Apa yang Salah dari Pageant???


Dukung Miss Indonesia di ajang Miss World

Dukung Miss Indonesia di ajang Miss World

Ada yang belum tahu apa itu pageant? Mungkin saya perlu menjelaskan secara singkat, apa itu pageant. Pageant sebenarnya berasal dari bahasa Inggris yang berarti pawai sejarah atau pertunjukan yang indah. Namun pageant yang akan kita bahas di sini akan saya kerucutkan menjadi lebih spesifik. Pageant merupakan kontes kecantikan dan kegantengan. Lalu apa wujud riilnya? Kalau di kontes lokal, kita akan menemui berbagai ajang duta wisata, pemilihan Bagus Roro, pemilihan Abang None. Lalu di tingkat nasional, kita akan melihat keberagaman, mulai dari male atau female pageant. Untuk female pageant yang terkenal adalah Miss Indonesia dan Puteri Indonesia. Sedangkan di male pageant kita mengenal adanya LOTY (L-men of The Year), BOC (body contest), dan cover boy. Lantas di ajang internasional, kita akan menemui banyak hal yang lebih beragam, di female pageant kita akan tahu adanya Miss World, Miss Universe, Miss International, Miss Supranational, Miss Earth, Miss Tourism, dll. Lantas di Male Pageant kita akan tahu adanya Mister World, Mister International, Mister Universe Model, dan Manhunt International.

Setelah tahu hal ini, lantas apa yang ada di pikiran kalian? Kontes kecantikan? Kontes kegantengan? Kontes umbar aurat? Terlalu picik dan terkungkung pada pemikiran negatif. Kebetulan saya merupakan seorang admin di salah satu fanspage pageant Indonesia, itu adalah fanspage kelas menengah dengan member lebih dari 5.000 orang. Fanspage tersebut adalah Dukung Miss Indonesia di ajang Miss World. Seorang lelaki menjadi admin sebuah fanspage kontes kecantikan? Apa yang Anda pikirkan? Saya tak perlu mempertanyakan ini, kalau saja yang saya hadapi adalah pageant expert. Namun seorang yang awam pageant tidak akan dapat memahaminya. Saya sering disindir oleh beberapa teman, kenapa sih kamu suka dengan hal gituan? Kenapa sih kamu tertarik bahkan menjadi admin di bidang yang sama sekali gak penting? Kenapa sih kamu mendukung ajang buka-bukaan aurat? Oke fine.. karena saya adalah admin khusus, maka di sini saya hanya akan menjelaskan salah satu pageant yaitu Miss Indonesia dan kemudian akan saya kembangkan pembahasan ke Miss World.

Sebelumnya saya akan menceritakan sedikit sejarah, mengapa saya menjadi tertarik dengan pageant. Awalnya saya mengenal pageant dari mantan pacar saya, dia adalah penggemar Miss Universe dan Puteri Indonesia. Sebagai seorang pacar yang baik, saya mengikuti apa yang dia minati, sekalian bisa men stalking dia di fanspage yang dia ikuti. Haha kesenangan kami sangat berbeda. Saya justru menyukai Miss Indonesia dan Miss World. Kami jalan tiga bulan dan saya banyak mendapatkan pengetahuan darinya. Ya hanya tiga bulan, setelah itu kami putus. Memang ironis kami putus dengan alasan yang tidak jelas bahkan terkesan dia buat-buat. Tapi sudahlah di sini kita akan membahas pageant bukan membahas bekas pacar. Well… pasca putus saya tidak ikut-ikutan memutuskan ketertarikan pada pageant, bahkan semakin lebih. Oh ya mengenai waktu, saya mulai suka pageant mungkin sejak November tahun lalu, ya belum ada satu tahun.

DMIdaMW dulu belum berkembang seperti sekarang ini, membernya baru berjumlah sekitar 900 an. Admin juga jarang posting. Saya sering kali mengkritik admin yang kudet ini. Hingga kemudian tanpa saya duga, dia mengangkat saya menjadi admin. Hehe.. harus tanggung jawab dong. Saya mulai menghidupkan fanspage yang sudah hampir mati. Diawali dari sinilah saya belajar banyak sekali hal.

