Hujan Abu (Lagi)


hujan abu Gunung Kelud di Kutoarjo

hujan abu Gunung Kelud di Kutoarjo

Abu putih pun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah Pituruh wangi..
Apakah kau masih memintaku minum susu Milo
Dan membangunkanku dari tidur?

Haha abaikan sajak berengsek di atas. Kalau Soe Hok Gie bisa bangun dari kubur, mungkin aku sudah dicekiknya dengan marah, karena menggubah puisi semena-mena dan anarkis. Yaps kalimat-kalimat di atas memang hanya gubahan dari puisi Soe Hok Gie yang berjudul Lembah Mendala Wangi (dulu kubaca syair ini ketika membaca buku Catatan Seorang Demonstran, yang menurutku sangat tidak penting -itu catatan-catatannya waktu SD, makin ke sini dia makin matang- red).
Back to topic, pagi ini Pituruh dilanda hujan abu (lagi). Mungkin kata dilanda kurang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi sekarang. Bagaimana pun juga ini hanya hujan abu yang turun pelan-pelan dan sedikit demi sedikit, sekecrit demi sekecrit. Daerah ini pernah dilanda hujan abu parah, ketika Gunung Merapi memuntahkan semua materialnya di tahun 2010, kala itu aku masih jadi mahasiswa baru yang unyu-unyu, sedikit syok mendapati tanaman-tanaman di rumah rubuh. Yang kedua, kala Gunung Kelud,belum lama ini juga memuntahkan materialnya, dahsyat, tak hanya rumahku, kostku pun kotor mampus, penuh lumpur. Itulah dua hujan abu terbesar yang pernah aku temui.
Aku agak heran, mengapa belakangan ini hujan abu sering terjadi, gunung meletus juga sering terjadi. Mungkin karena mereka lelah, atau karena lapar? Aku masih ingat, sampai SMA hujan abu menjadi sesuatu yang langka. Sampai-sampai kalau hujan abu sedikit saja dan daun-daun mulai memutih, aku merasa begitu amazing, seakan-akan, memang sedemikianlah yang namanya hujan abu. Tapi, ketika aku sudah sering menemui yang lebih besar lagi, maka aku hanya akan melontarkan kalimat “Yah, hujan abu (lagi), jalanan bakalan parah nih”.
Dulu, aku akan dengan senang hati melihat-lihat hujan abu, menanti-nanti hujan abu kian membesar. Tapi sekarang, setelah aku mengalami yang lebih besar, aku baru tahu kalau hujan abu itu ternyata tidak enak. Kemana-mana harus pake masker, kalau ada mobil lewat, kita seperti berada di padang pasir, belum lagi, letusan Kelud kemarin membuatku susah bernafas. Bagaimana tidak, debu masuk ke hidung semua, rambutku seperti sapu ijuk,demikian juga bulu hidungku. Seperti mash kurang menyiksa, debu juga membuat semua badanku gatal-gatal. Aku kapok mengamati fenomena hujan abu. Mungkin aku heran, sekarang hujan abu sering sekali terjadi, sebagaimana hubungan pacar yang putus cari lagi. Keji banget.
Aku cuman ingin menarik satu garis merah, kalau hidup kadang begitu. Kita seringkali menginginkan sesuatu dengan sangat, namun ketika keinginan itu datang, maka kita ingin membuangnya jauh-jauh. Kalau sudah seperti ini, aku tak bisa menyalahkan bencana, memang manusianya saja yang keji banget.
NB: Tadi barusan aku dapat konfirmasi setelah baca Viva News, kalau ternyata Merapi sedang batuk. Fiuuh.. ternyata soal informasi, aku lebih bermanfaat ketika berada di Jogja. Karena, kalau di sana, aku bisa menyebarkan informasi seluas-luasnya dan sesering mungkin. Kalau di rumah, akses internet sangat terbatas, hanya mengandalkan ponsel Tiongkok, tiga ratus ribuan dengan koneksi yang seakan ingin kukunyah ponsel itu. Demikian sekian dan terima kasih. Adetya Preteers melaporkan langsung dari desa Pituruh, Purworejo. Kembali ke Bang Laptop di studio :3

Rumah, 20 April 2014 10:56

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s