“Mengintip” Video Mesum SMPN * Jakarta


Apa yang kalian pikirkan ketika membaca judul di atas? Benarkah kita akan mengintip video mesum itu? Ya kita akan buka-bukaan soal video tersebut. Mungkin sesuatu di bawah ini akan membuat kalian setidaknya tahu, bagaimana hal itu terjadi.

1 2Well, belakangan memang heboh sekali pemberitaan mengenai video mesum yang terjadi di salah satu SMP negeri di Jakarta Pusat. Hah SMP? Ya tidak salah lagi, pelakunya adalah siswa kelas VIII dan IX. Apa yang kalian pikirkan soal ini? Betapa bejatnya? Dasar pelajar tidak tahu malu? Atau segala sumpah serapah lainnya? Jangan terlalu mudah menghakimi sekalipun itu salah. Berkeca pada diri sendiri, jangan-jangan kita menghujat habis-habisan mereka, namun kita justru memburu video mereka, mencari-cari di youtube dan akhirnya kecewa, karena yang kalian dapatkan hanya video pemberitaan mengenai kasus ini.

Betapa kompleksnya membincang perilaku remaja jaman sekarang (saya masuk dalam golongan ini, baca: remaja). Setiap kali ada kasus, maka yang disalahkan pertama kali adalah kepala sekolahnya. Entah saya sebenarnya kurang tahu apa hubungan kepala sekolah dengan terjadinya perbuatan mesum di sekolah. (silahkan hujat saya atas statement bodoh ini). Tapi kita harus jujur, siapa sih yang bisa mengawasi kegiatan siswa pasca pembelajaran? Saya yakin sekolah juga sebenarnya tidak mendukung praktik semacam ini, kelas seks. WTF. Secara jujur, saya ingin tanya, di sekolah saya sendiri dulu, kalau pasca KBM sekolah juga sangat sepi kok, maka sangat wajar jika sekolah sampai kecolongan. Apakah ketika dinas memberhentikan atau memutaskan kepala sekolah permasalahan selesai? Lalu kepala sekolah menyalahkan guru yang tidak becus mendidik siswanya? Lalu guru menyalahkan penjaga sekolah yang tidak becus mennjaga dan mengawasi kegiatan di lingkungan sekolah? Terus guru menyalahkan siswa yang lain yang kadang notabene tak tahu apa-apa? Menuduh kurang responsif? Kalau saling menyalahkan seperti ini apakah kasus ini dan pembuatan video-video serupa dapat dihentikan?

Pemberitaan juga banyak yang saya rasa kopong. Ada salah satu portal berita yang memberitakan, intinya sekolah masih sangat sulit dihubungi dan erkesan menutupi kasus ini. Saya hanya ingin berteriak dengan geregetan, wooeeyy namanya juga aib, siapapun yang punya aib akan menutuinya, dan itu normal. Justru tidak normal ketika pihak sekolah dengan bangga mempublikasikan semua itu, saya membayangkan pihak sekolah dengan serta merta mengadakan konferensi pers dan memberikan statement awal “Dengan bangga kami menyelenggarakan konferensi pers ini, silahkan apapun pertanyaannya akan kami jawab dengan senang hati (sebenarnya ada hal yang lebih sarkastik untuk diungkapkan, namun karena saya memiliki nurani, maka saya menggunakan bahasa yang lebih halus)”. Serius harus begitu ke media? WTF.

Lalu ada pemberitaan juga yang menyebutkan dengan tanpa dosa “pemberitaan ini menjadi heboh lantaran adegan mesum di lakukan di lingkungan sekolah (intinya gitu lah). Haiks… dimana-mana kalau ada video mesum beredar pasti heboh, mau dilakukan di kelas kek, mau dilakukan di kost kek, mau dilakukan oleh pelajar kek, mahasiswa kek, pejabat kek, hal-hal semacam ini selalu membuat heboh masyarakat kita. Lantas apakah mentang-mentang itu dilakukan di sekolah, hal ini membuat mereka menanggung dosa yang lebih besar? Sementara kalau mereka melakukannya di luar sekolah itu akan mengurangi “dosa” mereka terhadap media?

