Melewatkanmu


 

Sore ini lagu soal perpisahan kubunyikan seperti aku meniup sangkakala. Soal wajah yang terkenang, hati yang menguatkan, dan kepak-kepak yang membelenggu untuk terbang. Bukankah aku lelaki setia dengan segala kesederhanaannya? Yang berharap engkau, entah siapa, masih berada di sisi.duduk menemaniku di sore hari, sambil menikmati senja. Ada segurat potret wajahmu yang masih terlukis jelas, seperti cakrawala langit jingga di ufuk barat. Randy Pangalila dia bercuap dengan nada-nadanya bilang Takkan Terpisah. Sedang aku? dengan hatiku aku tak akan memisahkan diri pada erat cinta yang kutabur namun tak bisa kusemai.

Ini sore mengingatkan aku pada kisah usang nan klasik. Percintaan dua muda yang hanyut diombang-ambing gemuruh ombak. Ini hidup bukan pantai. Namun pasang surut melawan kita dan tak segan menenggelamkan. Ada yang masih membatas, garis senyuman, tempat kita pernah menawar untuk tetap bersama. Nihil. Bukankah selalu saja tak mampu? Atau kita membenci rindu seperti membenci gagak-gagak yang menyuarakan kematian.

Kau adalah album, yang harusnya kukuliti satu-satu potretnya, mengobong seperti aku membuat ritual Ngaben. Kau adalah kelam, yang ingin kubuatkan wujudmu dalam ogoh-ogoh, kemudian melakukan pembakaran sehari setelahnya. Seharusnya memang tak ada yang peru dilewati, begitu juga soal perjalanan kebersamaan. Tapi bukankah sulit? Aku hening, tak ingin mengungkit luka.

Kost, 2 April 2014, 16:33

senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s