Kaya VS Miskin


Kadang saya merasa gamang ketika seseorang bertanya, apakah saya kaya? Well, sebenarnya mungkin bagi orang lain akan sangat mudah untuk menjawab “Ya, saya kaya” atau “Ya, saya miskin kok”. But, it’s something complicated for me. Sebenarnya saya sangat bingung, standar kaya dan miskin itu seperti apa? Kalau saya menjawab miskin berarti saya merendahkan diri saya dan merendahkan anugerah Tuhan. Karena bagaimanapun juga, ketika kita mau untuk berusaha, ketika kita merasa tercukupi itu artinya kita mampu. Permasalahannya, merasa tercukupi adalah sesuatu yang abstrak, sangat personal. Sementara kalau dibilang kaya, saya tidak memiliki barang-barang mewah, saya tidak pernah berbelanja mewah, saya tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersier saya.

???????????????????????????????Yeps, sebenarnya persoalan kaya dan miskin adalah persoalan individu dan perasaan. Memang kita akan dibingungkan ketika kita berhadapan dengan orang lain, dengan masyakarat umum, yang sebenarnya memiliki standar kaya dan miskin. Itulah sebenarnya, kenapa saya ingin sedikit membahas soal kaya dan miskin versi saya sendiri.

Ketika saya bilang mampu memenuhi kebutuhan tanpa harus meminta-minta, maka saya sudah merasa kaya. Orang yang merasa kaya maka dia akan merasa terpenuhi. Meskipun, “merasa” di sini, memiliki makna berbeda dengan merasa mampu untuk harus membeli sesuatu secara berlebihan. Saya bilang itu bukan merasa kaya, melainkan sok kaya.

Sedangkan orang miskin? Tentu kebalikannya dong. Mereka yang selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah mereka miliki. Kalau kita berpikir, tentu koruptor adalah orang-orang yang miskin. Kenapa? Alasannya sederhana. Mereka sebenarnya secara ekonomi sudah sangat mencukupi, namun mereka terus saja “meminta-minta”, bahkan kepada orang-orang miskin. Persoalan kaya miskin memang sangat-sangat pelik. Intinya kaya dan miskin itu sebenarnya masalah pola pikir.

Namun ada satu anomali soal kaya dan miskin ini, ada beberapa yang perlu menunjukkan kekayaannya, menjukkan diri menjadi seorang yang borjuis. Menurut saya, kita tak perlu mengumbar kekayaan, karena kalau memang kita kaya, orang lain sudah bisa melihat hal itu kok. Sebaliknya, ada orang-orang pada kalangan menengah yang kemudian mejelma menjadi manusia-manusia hedonis, mereka merasa perlu membeli barang-barang yang wah. Saya pikir mereka bukanlah orang yang benar-benar kaya, melainkan sok kaya. Mungkin supaya mereka dipandang orang dan dapat diterima di kalangan tertentu.

Sebagai closing statement, saya hanya ingin mengatakan bahwa tak perlu merasa miskin hanya karena kita tidak terlihat kaya, sebab kaya hatilah yang lebih penting. Atau tak perlu juga mengumbar kekayaan karena hal itu hanya membuat kita terlihat miskin.

 

Pituruh, 7:41 pm 18 Okt 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s