Haruskah Bicara Soal Cinta


sitting_man_sketch_by_radiance_eternal-d35mil8
Haruskah kita kembali berbicara soal cinta? Bagaimana bisa? Sedang aromanya sedikit demi sedikit sudah coba kulupakan. Kadang dunia menjadi sedemikian merasa penting untuk bisa mempengaruhi hati. Haruskah kita berbicara lagi soal cinta? Lantas bagaimana? Bukankah alirannya sudah sengaja ingin kukeringkan serupa danau-danau musim kemarau? Bukankah kemarau sendiri yang meminta ini menjadi sedemikian teguh dalam kerontang, mengapa tiba-tiba ada gerimis? Haruskah kita kembali berbicara tentang cinta? Kuasanya sepertinya bukan soal kita, melainkan soal aku. Ada yang mengendap-endap, bersembunyi dan hanya kadang melirik cepat. Mata itu, serupa elang pada kawanan anak ayam. Betapa dekap menjadi sesuatu yang kubenci pada malam-malam, karena bukan soal hangat, melainkan dingin yang diam-diam merayap sesudah itu. Haruskah kembali berbicara soal cinta? Bukankah dia adalah anak panah yang menelusur jauh menembus jantung kemudian meninggalkan luka, melesat pergi begitu saja? Kemana? Aku bahkan pernah mendongengkan bahwa busur itu meluncur jauh, meinggalkan anak panah dan tak kembali. Dia tidak berbekas bukan? Haruskah kita berbicara soal cinta? Mungkin harus, sedang aku akan melupa rasa sakit.

Mandala, 7 Maret 2014 23: 39

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s