Second Time Loving Football


anggota timnas U-19 pemanasan dengan berendam di air es

anggota timnas U-19 pemanasan dengan berendam di air es

Basicly, saya bukan pecinta bola. To be honest. Tapi saya seorang yang nasionalis. Saya tak akan tertarik menonton, kalau saja yang main adalah klub-klub luar negeri macam Barcelona, MU, dsb. Bagi saya bukan bolanya yang menarik, melainkan identitas pemainnya, Indonesia. Malam ini pertandingan Indonesia-Korea Selatan U 19. Jujur, ini kali kedua saya excited dengan pertandingan sepak bola, selepas final piala AFF Indonesia melawan Malaysia dulu.

Oke review sedikit untuk malam ini. Jakarta, Stadion Bung Karno hujan cukup desar bahkan sangat. Lapangan sudah seperti kubangan lumpur, sehingga wasit pun terpaksa menghentikan pertandingan sebelum babak pertama usai. Terkait hal ini panitia juga harus menguras air dengan melebarkan pori-pori lapangan, sehingga air lebih mudah terserap. Kedua terkait dengan wasit asal Malaysia, jujur sangat sentimental secara individual, banyak keputusannya yang terlalu gampang menghakimi pelanggaran dan memberikan kartu kuning terhadap para pemain Garuda Muda Indonesia. Ini jelas sedikit banyak merugikan pihak kita. Ketiga, dua belah pihak bertanding secara emosional, sejak awal pertandingan sikap emosional ini ditunjukkan oleh pemain Indonesia (saya tidak tahu bagaimana berusaha tenang merumput di hadapan lima puluh ribu supporter. Well supporter memang memberikan dukungan, namun sekaligus menggugupkan J ). Dan pemain Korea Selatan pun saya lihat juga ikut memanas, sehingga secara psikologis tertekan (well mereka bermain lumayan kasar dan banyak melakukan pelanggaran). Alhasil dari masing-masing tim diganjar 3 kartu kuning. Keempat jujur saja, kadang komentatornya terdengar alay (entah bagi pecinta bola).

Kereen, salut, and speechless. Itu yang bisa saya katakan melihat penampilan mereka. Finally 3-2 untuk Indonesia. Indonesia akan melenggang di partai selanjutnya dan sekarang memimpin regu. Wow hattrick dari Evan Dimas, berbagai penyelamatan gawang oleh Rafi. Cuman bisa bengong. Bola itu bundar. Tak peduli yang dihadapi adalah juara abadi, yang jelas Garuda Muda mampu membuktikan bahwa dengan semangat, passion, usaha, kerja keras, percaya diri, dan tentunya doa, segala sesuatu itu tidak mustahil untuk diwujudkan. Bangga…! Pada akhirnya persepakbolaan Indonesia mulai menggeliat (dan tetap saya masih melihat hal-hal berbau politis atau pemanfaatan politisi atas prestasi mereka). Jarang-jarang lho saya ngeh dengan yang namanya bola. Jarang-jarang saya bangga untuk sedikit saja mengapresiasi insan bola Indonesia. Bagaimana pemain-pemain kita secara berani menyerang, terus-terus, melemahkan pertahanan lawan, dan tetap memberikan tekanan yang bertubi-tubi.hingga berbagai gol dramatis tercipta. Saya tahu bagaimana setelah Korea mengandangkan gol keduanya, ini menjadi waktu-waktu yang krusial bagi saya selama menonton. Jujur menegangkan. Wkwkkwkw… baru kali ini saya tertawa dengan statement saya sendiri. Haha njjjiiiirr..

Intinya, saya bangga pada mereka. Karena, mereka melakukan semua ini bukan tanpa kerja keras. Dalam salah satu laman berita, saya melihat bagaimana mereka berlatih. Untuk pemanasan saja mereka harus berendam di kolam selama 10 menit, dilanjutkan berendam di dalam air es selama 10 detik. Brrbrr.. Inilah yang kadang tidak disadari oleh penonton. Penikmat sepakbola kita itu sangat labil, kalau kalah dihujat dan dicaci maki, tapi kalau menang tenggelam dalam euphoria suka cita, mengagung-agungkan setengah mati. Jujur saya masih trauma dengan perjalanan timnas sebelum laga final AFF Indonesia lawan Malaysia dulu.

Well, saya tidak akan banyak berkomentar soal sepak bola, karena saya takut kalau saya banyak berkomentar soal itu, justru nanti saya akan kelihatan begonya. Haha… jujur pengetahuan saya soal bola nol besar. Tapi itu sekali lagi, bahwa saya suka menonton sepakbola karena semata-mata pantikan nasionalisme. Pernah salah seorang teman mengatakan, kenapa sih ada orang yang nonton bola kadang sampai frustasi, marah-marah sendiri, teriak-teriak, padahal itu cuman orang berduapuluh dua yang bego rebutan satu benda kecil. Agaknya saya sekarang tahu jawabannya, bahwa bola itu bukan sekedar permainan, kita butuh strategi, taktik, formasi yang kuat, kepercayaan diri, kekuatan, kegigihan, sikap sportif, dan bahkan nasionalisme itu tadi, (untuk yang terakhir nanti akan saya bahas lebih lanjut). Bukan perkara mudah memainkan si kulit bundar, bukan perkara mudah berada di hadapan puluhan ribu orang, bukan perkara mudah memuaskan ekspektasi jutaan orang, bukan perkara mudah membawa tanggung jawab, bukan perkara mudah untuk menghadapi lawan dengan kemampuan yang kadang lebih jauh di atas kita. Namun lagi-lagi bola itu bulat.

Well, saya akan bahas soal bola itu bulat. Nah bola bulat menandakan bahwa dia akan terus bergulir, tergantung siapa yang memainkannya. Hidup itu seperti bola, dia akan berubah, bahkan pada detik-detik terakhir. Unpredictable. Untuk bisa memenangkan hidup, orang harus menjalani beberapa proses, orang harus bersaing. Hidup itu seperti bola yang jadi rebutan, hidup adalah sebuah kompetisi. Over all, this is my second time loving football. Garuda di dadaku, garuda kebanggaanku, kuyakin hari ini pasti menang. Maju terus persepakbolaan Indonesia.

 

Pituruh, 13 Oct 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s