Ada Pageblug di Rumah Ini


Ayamku sayang, ayamku malang

Ayamku sayang, ayamku malang

Begitu aku tiba aku dapat laporan bahwa yang dua meninggal secara mendadak. Mereka ditemukan mati kaku di tempat tidurnya. Sementara sesaat aku di rumah, dua lainnya dengan terpaksa dimatikan untuk mengurangi penderitaan. Sesudah itu dua lagi, dan terakhir kemarin, aku sendiri yang harus menghabisinya. Lagi-lagi dua. Delapan telah mati sia-sia, tanpa ada yang tahu penyebabnya. Ya pageblug, tengah menyerang desa kami. Bahkan di tempat saudaraku, dua puluh lima, mati dengan badan tebujur kaku, tak ada yang tahu, karena semua terjadi dengan sekonyong-konyong.

Ya… itulah hal-hal tragis yang menimpa ayam-ayam kami. Bagaimana tidak, ayam yang setiap pagi berebut makanan di depan pintu dapur, kini mati satu per satu entah mati dengan konyol atau mati kami potong. Tiga hari di rumah, kami memotong lebih dari empat ayam. Dua di antaranya kami panggang. Memang begitulah adanya, sayang sekali mereka sudah besar-besar dan potensial untuk dikembangkan. Tapi kematian massal itu lagi-lagi mengurangi ayam-ayam kami. Dari belasan ekor ayam, terakhir kemarin yang tersisa hanya lima ekor. Aku sendiri berharap, bahwa ada yang tersisa dari mereka, pling tidak kalau satu saja seekor wanita hidup, maka dia akan memberikan keturunannya pada kami.

Well, kadang dalam hidup, kita memang harus kehilangan. Tak hanya itu, sekaligus kita juga dipaksa menerima. Tapi dengan situ seharusnya kita belajar. Kita seharusnya berpikir, bagaimana cara menanggulangi kematian ayam-ayam itu, atau meneliti dengan menyemprotkan semacam ramuan anti penyakit atau apalah. Tapi lebih dari itu, sebenarnya Tuhan memaksa kami untuk menikmati nikmat. Coba saja, kalau ayam-ayam itu tidak sakit, mungkin kami tidak akan memotongnya dengan massif, menyajikannya di atas meja kami, sampai-sampai kami jengah untuk memakannya. Maklum, ayam-ayam kami lebih sering digunakan untuk upacara-upacara tradisional, keperluan keluarga, dibikin panggang untuk oleh-oleh kerabat, atau sekedar untuk memeriahkan pesta Idul Fitri. That true. Sekali lagi au hanya bisa berdoa, Tuhan jagalah ayam-ayamku, seperti Kau menjagaku. Bagaimana pun juga, kadang di waktu tertentu, ayam-ayam tersebut menyelamatkan perekonomian keluarga kami. Untuk ayam-ayamku dini hari ini, mungkin aku memakan kerabatmu, tapi percayalah temanmu mati sebagai pahlawan. Dengn demikian aku akan bertenaga, aku bisa berpikir, aku bisa sehat menjalani masa-masa di kost. Dan tentunya, aku bisa berkarya. Terima kasih ayam-ayamku. Peluk jauh… mumumu..

 

Kost, 21 April 2014 4:23

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s