Kebahagiaan Itu Sudut Pandang


gini juga bikin kita bahagia

gini juga bikin kita bahagia

Bahagia itu apa? Mungkin itu semacam makhluk tak berbentuk yang membuat kita ngerasa bahwa hidup masih memiliki arti. Lalu kebahagiaan itu apa? Mungkin itu semacam benda, yang mana menunjukkan bahwa kita sebagai manusia masih memiliki eksistensi untuk memilih jalan hidup. Bahagia bukan sekedar bagaimana kita ersenyum atau tertawa, karena betapa kita melihat bahwa keduanya kadang seperti wig. Palsu. Ada berapa banyak orang yang berpura-pura memiliki kehisupan yang indah, sementara dlaam dirinya ada tangis?

Kalau aku ditanya soal kebahagiaan, maka aku akan emnjawab bahwa kebahagiaan itu sudut pandang. Tak peduli sebenarnya, berapa banyak orang yang mencibir hidup kita, merendahkan, atau berusaha merusak apa yang sudah kita bangun. Tak peduli juga seberapa brengsek dan bangsatnya manusia lain menjatuhkan kita. Itu tidak penting.

Minggu kemarin aku pulang kampung lagi, dengan Prameks yang seperti biasanya, dengan orang-orang yang tak juga luar biasa, dengan stasiun Lempuyangan yang masih juga sama. Kebahagiaan itu sudut pandang. Aku sudah terbiasa melalui kawasan sepanjang rel itu, rumah-rumah penduduk yang jauh, jalan-jalan yang searah lurus melintang, atau sawah-sawah yang hijau. Semua itu biasa saja, sama dengan yang biasa aku lalui, tidak ada yang berubah. Tapi aku saat itu sadar, bahwa hidup lebih dari itu.

Artinya, bagaimana mungkin kita bisa bahagia, kalau hanya memandang hidup sebagai sesuatu yang biasa, bukan sesuatu yang menarik? Bagaimana mungkin kita bisa bahagia, sementara kita menghadapi berbagai tuntutan untuk mencapai apa yang menurut kita sempurna? Lantas dengan kesempurnaan level kitapun, terkadang kita juga tidak merasakan kebahagiaan. Mengapa kita tidak mengkonstuksi kebahagiaan dengan memandang hidup secara lebih positif?

Sawah hijau yang segar yang mungkin akan menghidupi banyak orang, orang-orang yang tertawa, yang mungkin mereka juga memiliki masalah baru saja. Seorang anak kecil bandel yang berjalan-jalan di depan bangku kita “Ah mungkin kita dulu juga sedemikian, namun mereka lucu. Mereka lahir dengan perjuangan”, atau melihat mereka yang tertidur pulas sambil terduduk, betapa nyenyaknya.

Hidup itu sendiri sudah merupakan beban (sebenarnya), jadi untuk apa embebani diri dengan pemikiran ketidakbahagiaan hidup? Untuk bahagia hanya diperlukan sudut pandang yang berbeda, yang lebih positif tentang dunia.

 

Pagi, 22 Janu 2014 5:29 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s