Cuap-Cuap Kenaikan Upah Buruh


Hari ini banyak status yang menyatakan kenaikan upah buruh (dan saya yakin yang membuat status adalah buruh). Saya sebearnya tidak suka dengan istilah buruh, karena itu membuat seseorang mengalami stratifikasi. Ada tingkatan-tingkatan kelas (walaupun memang iya). Saya sebenarnya lebih suka meyebutnya pekerja (meskipun pada akhirnya sama saja, tapi setidaknya pekerja memiliki konotasi orang yang bekerja, dan bekerja tidak merujuk pada hal yang spesifik, karena apapun pekerjaannya selama orang itu melakukan sesuatu maka dia bekerja).

1 1Well, sekarang masuk ke pokok permasalahan. Kalau buruh menuntut kenaikan gaji hingga 3,7 juta sah atau adil gak sih? Kalau saya bilang terlalu berlebihan, saya masih ingat jaman SMA dulu UMR itu masih sekitar satu jutaan di Jakarta dan di daerah saya masih sekitar lima ratus ribuan, sekarang di daerah saya mungin sekitar delapan ratus ribuan. Kalau saya amati kenaikan upah buruh belum terlalu lama dilakukan dan mereka menuntut kenaikan lagi? Kenaikannya yang mereka ajukan tidak tanggung-tanggung pula.

Saya hanya takut, kalau benar-benar buruh memaksa adanya kenaikan ini, lantas akan berapa banyak perusahaan yang gulung tikar. Di Indonesia raya ini orang berprofesi tidak hanya buruh (lebih spesifik lagi buruh pabrik). Kalau misalnya tuntutan ini memicu sentimen para pemilik perusahaan, maka saya yakin investor akan berpikir ulang untuk menanamkan basis perusahaannya di Indonesia. Kalau hal itu terjadi, maka mau dikemanakan itu calon pekerja para pengangguran? Adanya banyak PHK saja sudah membuat masyaraat kita gelagapan, terlebih ketika ada penutupan perusahaan. Memangnya mau jadi pengangguran lagi?

Syukur-syukur mereka masih ada. Tapi masalahnya tidak akan semudah itu, kalau memang upah buruh naik, maka akan dipastikan bahwa harga barang-barang kebutuhan akan ikut naik. Inflasi. Namun rakyat kecil tak akan peduli soal itu, atau bahkan mereka tidak tahu apa itu inflasi. Namun bayangkan, apakah semua orang adalah buruh? Bagaimana dengan mereka petani-petani? Bagaimana dengan mereka pemilik home industri? Apakah kita harus egois untuk memperkaya diri, sementara jutaan rakyat tercekik karena kebijakan yang kita harapkan? Lantas apa bedanya kita dengan koruptor?

Sekarang kita melihat ini dari sisi perusahaan. Tingginya upah buruh akan berimbas pada produksi. Bagaimana pun kita akan mengasumsikan bahwa upah buruh masuk dalam modal produksi, maka barang-barang produksi pun mau tak mau akan naik harganya dan masyarakat protes. Lantas siapa yang seharusnya diprotes? Perusahaan? Mereka tidak bisa disalahkan, karena mereka memiliki hak untuk menyelamatkan perusahaan mereka dari ancaman gulung tikar. Itu pun kalau barang mereka kemudian laku, kalau tidak? Mau tak mau mereka akan mengurangi jumlah karyawan. Siapa yang terimbas? Buruh itu sendiri.

Memang benar, bahwasannya kita jangan mau dijadikan sebagai negara basis industri hanya karena buruh kita mau dibayar murah. Namun, kalau perusahaan-perusahaan hengkang dari negeri ini, lantas siapa yang akan mengganti pekerjaan mereka? Kita juga harus realistis. Upah sebesar 3,7 adalah upah untuk seorang lulusan S1. Are you kidding me? Ya, kita tidak bisa menyangkal (saya sebenarnya benci untuk berkoar tentang tingkat pendidikan seseorang, namun saya harus melakukannya). Bayangkan saja upah yang tinggi seharusnya diiringi dengan kualifikasi pekerja dengan kemampuan yang lebih. Apa jadinya kalau kemudian perusahaan menaikkan grade kepada calon pekerja mereka, hingga minimal S1. Sementara ada berapa banyak orang yang mampu meneruskan hingga lulus S1? Lantas orang yang tidak kuliah mau dikemanakan? Kita akan menambah pengangguran.

Jangan-jangan ada yang mengatakan, saya menulis ini karena hidup saya enak? Saya tidak akan bilang wow, melainkan wew. FYI, orang tua saya adalah buruh juga. Tapi, saya berpikir bahwa kenaikan upah buruh hingga 3,7 juta hanya akan menimbulkan efek domino, efek yang tidak hanya akan menyinggung masyarakat, melainkan juga buruh itu sendiri. Gaji seorang PNS saja terkadang tidak mencapai kisaran itu. Mereka hanya akan mendapatkan gaji sebesar itu atau lebih, ketika mereka sudah tersertifikasi.

Saya kadang ingin bertanya, apakah buruh itu tidak menyadari, bahwa upah seseorang di suatu wilayah hendaknya disesuaikan dengan tarif normal kehidupan seseorang di wilayah tersebut. Kalau memang sudah bisa hidup layak, kenapa harus meminta sesuatu yang jauh lebih besar. Mungkin karena sifat manusia, yang terlalu cepat puas. Saya hanya ingin tahu, apakah ketika Anda pada posisi menjadi bos di suatu perusahaan, Anda juga akan dengan senang hati dan mudah menaikkan upah para buruh Anda. Saya bahkan tak yakin, Anda mau memberikan uang kepada misalnya pembersih jalan, tukang taman, atau pemulung? Justru mereka-mereka inilah orang yang banyak berjasa dan jauh lebih penting untuk diperjuangkan.

Kalau kita berkilah menjadi buruh itu capek, lantas bagaimana dengan pekerjaan lain? Adakah pekerjaan yang enak selama kita menjadi bawahan? Orang yang kerjanya terihat enak pun belum tentu enak. Lihat saja pegawai bank, sepertinya hanya duduk di depan komputer, apakah mereka tidak capek? Jelas mereka lelah, namun dengan lelah yang berbeda, sedikit salah saja ancamannya out. Kita tidak bisa membandingkan pekerjaan hanya karena kita menjadi manusia yang merasa paling lelah sedunia. Setiap pekerjaan menghadirkan konsekuensi, kalau tidak konsekuensi fisik ya konsekuensi otak, setiap pekerjaan dituntut akan tanggung jawab yang berbeda. Maka salah jika kita menggampangkan suatu pekerjaan, hanya karena kita melihat pekerjaan itu lebih mudah dari apa yang kita kerjakan.

Menurut saya menuntut penurunan harga kebutuhan hidup dan penghapusan sistem outsourcing lebih realistis dibandingkan menuntut kenaikan upah buruh hingga 3,7 juta. Bagi saya silahkan menuntut hak, selama itu realistis dan tidak merugikan pihak lain. Menuntut bukan sekedar meminta dengan paksa, melainkan dengan pertimbangan dan logika yang matang. Saya memang belum bekerja, namun saya juga bukan kapasitasnya membela pemerintah atau pihak perusahaan. Saya memang belum tahu banyak dan bodoh soal ini, namun setidaknya saya melihat fakta dari apa yang ada di sekeliling, sebab orang berteori sudah terlalu banyak. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s