Sebagai admin baru, sekaligus admin tunggal, jujur saya merasa kewalahan. Karena orang yang mengangkat saya sebagai admin, tidak memungkinkan untuk kerap update. Namun untungnya seiring berjalannya waktu, member kami menanjak, merangkak ke angka seribu, seribu lima ratus, terus… dari sanalah saya diangkat menjadi petinggi fanspage, yang memiliki wewenang bahkan untuk menutup fanspage kalau saya mau.

Balik lagi apa yang saya dapatkan selama menjadi admin. Menjadi admin baru, merupakan pengalaman yang mengesankan, saya menemui karakter beberapa member yang unik. Ada member yang seringkali melakukan bashing, mencaci maki, menjelek-jelekkan fp kami di fp tetangga, ada pula member yang sok intelek dengan menasbihkan diri sebagai penilai di dunia model yang profesional. Benar-benar pelangi. Di sini saya dituntut untuk bijak, tidak boleh memarahi member, tidak boleh memposting hal-hal yang bisa menimbulkan pro kontra, tidak boleh menyinggung SARA, tidak boleh melakukan adu domba, serta menenangkan member ketika gaduh satu sama lain. Itulah yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih dewasa dan profesional, di sini kemampuan komunikasi saya diuji. Kalau dulu sedikit-sedikit saya mengeluh di akun pribadi lantaran sikap member yang gila, sekarang saya bisa lebih arif mensikapi mereka.

Fanspage kami mengusung moto sebagai fanspage yang cerdas dan membangun optimisme. Maka ketika berbagai fp gaduh dan risau dengan penyelenggaraan MW, kami justru memberikan dukungan dan citra positif. Fanspage kami juga anti kekacauan, maka tak heran kalau fanspage kami jarang sekali ada member ribut, saling menghardik dan saling menghina. Memang sudah peraturan, mereka yang membuat ribut akan mendapatkan sanksi banned atau blokir. Saya pikir tidak mudah untuk mengkoordinasi ribuan member, guna mendapat satu tujuan, visi dan misi yang sama, namun nyatanya kami bisa melakukan itu. Dan semua itu, bukan didapatkan secara serta merta, namun melalui berbagai proses yang panjang.

Dengan menjadi admin, saya berhasil mengenal orang-orang hebat, seperti mas Adi Mulyadi, desainer kebaya terkenal Indonesia, lantas saya juga berhasil mewawancarai Inesh Putri Tjiptadi, Miss Indonesia 2012 yang juga top 13 Miss World 2012, selain itu ada juga Ade Wirawan, Top 5 Mister Deaf Internasional, Mister Deaf Asia Of Mister Deaf Intenasional 2012, dan Mister Deaf Congeniality 2012. Selain itu saya juga mengenal kak Ritchie Kotambunan, Leader Chaperone Miss Indonesia 2011-2012-2013 sekaligus menthor para miss ke ajang Miss World. Saya merasa bangga, bisa mengenal mereka. Mereka memberikan inspirasi yang cukup besar. Haha meskipun, saya juga pernah kena semprit pihak RCTI karena memposting konten yang seharusnya belum boleh saya posting.

Ketika orang menuduh saya kaum kapitalis, hedonis, bahkan tidak beragama sekali pun, saya tetap tenang. Hal ini terjadi ketika terjadi hiruk pikuk penolakan penyelenggaraan Miss World di Indonesia. Saya pikir, apa arti agama? Saya mendapatkan pengajaran bahwa agama adalah sesuatu yang membuat kita damai dan lebih beradab, namun yang saya temui justru sebaliknya. Agama menjadi tameng, agama menjadi alat, agama menjadi pembenaran. Oke saya tidak akan mengungkit masalah ini, sebab saya akan mengatakan panjang lebar pun, itu tidak akan ada manfaatnya, mereka (pihak yang kontra) akan tetap bergeming. Di sini saya hanya akan memaparkan apa yang saya dapatkan ketika saya menyukai dunia pageant.

