Sore Ini


Hai, ini sore hidup menjadi sedemikian damai. Dengan renung dan hening yang kukuasai. Dalam sepi dan juga riuh yang memudar. Aku enggan pada bising-bising motor di luar sana, juga sebuah lagu yang terputar lewat memori. Aku paham soal alur dan ceritanya. Orang muda dengan segala kebebasan yang mengalirkan hasrat dan menggelegakkan libido akan pencapaian. Orang muda dengan seluruh cita yang akan dia rengkuh, meski waktu sedemikian hening untuk menjawab. Muda? Sekarang aku berganti mengheningkan cipta. Lebih dari seperlima abad yang lalu aku terlahir.

Hari demi hari manusia, detik demi detik, menyisakan segumpal rasa ngeri dan nyeri. Penghakiman waktu memang kejam, kita sendiri menopang hidup hanya dengan pengalaman-pengalaman. Masih terbias dengan jelas dalam ingatan, satu per satu lorong gelap kulalui dengan pelan. Aku menikmatinya, seraya membatin. Terjal demi terjal yang bisa saja dihitung dalam perjalanan, atau sekedar duri-duri yang sempat menyusup pada kaki-kaki yang telanjang. Aku baik-baik saja.

Hai dua puluh satu. Aku tak tahu bagaimana ini berjalanan, yang aku tahu semua adalah nyata. Hai kau pertama, ada jurang yang mungkin tak bisa terlompati, ada ngarai yang mungkin curam, ada gunung yang mungkin terjal. Tuhan menciptakan segala, juga usia. Kita tak akan latah dan membebek, walau melihat adalah penting. Kita tak akan pernah berjalan pada bayang-bayang. Sebab waktu-waktu tertentu kita perlu menyambung nyawa sendiri. Perlu.

Kost, 2 April 2014, 16:25

460023

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s