Membincang Pernikahan


Lebaran kali ini berlanjut seperti tahun-tahun sebelumnya. Ada yang selalu kubenci dari kedatangan saudara-saudara dan handai taulan di luaran sana. Bukan, bukan kedatangan mereka yang kubenci, bukan sikap-sikap mereka yangkubenci, melainkan satu pertanyaan seragam yang sering mereka lontarkan di kala hari raya Idul Fitrei tiba.

Yang satu sudah punya calon istri, yang satu sudah punya calon suami. Lantas pandangan kali ini mengarah ke arahku, eng ing eng. Tahu rasaya? Rasanya itu seperti masuk ke dalam sebuah jurang penuh buaya dengan gigi runcing-runcing dan belum makan selama satu bulan. Aku benar-benar mati kutu dan merasa terintimidasi pada tataran puncak. Kalau sudah seperti ini, aku ingin sekali menjauhkan barang-barang berbahaya dari sekitarku, entah itu sendok, garpu, atau bahkan pisau. Aku tak mau benda-benda itu akan mencelat ke arah mereka tanpa kesadaranku.

Mengapa persoalan pernikahan menjadi sedemikian pelik dan terkesan jahat? Wooo jelas. Aku bahkan belum punya satu calon pun untuk disodorkan, bahkan aku juga belum pernah melakukan penjajakan sekali pun. Tapi ehm.. bohong sih kalau mengatakan belum pernah. Intinya ada beberapa memang yang mungkin akan menjadi incaran, hanya saja mungkin intensitas ku berbeda dengan anak-anak lain. Tingkat publisitas nya pun sangat-sangat aku batasi, maklum aku menganggap diri sebagai seorang selebritas. Setiap hal yang menyangkut pribadi dan kehidupan adalah bersifat rahasia, menjadi bunglon dan memiliki kepribadian ganda sangat diperlukan untuk menunjang segala bentuk kehidupan yang serba misterius.

Oke sekarang kita akan mengulas esensi dari tulisan ini, apa sih pernikahan? Pernikahan kalau diartikan hanya sebagai legalitas untuk kawin antara seorang laki-laki dan perempuan jelas salah. Sebab pernikahan sejatinya sangat jauh lebih kompleks daripada itu. Mungkin prolog ini terdengar berlebihan, tapi mari simak. Pernikahan pasti menyatukan dua buah keluarga, satu keluarga mempelai pria dan satu keluarga mempelai wanita. Kalau keluarganya tidak akur, percaya deh yang namanya pernikahan pasti akan dipenuhi kekisruhan. Makanya kalau kita ingin menikahi seseorang, maka kita juga harus menikahi keluarganya. Yang kedua, pernikahan itu pasti antara laki-aki dan perempuan (kecuali homo), dari bentuk dan fisiknya saja sudah jelas berbeda, maka keinginan, watak, karakter, dan tabiatnya juga pasti sudah berbeda. Maka dari itu pernikahan juga sarana untuk mengharmoniskan, ide, pikiran, hati dan jiwa, nah loh kalau udah ngomongin hati dan jiwa pasti akan lebih kompleks lagi. Selain itu pernikahan itu juga pasti nantinya akan menemui perbedaan-perbedaan, maka dari sinilah fungsi pernikahan, harus bisa menjalin keduany, supaya yang tadinya aku dan kamu jadi kita. Tidak ada salah kamu, salahku dan blab la bla, yang ada saling mengerti, saling memahami, saling memaafkan, dan saling menjaga. Nah loh, siap? Selain itu untuk persiapan nikah gimana? Harus siap lahir dan batin, gak cuman siap lahir fisik doang, gak cuman siap ngeluarin sperma atau nampung sperma doang. Soal resepsi? Gak perlu jauh-jauh udah nginjak jenjang pernikahan deh, kita lirik yang terdekat, soal resepsi. Udah siap belum nyelenggarain pernikahan dnegan biaya sendiri? Emang sih resepsi gak harus gede-gede dengan dekorasi wow, nyewa gedung gede, ngundang ratusan ribu orang, pakai jasa catering termahal, gak perlu, tapi kan tetep aja ngeluarin duit? Apalagi yang namanya orang nikah jaman sekarang, perlu biaya gedhe, kalaupun mau cuman syukuran aja, tapi kan untuk keberlangsungan penikahan nantinya tetap sama, membutuhkan biaya. Yang tadinya punya gaji dimakan sendiri, sekarang harus dibagi, kalau yang tadinya hanya untuk mencukupi kebutuhan satu orang, sekarang dua orang. Belum lagi kalau anak tersayang lahir, untuk ke Bidan saja yang murah perlu merogoh kocek sekitar satu juta, belum lagi kalau Caesar paling tidak lima juta. Intinya orang nikah itu bukan sekedar legalitas untuk bobo bareng bareng pasangan.

Intinya aku paling benci ditanya soal pernikahan, kuliah juga baru akan menginjak semester tujuh. Karier juga sama sekali belum ada, keculi jadi penulis status gajebo yang sama sekali tak menghasilkan uang. Masa depan masih panjang, udah gitu aku pengen sekolah lagi. Kesimpulannya, targetku masih pada target awal, menikah di umur 27 tahun. Soal calon pasangannya? Well, take it easy. Perkara dari sekarang sudah ada calon pasangan atau nanti dua bulan sebelum menikah baru dapat calonnya, itu semua tidak akan jadi soal dan masalah. Aku paling suka menyitir satu kalimat yang diutarakan dalam film Test Pack “Apa adanya kamu, itu sudah melengkapi saya”. Yes, that is true married..

PTR, 8:40 3 Agust 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s