Di male pageant saya sering mengomentari foto cowok shirtless atau topless, di female pageant saya sering mengomentari foto cewek-cewek seksi. Beberapa orang menilai saya rendah dan salah karena mengkonsumsi hal-hal semacam itu. Ada yang menanyakan kepada saya dengan frontal “Eh kamu homo ya?” atau “Astaga ternyata yang kamu tonton cewek-cewek semacam itu”.  Serba salah kan? Nonton cewek gak boleh, nonton cowok juga gak boleh, mungkin saya bolehnya nonton waria. Oke forget it..!

Saya hanya ingin mengatakan, bahwa kamu tidak akan tahu seberapa besar arus sungai, seberapa berbahayanya kubangan lumpur, kalau kita tidak terun ke dalamnya. Harus ya? Tidak, namun setidaknya kita perlu pikiran yang jernih, bukan sekedar menilai secara cepat dengan menghakimi seseorang salah. Mereka pikir pageant hanya soal bikini, tubuh indah, dan kemolekan. Mereka salah. Atau mungkin benar untuk beberapa orang, namun tidak bagi saya. Saya banyak belajar dari sini dan itu memotivasi saya.

Salah satu contoh, ketika saya rajin berkunjung ke Indonesia Male Pageant (tetangga fp, sekaligus saya pernah menjadi member di grup tertutup mereka), dari sana, saya termotivasi untuk menerapkan pola hidup sehat, saya belajar bagaimana mereka bertransformasi, bagaimana mereka mensiasati waktu, bagaimana mereka mensiasati keuangan. Dari interview yang dilakukan, saya belajar bagaimana proses, bagaimana berjuang, bagaimana mencapai tujuan. Dan itu tidak akan saya dapatkan di luar pageant.

Baiklah kembali ke Miss Indonesia dan Miss World. Dari sini saya belajar dari Oma Julia Morley, CEO of Miss World Organisation. Bagi saya beliau adalah orang yang hebat dan berpengaruh, menjadi teladan bagi para kontestan. Saya belajar untuk mengambil sikap, beliau mampu membawa female pageant naik kelas, hal ini ditandai dengan tidak adanya parade swimsuit di panggung, padahal inilah icon MW selama berpuluh-puluh tahun. Dan dengan kebijakannya, beliau sukses membuat pageant tertua ini makin digemari. Menghilangkan apa yang menjadi icon itu bukan sesuatu yang mudah, namun beliau membuktikan bahwa beliau bisa.

Yang kedua, masih tentang beliau, beliau adalah sosok yang sangat ramah, beliau mau bersosialisasi dengan orang-orang dari kalangan bawah. Hal ini berbanding terbalik dengan rivalnya, Opa Trump. Selain itu beliau juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Saya rasa, beliau sukses menjadikan MW sebagai pageant sosial. Lewat tangan dingin beliau, MW merubah diri sebagai organisasi sosial, yang sering mengadakan charity, kegiatan amal, dan menyumbangkan bantuan di berbagai negara. Maka tak heran, jika ada yang menyamakan MWO sebagai organisasi sekelas PBB (bisa dimaklumi kalau kita melihat negara yang ada di bawah naungannya, yaitu 140 negara).

Beliau juga orang yang sangat menghargai norma, budaya, serta pendapat orang lain. Hal ini beliau tunjukkan, ketika panitia Indonesia mengatakan, bahwa aturan penyelenggaraan di Indonesia sangat ketat, salah satunya dihilangkannya sesi bikini dan diganti dnegan sarung Bali. Beliau mengatakan dengan tegas, bahwa sudah menjadi kewajiban kita, untuk menghargai budaya dan norma yang ada di suatu wilayah. Dari sini saya belajar. (bahkan saya tidak bisa belajar hal ini dari orang-orang Indonesia, maaf).

Terlepas dari itu, saya percaya bahwa misi sosial yang diemban MW bukan hanya lips service, kegiatan BWAP yang dilakukan selama bertahun-tahun, penggalangan dana, kegiatan charity, merupakan bukti dan aksi nyata kegiatan sosial ini. BWAP project sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh Miss Indonesia, Vania Larissa, kontestan lain yang seangkatan dengannya pun gencar melakukan kampanye sosial, salah satunya adalah Karina, Miss DKI Jakarta, yang memulai proyek kampanye peningkatan kepedulian terhadap anak dengan keterbelakangan mental, lantas runner up 2, Miss Jabar, Shinta Safira, aktif terlibat dalam pembentukan rumah singgah, dan masih banyak lagi. Semua itu menyadarkan kepada saya kepedulian untuk saling berbagi, kepedulian terhadap penderitaan sesama, kepedulian terhadap mereka yang sampai sekarang masih kurang beruntung.

