Cuaca Itu Hati


banjir itu bagian dari labilna cuaca, kalau kita labil jadinya juga gitu, banjir (air mata)

banjir itu bagian dari labilna cuaca, kalau kita labil jadinya juga gitu, banjir (air mata)

Akhir-akhir ini cuaca sangat labil, kadang panas, tiba-tiba gerimis, lalu hujan, dan panas lagi, hangat. Hmmm… Kalau dipikir-pikir cuaca itu kaya hati, kadang sedih, kadang seneng, tiba-tiba galau, tiba-tiba pengen nangis. Mungkin dulu bahan dasar cuaca ama manusia itu sama. Betapa seringnya sih kita jadi manusia moody. Cuaca itu susah sekali ditebak oleh manusia, begitu juga hati seseorang susah juga ditebak ama manusia lain.

Kadang ketika kita lihat cuaca agak cerah dikit, kita langsung deh buru-buru ngeringin jemuran (apalagi yang udah beberapa hari gak kering). Eh baru aja ditaruh di jemuran, cuaca mendadak mendung, gerimis. Manusia juga gitu, tidak pernah statis hatinya, selalu aja berubah-ubah sesuka mereka. Untuk tahu hati orang tuh juga gak gampang, birokrasinya ribet, salah-salah kita kena umpatan “Kepo banget si lu jadi orang”. Gimana gak ribet juga, coba deh pikir ulang sekarang, berapa lama sih kalian bisa deket ama orang, sampai orang tersebut mau cerita segalanya? Harus lewat jalan pedekate dulu, jadi teman dulu, ntar kalau udah lama deket maka jadi sahabat. Setelah jadi sahabat pun seseorang gak serta merta mau mengungkapkan setiap permasalahannya, apalagi kalau kepentok dengan makhluk yang tertutup.

Kalau cuaca udah galau mampus gitu, sementara Tuhan gak ngasih tahu apa yang mau Dia perbuat, ujung-ujungnya sebagai manusia kita cuman bisa ngomel dan marah-marah. Manusia juga gitu, tahu orang di sekitarnya mengubah mood mereka dengan cepat sementara kita gak tahu musti gimana, apa masalahnya, biasanya kita juga bakalan ngomel, maki-maki. Manusiawi sih.

Kadang untuk gak jadi cuaca kita gak bisa juga. Harus statis dengan perasaan yang sama itu hal susah, mau cerita juga gak tahu mau cerita ke siapa, kalau pun nanti cerita juga nantinya gak bakalan tahu, apakah kita akan mendapatkan solusi atau masalah baru. Kalau udah kepentok dengan yang kaya gini, kita cuman diem. Orang-orang di sekitar juga cuman diem, alhasil, yaudah buat gue keadaan kek gini tuh malah ngedukung. Kadang orang dengan mood yang gak bagus, dia gak perlu mendapatkan berbagai penghiburan dan bla bla bla, justru kadang dia cuman sendiri aja.

Ingin jadi cuaca? Sah. Ingin jadi manusia? Sah. Apapun pilihannya, untuk menjadi manusia atau cuaca, itu hak kita. Yang penting bagaimana menempatkan diri, menjad cuaca yang baik, serta menjadi manusia yang tidak mudah menghakimi.

 

Pagi, 22 Janu 2014 4:44 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s