Aku Mencintai Caramu


Aku suka caramu mencintaiku. Haha aku semakin enggan beranjak. Maksudku, aku tak peduli apakah ini cinta atau bukan, yang jelas aku sudah terlempar pada kubika dimana aku tidak lagi memikirkan apakah nanti kau kudapat atau kita sekedar saling menghidupkan. Yeay sepertinya aku sedang jatuh cinta. Ahh… sakit.
Aku merasa sedang berperan sebagai Nam dalam film First Love (A Little Thing Called Love) sedang dia adalah Shone. Bukan, ini bukan masalah gender, soal maskulinitas atau feminitas. Ini lebih terkait pada siapa di posisi siapa, siapa merasakan apa, atau siapa yang mencintai dan siapa yang menguji. Ya soal kedudukan itulah aku memberikan perumpamaan.
Cinta itu apa? Apakah dia yang dengan serta merta memberikan segalanya bagimu (dan sesudah itu dengan serta merta dan begitu mudahnya dia meninggalkanmu? Are you kidding me?). aku masih berproses untuk mencintai seseorang, haha mungkin lebih tepatnya mencintai masa depan atau melupakan masa lalu. Dia, ya dia bukan orang yang serta merta mau menerima aku apa adanya. Itu juga yang dilakukan Shone kepada Nam kan? Aku sedang tak membicarakan bahwa cinta itu tanpa syarat. Namun sebenarnya akan lebih baik kalau cinta itu bersyarat kendati itu sekedar formalitas.
Maksudku, silahkan beri orang yang mencintaimu beberapa tantangan, tak peduli dia bisa melakukannya atau tidak. Karena, kalau dia benar-benar cinta maka dia akan melakukannya (maksudku segala hal yang positif). Apakah dia tidak tulus? Baiklah mari kita tengok, apakah ketika Shone menghina Nam, itu berarti Shone benar-benar menghina? Apakah ketika Shone bersikap seolah tidak peduli, itu dia benar-benar tak mencintai Nam dan hanya bermain-main? Lihatlah kalau memang itu yang dia lakukan, kenapa dia bersusah payah mengoleksi foto-foto Nam, menumbuhkan pohon mawar, bersaing dengan sahabatnya sendiri kemudian terluka? Buat apa? Kadang kita tidak menyadari bahwa seseorang bisa saja mencintai kita dengan cara yang berbeda, dengan cara kebalikan misalnya.
Aku sedang dekat dengan seseorang, aku tak peduli bagaimana akhirnya nanti. Bahkan untuk bertemu, dia memberikanku satu syarat, aku harus lulus kuliah terlebih dahulu. Well, it’s joking. Whatever siapa yang peduli dengan guyonan ini. Aku lebih menyukai bergelut dan bergulat dengan perasaanku sendiri. aku tak peduli dia mencintaiku atau memainkanku, karena bagiku tidak penting. Aku hanya merasa tertarik padanya, tak peduli dia tertarik denganku juga atau tidak. Tak apa jika seseorang hanya ingin berbaik hati memotivasiku kemudian kami berakhir dengan hubungan yang tanpa apa-apa. Setidaknya itu lebih bagus, daripada sekedar dia menerimaku dalam sebuah hubungan kemudian kita bersenang-senang dan aku akan terpuruk suatu saat. Aku sudah sering tertarik pada orang dan tak ada satupun yang mampu menjanjikan pertemuan selepas aku lulus. Lol yang ada justru sebaliknya, mereka meminta sebuah pertemuan yang terkadang aku bahkan tak mampu menyanggupinya.
Dia berbeda bukan saja karena perjumpaan kami yang tidak disengaja. Namun, caranya memberlakukanku pun juga berbeda dari cara orang lain memperlakukanku. Dia tahu bagaimana membuatku berkembang tanpa harus terkunkung perasaan, dia tahu bagaimana membuatku tetap bisa berjalan dengan lebih cepat tanpa menjanjikan banyak hal. I love this way. Bagiku cinta seperti ini lebih tulus, tak peduli apa nama hubungannya. Hai yang di sana, aku mencintaimu bukan serta merta karena aku mencintai dirimu, melainkan karena aku mencintai caramu 
Pagi Kost, 8 Des 2013 10:00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s