Fantasi Liar Kala Hujan


Aku baru saja selesai mencuci, ketika kudengar di luar sana suara hujan ringan turun pelan-pelan namun pasti. Sudah lama aku tak menemunya. Entahlah aku selalu suka membaui aroma hujan, tanah yang basah, bau debu. Kadang sedikit dingin memang, namun aku suka. Aku suka memandangi hujan dari jendela, meskipun dengan memandang itu akan melahirkan luka. Bagiku hujan itu adalah luka yang terus kurindu. Hujan di malam hari.

19 3Hidup ini seperti fantasi liar saja. Aku akan berkalang di kala hujan turun menyerbu, menggigil di pojokan suatu kota, setengah basah. Aku hanya akan duduk, tak akan kemana-mana. Menikmati malam dengan hujan, sebenarnya tak terlalu buruk. Aku akan mengedarkan pandangan dan seseorang akan datang. Bukan seseorang yang aku kenal, namun dia baik. Dia akan mengutarakan sebuah nama, sedang aku membalas menyebutkan namaku. Kami akan menggigil bersama sekarang. Dan dia, dia mungkin akan menatapku lama sekali, kami saling menatap. Dia bilang, bahwa ini dejavu, sedang aku mengamini. Kita masih saling pandang, kemudian seperti telah berabad mengenal, dia nyatakan cinta. Aku ingin membalasnya sekali ini. Dan seperti dongeng putri, kami akan hidup bersama bahagia selamanya. Picisan, happy ending yang klasik. Hmmm.. mungkin aku akan mengubah jalan ceritanya. Aku sedang termenung, tiba-tiba dia datang. Dia memandangku dengan dingin, sedang aku yang sudah setengah basah, memberikan jaketku untuknya. Dia hanya mengucapkan terima kasih, tak mengucapkan nama atau mencoba perkenalan. Dengan tanpa permisi, dia mencium bibirku lembut, lama, sampai aku tak menyadari apapun. Sesudah itu kau pergi begitu saja, dan aku seumur hidup merindukannya. Hmmm… terlalu melankolis. Entahlah, hujan selalu memberikanku fantasi-fantasi liar.

Malam ini hujan sudah benar-benar reda. Aku tak mampu membaui aroma tanah, aroma debu, suasana dingin. Mungkin sesuatu yang buruk telah terjadi kepadaku. Hai.. kau yang jauh di sana, meski tak sedemikian jauh. Malam ini, separuh dari hatiku memanggil namamu sekali, sesudah itu terus terngiang-ngiang di telinga. Mungkin seperti kisah kedua, aku adalah orang yang kau cium dalam, kemudian kau tinggalkan tanpa perkenalan. Hei… aku sedang tidak membahas masa lalu, jangan ge er, aku bahkan baru saja membahas masa depan. Masa depan seperti kaca jendela kala hujan.

 

Pituruh, 11:34 pm 19 Okt 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s