Tak hanya itu, dari MW saya juga belajar perdamaian. Mengapa bisa? Saya tertegun, ketika para bidadari cantik dari seluruh dunia itu mengenakan kain putih, mengunjungi Gong Perdamaian Dunia, mereka tidak mengkotak-kotakkan diri, mereka saling menghargai. Selain itu nuansa perdamaian juga terlihat dalam opening ceremony dan final show. Opening ceremony ditunjukkan ketika para kontestan menggunakan pakaian adat dari seluruh Indonesia dan menyanyikan lagu One Dream. Di final show, perdamaian ini lebih terasa Indonesia, ada rasa haru ketika lagu Bagimu Negeri berkumandang serta para flag bearer berlarian di hadapan para kontestan. Setelah itu dilanjutkan dengan mereka yang bergandengan tangan, menyanyikan bersama lagu Here We Are Indonesia. Itulah perdamaian, tak ada konflik tak ada peperangan. Saya justru heran ketika peperangan justru terjadi antar supporter, memang kadang nasionalisme bisa membabibuta. Namun itulah gejolak.

Dari MW saya belajar arti kompetisi dan kerja keras. Saya masih ingat ketika dulu mewawancarai Inesh, dia mengatakan bahwa cukup sulit mengubah kebiasaan dari seorang atlet menjadi seorang yang harus tampil anggun. Nyatanya dia bisa melakukan itu. Saya snagat terinspirasi dengan para kontestan, bagaimana cara mereka berkompetisi, bagaimana cara mereka bertransformasi, bagaimana mereka bekerja keras untuk bersaing dengan orang-orang dari seluruh dunia, bagaimana mereka menghadapi kritik tajam dari penggemar (yang kadang lebih mirip emak-emak rempong yang tidak dikasih jatah belanja selama puluhan tahun). Saya belajar banyak hal, saya belajar bahwa segala sesuatu harus melalui proses, usaha, kerja keras, mental yang kuat. Ini tidak saya dapatkan di luar pageant (tentu usaha yang dilakukan dalam pageant akan berbeda dengan bidang lain, over all, menjadi pelaku pageant itu gak gampang).

Saya juga belajar menghargai perbedaan, belajar untuk menghargai budaya orang lain, belajar untuk memahami kecantikan dari sisi yang berbeda. Seorang pageant lover, nyatanya mereka lebih toleran dan justru bisa melihat kecantikan dari kacamata lain, bagi orang non pageant mungkin akan mengatakan bahwa hitam itu jelek, kenapa Ghana bisa menjadi runner up 2 di MW 2013? Kalau ada yang mengatakan ajang ini hanya ekspoitasi fisik, kadang saya berpikir justru kita sendirilah yang menerapkan standar cantik, kita yang mengkonstruksi pemikiran bahwa cantik itu harus putih, tinggi semampai, kitalah yang secara tidak langsung mengatakan bahwa hitam itu jelek. Jadi mana yang lebih memandang seseorang hanya berdasarkan fisik? MW atau kita?

Intinya, saya belajar banyak hal di sini, mendapatkan pengalaman yang luar biasa di sini. Sebagai penutup tulisan ini, saya hanya ingin mengatakan, bahwa positif dan negatif suatu hal itu tinggal bagaimana kita mengkonstruksi pemikiran kita. Kalau kita selalu berpikiran negatif, maka hal positif pun imbasnya ke kita akan negatif. Sebaliknya, apabila kita mampu melihat segala hal dari kacamata yang positif, maka hal negatif pun dapat kita ambil manfaatnya, sebagai bahan untuk belajar, sebagai bahan untuk mendewasakan diri dan mematangkan kepribadian. Salam.. oh ya kalau sempat silahkan kunjungi http://www.facebook.com/DMIdaMW

One response to “Apa yang Salah dari Pageant???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s