Menengok Angka 21


Dua puluh satu tahun, rasanya baru kemarin saja saya tumbuh. Entah mengapa waktu berjalan begitu cepatnya. Baru kemarin saya menelanjangi gunung Kambang dengan teman-teman dan kena marah. Baru kemarin rasanya saya main-main di Bendungan Kali Butuh, pulang dengan antai sering lepas. Baru kemarin saya mnegalami masa-masa mencintai kakak kelas sendiri dan ditolak mentah-mentah di depan banyak orang ketika saya kelas VII (dan jujur itu menyakitkan sekaligus memalukan, seharusnya saya bisa lebih sadar diri sebagai seorang bocah). Baru kemarin rasanya menjalani masa-masa pramuka yang bikin saya mendadak pusing setiap hari Jumat. Baru kemarin rasanya saya seringkali melakukan perdebatan tidak penting soal persahabatan. Baru kemarin rasanya saya terlalu kencang mengayuh sepeda setiap pagi menuju sekolah yang pelosok. Rasanya baru kemarin saja saya memiliki semangat menggebu menjadi mahasiswa berprestasi (dan entah mengapa sekarang menguar). Baru kemarin rasanya saya mengalami jatuh cinta untuk pertama kalinya (soal ini tidak perlu diperpanjang lebarkan).
27 2Ya baru kemarin rasanya saya tumbuh dan berkembang. Menjalani hari-hari sebagai korban bully ketika SD, menjalani masa-masa sering diejek ketika SMP, menduduki jabatan penting dan mulai dihormati serta mengawali pengalaman ketika SMA. Semua itu masih lekat. Hidup memang rasanya baru kemarin, memasuki kampus dengan segala bentuk keribetannya, dan saya bahkan sekarang sudah nyaris akan lulus. What next?
Dua puluh satu bukanlah angka yang muda lagi. Di sinilah akan diawali masa-masa sulit menjadi manusia yang sebenarnya. Dewasa, betapa itu sekarang menjadi predikat yang entah mengapa begitu berat tertanggung. Bukan soal apapun, kita sudah menjalani masa-masa sekolah, masa-masa kuliah pun akan segera terselesaikan, pasti ke depan selalu akan ada tagihan yang mau tidak mau akan kita terima. Kapan bekerja? Kapan membangun rumah tangga? Kapan memiliki anak? Semua itu akan menjadi pertanyaan yang tertuju hanya kepada kita. Entahlah abu-abu.
Dua puluh satu, merupakan usia yang seharusnya sudah membuat saya tumbuh berkembang dan berjiwa mandiri. Nyatanya? Saya belum melakukannya. Miris ketika melihat yang lain sudah dalam bentuk kenormalan mereka, menjalani hari-hari atas kehidupan mereka sendiri, menentukan sikap. Sedang saya masih terlalu ragu-ragu, penuh pertimbangan, lihat kanan, kiri, atau inikah esesnsi kedewasaan? Terlalu banyak berpikir.
Hidup semakin menua. Ini serupa bom waktu yang kita sadari atau tidak akan meledak, menuntut kita untuk bersiap atas apapun itu. Perbaikan moralitas, kepribadian yang lebih matang, hidup yang lebih bermanfaat, pencapaian-pencapain yang semakin harus banyak diraih. Aku merasa inilah tua, usia di mana segala sesuatu akan diawali.. oktober.. 2013, well meskipun segalanya tidak terasa lebih baik di awal, but I feel brave, I think I can strong, to choice my way… Welcome old.
Kost, 5:15 am 28 Okt 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s