Harapan Merindukan Realitas


Kali ini aku memutar sebuah lagu dari The Script-The Man Who Can’t be Moved. Mungkin lagu ini sangat tepat untukku. Maksudku untuk beberapa hari belakangan mungkin bisa menjadi lagu soundtrack hidup yang direkomendasikan. Berpindah? Berpindah dari siapa? Jangan tanyakan itu karena aku bahkan tidak tahu, tidak dapat berpindah dari siapa. Beberapa hari belakangan ini aku merindukan seseorang, namun aku juga tak tahu siapa orang itu. Mungkin bagian dari masa lalu, mungkin bagian dari orang yang pernah sesekali kutemui, mungkin orang yang berada di hidupku diam-diam. Tapi yang pasti aku tidak tahu dengan tepat, siapa dia.

???????????????????????????????  Kadang hidup itu menawarkan berbagai keanehan. Sepertiku. Inilah mungkin yang membuat orang mengatakan bahwa aku ajaib. Aku bahkan tidak tahu siapa yang kurindukan, aneh sekali. Atau mungkin ini sebuah harapan? Harapan agar aku merindukan seseorang? Atau harapan agar ada orang yang bisa kurindukan? #ambil tisu. Haha kenapa hidup belakangan sedemikian melankolis. Ya itulah hidup penuh lika-liku, penuh hati yang secara tidak sengaja terlukai, penuh hati yang mendendam pada beberapa fragmen kehidupan. Kadang dalam hidup, kita merasakan sesuatu yang tidak asing. Sesuatu yang sering kita rasakan tiba-tiba dan kita anggap sebagai masa lalu. Namun, bisa jadi perasaan itu justru merupakan sugesti karena harapan dan ekspektasi kita yang terlalu tinggi akan sesuatu.

Mungkin hari itu atau detik ini aku memang tengah merindukan seseorang. Seseorang yang bukan bagian dari masa laluku, mungkin seseorang yang kuharapkan akan datang pada hari-hari selanjutnya. #ironis. Kalau saja kita memiliki banyak pilihan yang sesuai dengan harapan kita, tentu segala sesuatu menjadi tidak sesulit ini. Hanya saja, aku selalu dihadapkan pada pilihan orang, yang tidak sesuai dengan harapanku. Hmmm… atau mungkin Tuhan yang di atas, sedang berbicara? Bahwa sebaiknya berhenti saja berharap dan mulai realistis memandang hidup. Artinya, maksimalkan saja keinginan pada mereka yang datang dan ingin diseleksi. Kenapa harus mencari-cari bagian lain yang mungkin akan lebih menyakitkan? Oh begitu? FINE. Tapi apa gunanya hidup jika tidak terus menumbuhkan harapan? Bukankah seseorang hidup karena dia masih memiliki harapan? Boleh jadi nyawa dari hidup bukanlah nyawa itu sendiri, melainkan harapan. Entahlah, belakangan atau lebih tepatnya sejak beberapa jam yang lalu, aku merasa bahwa segala datang tiba-tiba, seperti hujan.

Aku hanya ingin menutup tulisan ini, dengan sebuah kata-kata “Hidup memang bukan hanya untuk berharap, namun tanpa harapan kita juga akan merasa kosong. Hidup mungkin akan kosong tanpa harapan. Namun, menumbuhkan harapan di tengah-tengah realitas yang ada, mungkin jauh bisa membuatmu lebih hidup dari seharusnya”.

 

Pituruh, 6:40 pm 17 Okt 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s