Politikus (Poli:Banyak, Tikus: Tetap Artikan Sebagai Tikus)


140117-caleg_arogan_dilaporkan
Ngomongin soal PKK lagi yuk jeng. Wahahaha… kali ini gue mau ngomongin bagian dari agenda PKK kemarin. Nah ternyata, kegiatan ini mendapatkan kunjungan dari salah seorang calon legislatif DPRD Kabupaten. Gue yang notabene mahasiswa, biasalah ya ama politikus-politikus gitu sikapnya lumayan oposan. Gak cuman sekedar oposan sih, pengennya juga anarkis dan oplosan. Haha gak tahu kenapa gue selalu mual kalau ada calon anggota dewan ngomong bla bla bla..
Kali ini gue mau ceritain tuh orang. Gue juga punya rekaman semua pembicaraan beliau (mau panggil dese keknya gak sopan bener ama orang tua). Haha biasa gue kan selalu melakukan aksi spionase. Di manapun gue berada. Pertama, beliaunya yang terhormat ini mengucapkan salam terus kemudian mencoba untuk ngelawak (yang menurut gue sih garing ya, secara gue udah sentimen duluan). Gue gak ngerti berapa lama para anggota dewan ini belajar buat orasi sebelum terjun buat promosi dirinya sendiri. Skip deh gak penting. Nah, singkat kata, beliaunya ini menjelasan bahwa sekarang banyak sekali anggota dewan yang gak amanah, fathanah, mawadah, warahmah, tabliq, sidhiq, dan bla bla bla. Banyak sekali anggota dewan yang gak mutu, dengan latar belakang yang payah kasih jempol kebalik. Bla bla bla..
Terus beliaunya juga memaparkan, keberhasilan beliau selama dua periode, berhasil bikin undang-undang bla bla bla, berhasil ngebantu orang bla bla bla. Terus selain itu, ada juga beliaunya bilang apa fungsi legislatif bla bla bla. Dan ujung-ujungnya biasa coblos gue, gue ini calon terbaik lho. Bla bla bla, buat gue sih cuman busa doang.
Ironis banget, beliau ini mantan anggota polisi (ya udah pensiun dong sekarang), bilang kalau penegakan hukum bla bla bla, gak berpihak pada rakyat #mirror mana mirror. Lha ngapain baru koar-koar sekarang Pak, dulu kemana aja waktu jaman masih jadi polisi? Nyaman-nyaman aja kan ngerepoti rakyat? Terus cerita alih profesinya setelah pensiun, pengen jadi anggota dewan karena ingin mengabdi. Semua orang juga ngomong gitu, basi deh aih.
Yang paling bikin gue antipati adalah, kenapa sih harus mempromosikan diri sendiri dengan menjelek-jelekkan pihak lain, seperti misalnya wakil rakyat sekarang yang cuman kongkow-kongkow dan bla bla bla, yang gak becus, yang gak paham rakyat. Berarti nih bapak MERASA kerja bener, merasa becus, dan merasa paham rakyat dong? Eng ing eng, padahal ada falsafah Jawa mengatakan bisoo rumongso, ojo rumongso biso. Atau secara acak artinya, kalian itu harus bisa merasa, jangan merasa bisa. Sampai keluar statement, saya jadi ketua komisi karena gak ada yang berani jadi ketua. Waktu itu beliaunya bilang, kalau beliau gak mau dipimpin oleh pemimpin yang bodoh. Berarti dengan menjadi pemimpin, beliaunya merasa pintar dong? Merasa sudah adil, bertanggung jawab, bisa menyampaikan, dll?
Gosh, kill me. Gue gak akan milih calon wakil rakyat yang dari awal saja sudah terlihat arogan, dan mempromosikan diri dengan cara yang tidak elegan. Dia memaparkan bukti-bukti bahwa temannya yang duduk sebagai anggota dewan itu adalah orang yang gak pantes, nah lho ngurusin dan menyadarkan temennya aja gak bisa, gimana mau ngurusin banyak orang. Ckck prestasi pribadi aja dibangga-banggain. Gue lebih bangga dengan orang yang memiliki prestasi kolektif (dengan mengubah kultur di kalangan anggota dewan menjadi lebih baik) daripada bangga dengan prestasi-prestasi pribadi yang mengesankan bahwa orang lain tidak mampu melakukan itu, cissh ahh… Dan namanya emak-emak kalau dalam pertemuan kek gitu bisanya cuman nggah nggih nggeh doang, kalau dijejali ama hal-hal berbau intelek dikit. Orang beliaunya aja kudet, sekarang jamkesmas udah ganti BPJS. Bikin geregetan aja. Gue, di kamar sambil nungguin rekaman, cuman mencibir-cibir doang.
Dan lagi keluar statement yang kurang berkenan buat hati gue yang lemah lembut dan peduli dengan orang lain ini. Bapaknya ternyata rumpik juga, nyinggung-nyinggung aib orang, yang kebetulan sedang jadi trending topic di kalangan emak-emak. Tahu aja kalau emak-emak suka isu-isu hot. Please deh seharusnya, kalau memang memiliki kepedulian, kenapa gak sejak dulu, ketika belum jadi anggota dewan, atau ketika sedang tidak masa-masa kampanye. Dan kenapa harus memanfaatkan keadaan? Preet…
Entah mengapa gue mulai apatis ama politik. Bagaimanapun juga gue mencoba untuk memilih yang baik, tapi nyatanya banyak yang udang di balik bakwan, sok sowan, sok silaturahmi, sok manis, so so so drama. Lama-lama gue makan juga ntar. Pengen banget waktu tadi, gue dobrak dari kamar (tempat gue memantau semua keadaan sambil berkacak pinggang), kemudian memberondong beliaunya dengan berbagai pertanyaan, logika terbalik, kalau perlu sodorin surat pernyataan perjanjian bermaterai. Kalian-kalian mungkin bisa membeli ibu-ibu dengan cendera mata buku atau sejumlah uang, tapi buat gue, skiip. Mendingan gue bikin buku sendiri dan ambil uang di ATM :3
Kalau sampai sekarang masih nemu caleg-caleg yang bermanis-manis, semprot aja ama pestisida. Promosi diri kok mainstream gitu. Lagian kalau emang orang baik, orangnya berkualitas, tanpa koar-koar kebaikan pasti juga akan dipilih. Lha gimana mau mimpin daerahnya, kalau nyebut wilayah yang diwakilinya aja belepotan :3 Resss..

Home, 15 Maret 2014 1:21

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s