifat kooperatif terhadap beliau. Seorang wanita bisa benar-benar menjayakan negeri ini, kalau memang dia mendapatkan orang-orang yang mampu mendukung tugas-tugasnya. Wanita, Kartini masa kini memang penting, namun menjadi tak bijak ketika kita menyodorkan masa depan hanya kepada mereka, kemudian menyalahkan mereka atas kerusakan-kerusakan yang terjadi di negeri ini. Di antara wanita yang ada, mereka selalu membutuhkan laki-laki untuk memuluskan langkah menuju kemakmuran Indonesia. Emansipasi bukan lagi mempersoalkan siapa yang lebih tinggi, namun bagaimana antara dua jenis kelamin ini bekerja sama, bahu membahu, saling membangun, saling menguatkan dengan porsinya masing-masing. Sekali lagi, selamat Hari Kartini 2014.Kost, 22 April 2014 19:11

2 responses to “Kartini Itu Adalah Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s