Ohh, what the joke. Are you kidding me? Sekarang menyoal perilaku siswanya. Satu statement saja yang ingin saya keluarkan untuk mengomentari video ini (saya tidak menonton videonya, saya hanya menonton video pemberitaan mengenai hal ini di youtube), saya hanya ingin katakana “tidak habis pikir”. Come on, apakah kalian tidak memiliki tempat lain, itu institusi yang ironis untuk melakukan adegan semacam ini. Sekolah. Dan lihatlah kalian bahkan belum lulus SMP. Dulu saya SMP, ketika menyukai kakak kelas saja dibuli, bagaimana mungkin mesra-mesraan di sekolah? Oh anak-anak yang manis, kalian paling tidak menghormati sebuah lokasi lah. Coba kalau kalian melakukan di tempat lain, di rumah misalnya, pasti pemberitaan juga tidak akan senyinyir ini.

Oke, bukan berarti saya di sini mendukung dunia permesuman. Bukan berarti saya di sini menganggap bahwa mesum di luar itu lebih baik dibandingkan mesum di dalam lingkungan sekolah. Bukan berarti saya di sini menganggap bahwa mesum adalah perbuatan yang berhak dilakukan oleh seorang pelajar. Sama sekali tidak, bagi saya apapun namanya, dimanapun tempatnya perbuatan mesum itu tetap salah. Namun saya tidak akan menghujat kalian, karena saya tak ingin dianggap munafik. Setidaknya sikap saya di sini mencoba netral.

Menyoal pelaku. Saya sangat miris ketika melihat cuplikan adegan, bahwa di sana ada teman korban dan juga tersangka, cewek memakai jilbab. Hah? Iya memakai jilbab. Ehm… saya sama sekali tak ingin rasis dan menyinggung agama manapun (yang notabene agama saya sendiri). Sekarang saya setuju bahwa lebih baik memakai jilbab hati terlebih dahulu, dibandingkan jilbab lahiriah. Karena ketika kita melihat wanita berjilbab namun memiliki kelakuan memalukan, saya justru khawatir hal ini akan merusak citra Islam, tentu ini memberikan dampak dan efek domino. Bayangkan, ada seorang anak berjilbab, yang harus mengatakan “astaghfirullah” ketika mlihat hal-hal yang tidak sesuai dengan agama, dia justru dengan semangat mendukung tindakan asusila ini, mau ditaruh di mana muka saya sebagai seorang muslim? Saya kadang sulit membela ketika agama saya dikatakan agama munafik, hanya karena tingkah laku sekelompok orang. Sebab orang melihat sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat dan realitasnya seperti apa? Amaka miris sekali ketika sering saya melihat ada yang koar-koar jalang, pelac*r dan hal-hal yang tidak mengenakan kepada wanita hanya karena wanita tersebut tidak menutup aurat. Saya juga tidak menyalahkan orang yang degan ketus mengatakan “Buat apa nutup aurat kalau kelakuan lebih parah?”

Saya cukup prihatin juga ketika melakukannya dengan tertawa-tawa. Saya tak tahu mana pelaku dan mana korban, yang saya tahu mereka bersama, hanya itu (dan biasanya apapun posisinya lelaki diposisikan sebagai tersangka, maaf saya benci ini). Saya tak habis pikir. Silahkan kalian melakukan apapun, tapi kenapa harus didokumentasikan? Oh God. Kenapa tidak belajar dari kasus Ariel? Atau siapapun itu yang pernah mengalami kasus serupa? Senarsis-narsisnya saya, saya tidak akan pernah berfoto ria atau merekam video dalam keadaan saya mandi. Karena saya tahu, dokumentasi-dokumentasi semacam itu sangat berbahaya. Saya sering telanjang (kalau tidak percaya cek teman kost saya, bahkan ketika saya kost sekamar berlima). Foto telanjang saya juga banyak beredar, namun itu topless. Hal yang masih wajar untuk sebuah dokumentasi (saya sedang berusaha penggemukan, dokumentasi semata saya lakukan untuk melihat before dan after). Ayolah seharusnya kita bisa lebih cerdas dan bijak dalam bersikap, main bertiga ditonton oleh documenter. Kalian sedang tidak bikin video klip. Itu yang harus dicatat.

