Melihat Problematika


Hari ini aku belajar soal melihat problematika, maka hari ini aku menulis sebuah status di jejaring sosial facebook, yang bunyinya begini “Masalah hidup kita terasa berat, karena kita terlalu kuper tidak tahu masalah-masalah orang lain yang jauh lebih berat”. Kalau aku mau menelusuri lebih jauh, sebenarnya status itu berawal dari status seorang dosen. Dia memposting salah satu informasi, tentang keadaaan kritis salah satu mahasiswi Pendidikan Biologi di kampusku. Mahasiswi tersebut menderita komplikasi, TBC, Thalassemia (aku bahkan tak tahu ini penyakit macam apa), lupus, dan mengalami panas demam selama satu tahun disertai dengan sesak nafas berat.

Kalau boleh jujur, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup dengan berbagai sakit semacam itu. Yang pasti dia harus menjalani CT Scan (aku pernah salah kaprah soal istilah ini, aku bahkan menyamakan rontgen dengan CT Scan, padahal keduanya merupakan hal yang sangat berbeda). Intinya semacam itu. Tapi ada yang lebih memprhatinkan lagi, di saat kondisinya memburuk, semua ICU rumah sakit di Jogja sedang mengalami full room. Maka, untuk sementara dia menempati bangsal. Semoga Tuhan memudahkannya. Hingga kemudian, ada satu kabar bahwa ada ICU kosong di JIH. Adapun harga sewa kamarnya yaitu 10 juta (aku ingin melotot ketika membaca postingan tersebut. Mengapa harga sewa kamar ICU saja sedemikian mahal -_- aku juga melotot karena, selama hidup aku belum pernah sekalipun memegang uang cash sebanyak itu, satu-satunya uang cash terbanyak yang pernah aku pegang adalah 8 juta).

Tapi sebenarnya yang membuatku tergerak bukan itu saja, melainkan juga latar belakang keluarga mahasiswi tersebut. Dia seorang yatim, dengan ibunya yang menjadi penjual di kantin sekolahnya. Selama dia sakit, dia hanya ditunggui oleh adiknya, karena sang ibu juga harus menunggui adiknya yang sakit di sebuah rumah sakit di Bantul). Entahlah, apa jadinya kalau aku berada di posisi itu. Tiba-tiba aku teringat soal diriku sendiri yang terlalu sering mengeluh pada hal-hal sepele.

Ini soal ceritaku, maka aku ingin menggunakan lu gue supaya lebih ekspresif. Oke semuanya dimulai..

Hampir seminggu ini gue stress gara-gara gue kena herpes simplex, gue kaga ngerti ini penyakit apa, gue bener-bener awam. Asal lu tahu aja, gue tahunya herpes itu adalah sejenis penyakit PMS (Penyakit Menular Seksual). Gila aja kan, wajar kalau gue langsung lemes, didiagnosis kena herpes. Gue berasa kotor, tiap hari gonta ganti pasangan, jadi penjahat kelamin, belum lagi pikiran gue udah macem-macem, bijimane kalau nanti kena virus HIV AIDS juga. Haiks… lu-lu pade kan tahu sendiri, gue anaknya lebay, suka panik,dan agak-agak freak, imajinasi juga kelewat liar. Persetan, terserah deh, mau orang bilang gue penjahat kelamin atau ape, yang pasti gue pengen nih cepet sembuh.

Untungnya begitu herpes muncul merajalela, itu pas banget ketika gue juga udah masuk masa-masa libur. So nih herpes tidak ngeganggu agenda KKN PPL gue. Tapi awal-awal, nih herpes mulai kurang ajar, gilaaakkk perih, pegel, gatel, panas, rasanya kagak kakaruan berasa pengen mati aja. Wajar dong beberapa hari gue merong-merong. Tapi gegara kena herpes ada untungnya juga sih, gue bobo nyenyak pun kaga ada yang ngeganggu. Gue bebas tugas dari kegiatan ngurusin padi-padi.. wkwkwk gue juga bisa memonopoli kamar gue, dengan ngehengkangin adhe gue dari kamar. Gimana die kaga gue usir, kalau tiap malem gue harus telenji biar nih pengobatan efektif? Hish harus gondal gandul gondal gandul, masa iya membiarkan orang lain seruagan ama lu? Nyiksa banget kan?

 

Nah dengan sakit kecil semacam itu saja aku sudah ngerasa dunia hendak kiamat, merong-merong tiap detik, pasang status ngeluh tiap menit, sampai orang seluruh dunia juga bakalan tahu kalau aku kena herpes. Coba bandingkan dengan penderitaan teman beda jurusan yang tadi aku certain di awal? Sama sekali belum ada apa-apanya kan? Itulah kenapa aku bilang, kalau kita itu terlalu kuper, sehingga tidak tahu kalau orang lain juga mempunyai masalah yang jauh-jauh-jauh lebih berat dari kita. Maka banyak-banyak bersyukur dan stop untuk mengeluh. Tuhan tahu bagaimana memberikan nikmat, Tuhan juga tahu apa yang terbaik untuk kita J Sekali lagi, semoga dia lekas diberikan kesembuhan oleh Tuhan. Amin

 

Home Sweet Home, 7:50 PM 5 Agust 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s