Kampanye Alternatif dan Cerdas


salah satu konvoi partai di jalanan

salah satu konvoi partai di jalanan

Menjelang pemilu legislatif 9 April mendatang, pesta demokrasi dilakukan oleh masyarakat (baca: simpatisan partai baik yang asli atau bayaran). Pesta ini ditunjukan dengan kampaye, baik kampanye terbuka, tertutup, maupun kampanye dalam bentuk konvoi di jalanan. Dari beberapa pantauan yang ada, masyarakat sebagai orang yang seharusnya berpesta, kebanyakan justru merasa risih dengan kampanye konvensional, terutama konvoi di jalanan. Tak sedikit dari mereka yang melontarkan keluhan, caci maki, bahkan umpatan-umpatan yang mengarah pada peserta konvoi partai.

Reaksi keras masyarakat tersebut bukan tanpa sebab. Para peserta konvoi biasanya sering melanggar lalu lintas, sehingga tak jarang membuat kemacetan di jalanan. Tidak  sampai di sini, mereka juga membuat gaduh dengan suara knalpot mereka yang bising dan memekakkan telinga. Ada beberapa alasan, mengapa kampanye dengan konvoi secara konvensional ini sangat dianjurkan untuk tidak dilakukan. Pertama, terkait peserta kampanye yang tidak jarang mengikutsertakan anak sekolah. Anak-anak yang seharusnya berada di sekolah untuk belajar justru melakukan hal-hal yang kontraproduktif dan non edukatif. Parahnya, tidak hanya mereka yang duduk di bangku SMA atau STM yang turut ambil bagian, anak-anak kecil usia SD dan SMP pun sudah banyak yang ikut. Kedua, konvoi kampanye rawan sekali pelanggaran lalu lintas. Bagi orang yang sudah pernah melihat konvoi ini, pasti tahu betapa ugal-ugalannya massa, seperti raja jalanan mereka memaksa pengguna jalan yang lain untuk menyingkir. Belum lagi, jumlah massa yang sangat banyak, sudah pasti membuat jalanan macet total. Hal ini berarti mengabaikan kepentingan khalayak umum. Ketiga yaitu bising. Fix mereka akan membunyikan knalpot, menggeber-geber sesuka hati tak peduli di lingkungan peribadatan dan kawasan sekolah atau pendidikan. Sikap arogan semacam ini menunjukkan intoleransi terhadap sesama masyarakat. Keempat, akan merugikan negara. Bagaimana bisa? Ketika berkonvoi, orang akan menggunakan kendaraan bermotor, yang pasti membutuhkan bahan bakar minyak. Selama ini BBM mendapatkan subsidi dari pemerintah. Lalu berapa banyak kerugian pemerintah, yang diakibatkan oleh konvoi kampanye, yang notabene sangat tidak berguna? Mereka dengan berbagai dalih menentang kenaikan harga BBM, namun mereka justru menggunakan BBM dan menggelembungkan beban pemerintah atas subsidi, yang seharusnya dinikmati oleh rakyat kecil. Last but not at least, mereka sering terlibat bentrok dengan massa dari partai lain. Sebagaimana diberitakan beberapa media, ada sekelompok massa yang berkonvoi dengan membawa senjata tajam. Pertanyaannya, mereka berkampanye untuk mengenalkan partai atau justru berkampanye untuk tawuran? Toh mengapa mereka mau melakukan semua itu? Apakah mereka dibayar mahal, bukankah paling-paling mereka hanya akan mendapatkan nasi bungkus?

Atas dasar-dasar di atas, saya menyarankan agar kita tidak memilih caleg dari partai yang berkonvoi di jalanan. Apa pasal? Mereka menertibkan massanya saja tidak bisa, bagaimana mungkin mereka akan bekerja untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat? Selain itu konvoi kampanye adalah simbol ketidaksiplinan, simbol pelanggaran terhadap hak-hak orang lain (baca: masyarakat umum), simbol peningkatan kriminalitas, simbol kebodohan, simbol intoleransi. Apakah kita mau dipimpin oleh orang-orang semacam ini? Tentu saja tidak dan seharusnya tidak. Memang disayangkan, para massa itu tetap mau melakukan tindakan bodoh. Sebagai masyarakat, kita memang tidak usah mencaci maki para pemimpin yang bodoh, yang tak becus mengurus pemerintahan. Kenapa? Sebab kita sendiri adalah orang-orang bodoh yang senang dibodohi dan bangga dengan kebodohan kita.

