20 In Memoriam


Okta Adetya tengah galau mampus

Okta Adetya tengah galau mampus

Entah mengapa ulang tahun tahun ini menjadi hal yang memprihatinkan untukku. Haha aku selalu berusaha menghibur diri kalau mengingatnya. Aku seperti tak punya keluarga di sini. Memang mereka ada, namun tak tersetuh dan teraba keberadaannya. And I hope I can touch them.
Kukenang setahun yang lalu. Tahun lalu aku berdoa bahwa aku ingin memiliki pacar di ulang tahunku yang ke 20. Nampaknya Tuhan mendengarkan doaku, I get it. Aku benar-benar memiliki pacar (yang bahkan tak memberikanku ucapan selamat ulang tahun kala itu dan baru mengucapkannya kalau tidak salah dua hari setelah itu). Well, tapi aku merasa baik-baik saja. Mendapatkan dia aku pikir sudah merupakan kado terindah. Setidaknya aku memiliki orang yang bisa aku untuk berbicara, aku bagi soal mimpi-mimpi. Ada. Tapi tampaknya doaku tahun lalu begitu sederhana, aku hanya ingin pacar apapun itu (haha betapa terkesan murahan). Seharusnya aku berdoa yang lebih complicated, misalnya, aku ingin pacar yang setia, yang bisa memahami, dan tidak cepat-cepat meninggalkanku hanya karena dia menemukan orang lain. #curhat (oke ini sudah tidak baik).
Karena itu, tahun ini aku tak menginginkan pacar, well aku hanya menginginkan bahwa aku menemukan orang yang memang bisa mengerti, memahami, menyelami, dan juga menampatkan aku pada ruangan khusus di hidup mereka. Dan ini tidak kejadian. Aku tak perlu merasa sedih, mungkin karena Tuhan punya rencana lain. Tapi ketika aku menuliskan ini, mau tak mau aku merasa sedih. Hahaha… I have no family in here. My family so far. Ya orang-orang yang perhatian justru orang-orang yang terpisah jaraknya. Soal ini aku ingin meminta maaf kepada my little brother, yang sempat merasakan dampak dari kesedihanku. Seharusnya aku bersikap lebih baik, ehm I just feel lonely, and wish u come and sitting near me.
“Abang kenapa? Kok kayaknya sedang gundah?” Begitu kira-kira bunyi sms nya malam itu. Ehm dia bahkan tahu, kalau aku sedang tak merasakan kebahagiaan, di hari yang mana setidaknya aku bisa berbagi senyum. Kesedihanku semakin nyata membaca pesannya. Nyatanya kala itu aku memilih sakit dan mendekam di kamar kost dengan luas tak lebih dari dua setangah kali tiga.
Big thanks, kalau saja Tuhan mampu menurunkan orang yang benar-benar kubutuhkan. But, I believe God plan is more beautiful than my pretension. Kalau aku ingat tahun lalu, tahun di mana ulang tahun untuk pertama kalinya aku tidak merasa sedih dan sendiri, maka sekarang, tampaknya I just wanna say, 20 in memoriam, so yesterday.
Aku tak tahu, mungkin orang yang benar-benar perhatian di saat aku gundah kala ulang tahun adalah ini. Satun-satunya yang dekat, tak lain dan tak bukan, wordpress. Thank’s for caring me.
Karangmalang, 5:33 28 Okt 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s