Oke lupakan persoalan agama itu, saya akan membahas ini dari kacamata sosial. Sebenarnya siapa yang salah sih? (jujur saya salah memberikan pertanyaan semacam ini) kalau kita berbicara slaah siapa, maka kita akan saling menyalahkan dan ujung-ujungnya ini menjadi seperti lingkaran setan. Yang perlu dipahami di sini adalah perkembangan zaman yang sedemikian cepat, segala bentuk pengaruh bisa saja masuk tanpa bisa dibendung. Kalau kita menyalahkan pendidik, lho kenapa kita menyalahkan beliau? Apa mereka tidak bisa mendidik? Lantas pendidikan yang seperti apalagi? Pendidikan karakter? Please deh jangan terlalu latah. Pendidik atau guru saya pikir sudah tidak kurang-kurang untuk sekedar mengatakan “Anak-anak hindari perbuatan asusila, kalau memakai internet harus bijak, jangan sampai kalian terjerumus pada perbuatan yang tercela. Yang akan menyesal nanti kalian sendiri” dan blab la bla… hal tersebut sering saya dengar dari para guru (bahkan guru saya sendiri). Namun, jujur saja hal itu tidak berpengaruh terhadap pola pergaulan kami. Lantas kita akan menyalahkan orang tua? Weits jangan salah beban orang tua sangat besar, mereka melakukan banyak hal untuk kita, jadi sangat kasihan sekali bila mereka dikambinghitamkan. Ada banyak kasus dari teman saya, mereka berasal dari keluarga yang baik-baik, bahkan sampai besar teman saya dididik secara religious, tapi nyatanya hal itu mentah. Mau menyalahkan perkembangan jaman? Are you kidding?

Oke sebagai closing statement saya ingin mengatakan, bahwa kita sudah berusaha menyalahkan banyak orang dan pihak, tapi hasilnya nihil. Lantas siapa yang harus bertanggungjawab terhadap hal ini? Saya hanya akan menjawab, yang bertanggungjawab mengenai hal-hal personal dan individual adalah diri sendiri. Segencar apapun orang lain melakukan edukasi, hal itu akan mentah, jika kita tidak bisa mentamengi diri kita sendiri. Well, separah-parahnya anak sekarang, (saya tidak ingin munafik melihat keadaan) apapun yang kalian lakukan, percayalah bahwa dokumentasi tidak akan membuat kalian terlihat dua kali lebih ganteng atau cantik. Ini hanya akan membuat kita terkenal dengan cara memalukan. Sekali lagi, diri kita sendirilah yang bisa betanggungjawab atas segala bentuk pilihan yang kita ambil. Setiap keputusan akan menghadirkan konsekuensi, pilihlah sesuatu yang membuat kalian aman. Belejar seks tidak berarti melakukan seks. Buat adik-adik belajarlah seks secara dini dan BENAR. Tidak perlu membenarkan metode pembelajaran seks yang kalian yakini benar. Salah-salah kalian sesat.

Good morning all,

6:26 1 Nov 2013

2 responses to ““Mengintip” Video Mesum SMPN * Jakarta

  1. merinding lihat videonya…

    gak sanggup (kita manusia biasa masih suka buat dosa) lihatnya.

    tega, goblok, bodoh, habis kata sumpah serapah saya buat mereka (apalagi beritanya dikabarkan ANAKNYA dipaksa (WTF!).

    Gila gila… bisanya sebejat itu…. nangis batin saya waktu lihat videonya, saya skip beberapa kali lalu saya delete.

    saya memang download videonya (bukan u/ dkoleksi), cuma penasaran j….

    akhir kata kembali kepada kita masing2, aib bukan untuk konsumsi publik.

    pelaku mungkin harus ke psikolog n d asingkan sementara.

    hey yoy…!!!! temen2nya pelaku…. FUCK…!!!!
    T_T T_T

    • heu heu daripada bersumpah serapah lebih baik memendamsemuaitu saja. sama kaya yang sudah saya tulis panjang lebar di atas. hehe lebih baik intropeksi diri lah, tapi kalau liat videonya kok senyum2, tapi yasudahlah saya tak berhak mengomentari orang lain, sebab kadang melihat orang lain lebih mudah daripada melihat diri sendiri🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s