Aku Nggandhul Karena, Nggg…


Ini yang terekam kalau naik angkot

Ini yang terekam kalau naik angkot

Aku tak tahu apa yang menarik dari perjalanan pulang. Yang aku tahu perjalanan pulang selalu melelahkan, serta tak jarang juga berakhir dengan tepar. Hal ini terjadi, paling tidak ketika aku berangkat pagi. I hate mobileing in morning day! Tapi, ada satu hal yang paling kusukai ketika pulang ke rumah, yaitu naik angkot dengan beberapa spesifikasinya.

What naik angkot? Mungkin buat kalian yang sok kota dan sok kaya akan memandang rendah dan remeh orang yang naik angkot. Problem? Entah karena gengsi atau kalian memang tidak bakat jadi orang yang sederhana. Intinya, naik angkot itu memiliki sensasi yang berbeda-beda.

Yang paling kusukai dari angkot, ketika posisiku dalam keadaan sehat, adalah tidak kebagian tempat duduk. Kalian akan tahu, gimana asyiknya berdiri di pintu angkot dan angin berhembus menerpa tubuhmu dengan sepoi-sepoi. Hal kaya gini tuh keren banget, kalian bakal ngerasa kalau aura bintang kalian terpancar dengan terang. Apalagi kalau rambut kalian agak gondrong, bisa dipastikan kalian akan merasa menjadi seorang model yang memakai blower untuk membantu efek melayang pada rambut.

Mungkin sebagian dari kalian akan bilang bahwa perasaan seperti ini kampungan, tapi itulah yang aku rasakan. Kalian mungkin tak bisa menerima sensasi, karena kalian tak bisa menikmati hidup. Seperti kemarin, ketika pulang, kebetulan angkot sudah agak penuh di dalam, meskipun masih ada ruang untuk duduk di beberapa bagian. Namun, aku memilih untuk bergelantungan di pintu angkot seperti monyet. Tawaran untuk duduk oleh ibu-ibu dan bapak supir kutolak dengan anarkis “Wah nggak papa pak, gak papa beneran. Enakan gini silirrr”

Begitu angkot jalan, langsung deh pasang headset di kuping. Wus wus wuss angin menerpa, dan suara musik mengalun, serius itu keren banget. Aku berasa mirip banget ama pemain FTV dengan judul “Cintaku di Pintu Angkot”. Hal-hal kayak gini, buatku tuh epiknya kebangetan. Seriuss.. Kenapa sih aku lebih suka bergelanyut di pintu tinimbang duduk, pertama karena di dalam angkot panas, apalagi setelah kita jalan agak jauh. Kedua, di angkot biasanya berisi ibu-ibu pulang dari pasar, dan mereka akan ngobrol kesana-kemari dengan topik yang sama sekali gak aku tahu. Ketiga, berhubung yang naik kebanyakan bapak-bapak atau ibu-ibu, maka otomatis ini mata gak bisa jelalatan dong? Lha gimana mau jelalatan kalau dimanapun mata memandang di sana hanya ada emak-emak, bapak-bapak, dan eyang-eyang. That why, mendingan aku bergelantungan di pintu, menyusuri sepanjang jalan, siapa tahu ada anak-anak pulang sekolah yang cucok mokorocodot. Bhuakakaka…

Oke, terlepas dari pintu angkot yang bikin aku jadi ngerasa seperti superstar, ada makna filosofis di balik pintu angkot. Bagaimana pun hidup, kesederhanaan dan kondisi tidak nyaman itu sangat tergantung bagaimana kita mengekplorasi diri kita, menciptakan trik, atau sekedar melibatkan diri untuk mencoba menyenangi suasana yang ada, kemudian membuat itu menjadi sesuatu yang luar biasa untuk diri kalian.

Kost, 21 April 2014 23:55

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s