Hargai?


iStock_000003201978Small

Karena aku melihat dengan sebelah mata, maka aku tak mampu melihatmu dengan jelas. Karena kata orang cinta adlah buta, maka kebutaan menjadikanku lemah. Aku berdiri dengan idealisme dan cita-cita luhur untuk tak terkalahkan, namun aku kalah. Kau bilang aku harus tahu lagi ini. Apakah karena kau mulai membenci? Apakah karena aku terlalu melihatmu sedemikian rendah? Bahkan aku merendahkan diri lebih dari yang bisa kulakukan. Aku merendah padamu lebih rendah dibanding aku merendah pada matahari dalam ritual Jepang.

Apa salahnya hargai diriku? Tak ada yang salah, bahan aku terlalu memberi mu penghargaan yang membuatku akhirnya menua bersama memori. Kita seharusnya tak perlu mendebatkan siapa yang harus dihargai, karena penghargaan pada masing-masing kita adalah serupa embun dan denting bulir air yang melenting melalui telaga-telaga. Karena penrghargaan kita serupa penghargaan cahaya pada mentarinya.

Aku tak ingin membenci. Aku juga tak ingin melupa, begitu aku bicara..

Kalau Bams selalu mencari makna cinta, aku juga. Aku tak peduli Bunda mengatakan bahwa cinta adalah kasih sayang induk dan anak, kerabat mengatakan cinta adalah kasih sayang dua insan manusia, sebab bagiku cinta hanyalah lahir dan kita rasakan tanpa campur tangan orang lain. Karena cinta hanya tuk dirasa. Sesudah itu, biarlah cinta yang menuntun kita untuk menyelam lebih dalam.

Kost, 2 April 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s