Mengintip Manuver Politik Gerindra


Saya bukan orang yang terlalu peduli dengan huru hara perpolitikan negeri ini. Tapi, bagaimana pun juga berkomentar tentang hal-hal menarik mengenai perpolitikan kadang-kadang perlu. Selama masa-masa kampanye ini, kita dihadapkan pada hiruk pikuk saling senggolan bakal calon presiden (padahal juga belum tentu jadi calon presiden, lihat dulu nanti hasil pemilu legislatif seperti apa).

Dari sekian banyak kubu yang saling serang, nampaknya kubu Prabowo (Gerindra) yang paling banyak diberitakan. Serangan itu tak lain ditujukan kepada Jokowi yang diusung oleh PDI Perjuangan. PDI Perjuangan dan Jokowi dituduh telah mengkhianati perjanjian yang sudah dibuat sebelumnya. Bam… politik memang penuh intrik dan menyakitkan bukan? Buntut dari hal ini, seperti menderita kekhawatiran berlebih, Prabowo menyerang membabi buta. Sedang Jokowi hanya menanggapi dengan dingin.

Isu-isu yang dilemparkan Prabowo nyatanya tidak mampu menurunkan elektabilitas Jokowi sebagai wakil presiden. Maka Prabowo kemudian menggunakan strategi yang lebih halus, menyasar orang terdekat Jokowi. Orang tersebut tak lain dan tak bukan adalah Ahok, wakil Gubernur DKI Jakarta yang juga orang Gerindra. Dalam iklan partai terbaruyang saya dapatkan di jejaring sosial, Gerindra mencoba menaikkan elektabilitas Gerindra melalui Ahok. Tertulis di sana “Gerindra adalah partai modern, satu-satunya partai di Indonesia yang tidak minta mahar politik saat seseorang ingin maju menjadi Bupati, Walikota, atau Gubernur. Jika saudara ingin ada 500 Ahok baru dalam lima tahun ke depan, pada tanggal 9 April 2014 ini. Coblos lambang kepala garuda No. 6, Partai Gerindra.” Kalau kita melihat tulisannya yang menggunakan tanda petik, maka kita akan tahu bahwa kutipan itu adalah kutipan langsung, entah dari Ahok atau dari Prabowo. Namun sepertinya pernyataan tersebut dari Ahok, mengingat di sebelah kanan tulisan statement terdapat foto Ahok, lengkap dengan jabatan yang disandangnya saat ini.

Pernyataan di atas jelas menjual Ahok, ini untuk mengimbangi popularitas Jokowi sebagai gubernur. Tidak hanya itu, pemilihan dua figur itu sekaligus dimanfaatkan untuk mencari celah konfrontasi halus. Bagaimana pun juga keduanya berasal dari partai yang saat ini tengah berseberangan (jujur perseteruan mereka cukup memuakkan, saya sendiri, merekomendasikan untuk tidak memilih partai yang kekanak-kanakan). Selain itu, posisi Ahok sebagai orang dekat Jokowi, jelas menguntungkan Gerindra. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam sebuah politik. Hanya saja, kita berandai-andai, jika ternyata Gerindra berhasil memanfaatkan Ahok, maka yang terjadi adalah, masyarakat dirugikan. Lihat saja, jika Aho dikonfrontir dengan Jokowi, padahal Gubernur dan wakilnya harus saling bersinergi dalam merumuskan kebijakan terhadap rakyat. Mungkin ini hanya semacam ketakutan tak mendasar atau sekedar asumsi (toh saya juga bukan orang Jakarta yang akan merasakan dampak langsung perseteruan mereka). Kalau keduanya tidak sejalan seiringan, apa yang akan terjadi? Bukankah kalau kita lihat, belakangan Ahok mulai getol juga untuk menyudutkan Jokowi, soal pembuktian terbalik, soal kampanye, dll.

Di sisi lain, media memiliki porsi yang cukup besar untuk membuat masyarakat pintar atau justru bodoh. Pemberitaan Jokowi yang terlalu dihype juga bukan sesuatu yang bagus. Sayangnya media-media belakangan lebih cenderung membodohkan masyarakat. Ekspos yang tidak berimbang, terhadap para bakal calon presiden, sangat disayangkan. Padahal ada banyak bakal calon presiden lain yang perlu blow up media, sehingga masyarakat lebih mengenal calon-calon mereka. Bukan hanya pembodohan, hype media yang tidak memberikan porsi serta ruang yang berimbang terhadap calon pemimpin Indonesia, membuat masyarakat tak punya pilihan, selain apa yang dicekokan oleh media. Seharusnya media, dapat menjadi fasilitas yang layak untuk menimbang positif negatif, track record, kebenaran, dan juga kelemahan kelebihan mereka. Kalau perlu media membuat review satu per satu para calon pemimpin itu secara berimbang, transparan, dan lugas. (tapi saya yakin sulit melakukan transparansi, karena bagaimanapun juga saya adalah orang yang juga bergerak di bidang jurnalistik).

Perseteruan Gerindra dan PDIP ini bukan sesuatu yang sehat dalam iklim demokrasi kita. Prabowo terlalu phobia terhadap kekalahan, sehingga kita dapat dengan melihat ambisinya yang begitu kuat. Seolah-olah tak ada yang boleh kalah dari dia. Di sisi lain, Jokowi seharusnya tidak disetir politik. Biarlah masyarakat tahu kerja real dia selama satu masa jabatan mengurus Jakarta. Bukan menjadi presiden bermodalkan citra media. Apakah dia akan terus menguntit Mbok Mega? Saya pikir kalaupun menang, lagi-lagi Jokowi bekerja bukan atas dasar pengabdian kepada masyarakat melainkan politik kekuasaan. Bukankah dipilihnya Jokowi sebagai calon presiden dari partai PDIP adalah bentuk dendam Mbok Mega, atas kekalahannya di dua pemilu? Bukankah dia pernah mengatakan bahwa 2004 dia dicurangi, 2009 dia dicurangi, apakah 2014 ketika PDIP kalah, dia juga akan mengkambing hitamkan kecurangan?

Sebagai penutup tulisan ini, politik memang kejam, penuh kebohongan, ambisi, dan juga haus kekuasaan. Berbagai dalih untuk kesejahteraan rakyat hanyalah tameng, selebihnya, politik hanya drama dan panggung sandiwara. Media seharusnya bisa mengambil posisi sebagai garda depan mencerdaskan masyaraat, memberikan pemberitaan yang berimbang, dan tidak ikut arus politik. Netralitas media massa menjadi penting, karena dari medialah, orang akan menentukan masa depan pemimpin Indonesia. Golput atau tidak, itu adalah hak seseorang,t api sebisa mungkin jangan golput. Selalu ada pilihan, meskipun itu yang terbaik dari yang terjelek. Salam pesta demokrasi Indonesia, mari membangun demokrasi yang santun, bijak, cerdas, serta transparan.

 

Kost, 6 April 2014 18:07

iklan Gerindra

iklan Gerindra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s