Berkaca dari hal-hal di atas, maka kiranya perlu untuk merumuskan format alternatif kampanye yang lebih cerdas serta positif. Memang untuk mengubah mindset partai dan simpatisan butuh waktu sekaligus kerja keras. Bagaimana pun mereka sudah terbiasa dengan paradigma kampanye konvensional. Ada beberapa ide yang bisa ditawarkan sekaligus diimplementasikan dalam pemilu berikutnya. Adapun hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama adanya pawai budaya. Selama ini konvoi menimbulkan kemacetan dan tidak memiliki nilai guna. Kalau misalnya konvoi diganti dengan pawai budaya, maka sekalipun itu tetap menimbulkan kemacetan, tapi setidaknya ada sesuatu yang terlihat menarik. Lho, akan susah nanti, kalau harus per partai mengadakan acara sendiri? Jawabannya adalah tidak! Siapa bilang, mereka akan menyelenggarakan pawai sendiri-sendiri? Pawai diikuti oleh seluruh partai dan dilakukan secara bersamaan. Mereka ingin membawa atribut partai, itu tidak ada masalah, namun, bagaimana cara mereka mengemas diri sehingga terlihat menarik. Untuk itu, kreativitas para calon legislatif dituntut. Belum pernah ada lho, kampanye partai digunakan sebagai magnet pariwisata. Nilai tambah lain, hal ini akan menimbulkan persatuan dan kesatuan antar partai dan juga pendukung. Mereka akan sama-sama untuk berusaha menampilkan yang terbaik. Bagaimana pun juga, kita harus ingat, bahwa yang akan kita pilih adalah wakil rakyat yang kolektif, bukan wakil partai yang kolektif.

Kedua, setelah pawai budaya, mereka bisa melakukan display partai. Di kampus kami, setiap kali tahun ajaran baru (baca OSPEK), para ormawa menampilkan sesuatu dalam display UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), agenda ini dimaksudkan untuk menarik minat mahasiswa baru supaya tergabung dalam unit kegiatan kampus. Konsep yang sama mungkin bisa diusung dalam partai, setiap partai akan bergantian menampilkan visi misi mereka, dilanjutkan dengan hal-hal yang menarik entah atraksi, kesenian, atau teatrikal. Itu semua tergantung kemampuan partai. Setelah display partai selesai, maka agenda berikutnya adalah hiburan rakyat. Kapan sih rakyat dapat hiburan? Mereka jarang sekali terhibur (bertolak belakang dengan wakil rakyat).

Ketiga, road show ke daerah pemilihan. Lagi-lagi kegiatan ini dilakukan bersamaan oleh semua partai. Jadi teknisnya, mereka para calon legislatif ini akan duduk di meja yang sama untuk dikonfrontir (dalam arti positif). Mungkin bentuknya akan lebih mirip dengan debat presiden, namun lebih sederhana. Di sini bukan debat yang dikedepankan, melainkan bincang-bincang interaktif. Yang mana, masyarakat atau pemandu acara bebas menanyakan hal-hal terkait pemerintah, daerah, dll. Fungsi dari road show ini untuk melihat kapasitas dan kapabilitas para calon anggota dewan (khususnya DPRD Kabupaten, karena bagaimana pun juga mereka adalah yang paling dekat dengan rakyat). Dengan diskusi dan bincang-bincang ini masyarakat sudah akan mendapatkan gambaran. Selama ini para caleg hanya promosi secara personal (yang mungkin sebelum bertandang, mereka sudah belajar terlebih dahulu untuk berbicara, menyusun kalimat, mempelajari materi semalam suntuk). Hal ini berbeda, ketika mendapatkan pertanyaan spontan. Kita akan mampu mendapati calon wakil rakyat yang tahu problem solving, cerdas, serta memiliki visi misi, tujuan, kemampuan, pengetahuan, dan sikap yang jelas. Tidak akan ada lagi cerita, masyarakat memilih kucing dalam karung.

Tiga format kampanye itu mungkin bisa dijadikan acuan sebagai kampanye alternatif. Mengapa format tersebut ditawarkan? Pertama kampanye bersama memungkinkan para caleg mengurangi biaya kampanye, yang secara tidak langsung mengurangi money politic juga. Kedua, kampanye bersama memungkinkan untuk membuat konsep acara yang meriah dan dapat dinikmati bersama-sama, baik oleh simpatisan secara khusus maupun masyarakat secara umum. Ini sekaligus mengurangi pengkotak-kotakkan di dalam masyarakat. Ketiga, kampanye bersama meingkatkan spirit profesionalisme dalam mengabdi dibandingkan dengan dorongan dan ambisi politik kekuasaan berbasis partai. Keempat, kampanye bersama akan memudahkan masyarakat untuk menilai dan memilih, mana calon yang layak dan mana yang tidak. Last but not at least, kampanye bersama dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi waktu. Bayangkan saja, selama ini kampanye hanya hura-hura dan tidak produktif. Kebersamaan akan lebih meningkatkan nilai-nilai dan sportifitas demokrasi, yang berarti akan menekan black campaign juga.

Atas dasar-dasar di atas, kiranya reformasi terhadap kampanye terbuka dan konvoi mendesak untuk dilakukan. Sudah saatnya kita menggiring masyarakat untuk memahami politik secara bebas, bijak, sekaligus cerdas.

 

Karangmalang, 6 April 2014 23:23

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s