Puasa Itu Sabar


Aku ingin bercerita tentang dua hari ini, kemarin SMA tempat kami KKN PPL mengadakan Pra Mos. Terlalu banyak agenda dan kegiatan, sedang aku sebagaimana biasa, lebih banyak diam, mengabadikan beberapa moment di sana sini. Entah mengapa pendapatku tentang kegiatan ini cukup sinicial. Panitia kegiatan terkesan memberikan quote-quote yang tidak jelas (mungkin tujuannya agar suasana tidak garing, namun nyatanya hal tersebut justru mampu memicu turunnya kredibilitas mereka sebagai orang yang patut dicontoh). Mereka sibuk dengan segala bentuk hal berbau narsistik, narsis organisasi, narsis jurusan, atau bahkan juga narsis kedudukan. Inilah yang menurut kaca mata bodohku, rentan membuat siswa baru terbiasa dengan kultur pengkotak-kotakan, ruang-ruang, sekat-sekat, dan kebanggaan golongan. Hal ini pun terlihat ketika game dilaksanakan, calon siswi dan siswa tidak mampu berbaur. Seolah-olah ada pemisahan berbasis bias gender dan jenis kelamin di sini. Lantas apa fungsi kegiatan ini kalau tak mampu mempersatukan? #Miris.
Tapi lupakan soal agenda-agenda itu, setidaknya anak-anak itu sudah berusaha menyusun agenda sebaik-baiknya, mereka mau menimba pengalaman lewat organisas. Meski yang kudengar, mereka selepas acara kenasemprot Pembina, lantaran kegiatan ngaret.
Sore kami rapat di SMA tetangga membahas KKN masyarakat. Kadang aku heran juga dengan kebijakan kampus yang tdak ramah mahasiswa. Bagaimana mungkin dengan segala bentuk agenda sekolah yang seabrek itu, kami masih harus ditambahi beban untuk malang melintang di tengah masyarakat? Bayangkan saja kami di sekolah dari pagi sampai sore, lantas sore masih harus berkegiatan lagi kah? Padahal malamnya, kami tarawih di masjid sekolah, belum lagi besok kalau pembelajaran di kelas sudah mulai aktif, pasti kami harus mempersiapkan pembelajaran juga. Waktu kami pasti juga akan jauh lebih tersita. See??
Oke lupakan juga soal rapat yang juga disertai hujan deras ini. Lepas dari smeua itu aku merasa bahagia setinggi langit, bukan soal apapun, bukan soal aku mendapatkan durian runtuh atau apa. Alasan itu tak lain dan tak bukan, karena besok aku free. Aku bisa pulang sore ini. Namun waktu sungguh keji, pukul empat sudah terpampang nyata, sudah pasti angkot yag sampai rumahku tak ada. Terpaksa aku naik bus, turun di tempat yang masih agak jauh, sepuluh ribu melayang. Tapi biarlah, karena berbuka puasa kali ini aku bisa menghajar. Haha maksudku di rumah sedang banyak makanan. Benar saja dari makan besar, minuman hingga snack terhidang berderet-deret. Bleeehh. Aku mala mini tidak berangkat tarawih, karena aku memang berencana mau cuci pakaian yang aku bawa setumpuk dari kost. Nyatanya aku malah ketiduran sampai malam, aku benar-benar letih dan lelah. Asal kalian tahu saja. Paginya aku pun begitu selepas Subuhan aku juga enggan beranjak, eh pakaian malah sudah tercucikan. Aku kasihan juga sama mamak paling pengertian sedunia. Ada yang aneh, akhir-akhir ini, ibu memperlaukanku layaknya ayah. Dilayani sedemikian rupa, aiih padahal aku di rumah sendiri, masalah makan minum dan blab la bla bisa sendiri. Kadang ibuku terlalu berlebihan.
Oke hari ini hujan dan panas datang silih bergati. Mereka itu seperti hatiku saja, yang selalu galau. Panas dingin panas dingin panas dingin. Aiihh… untunglah pakaian kering juga. Tapi aku harus berangkat agak sore. Untung angkot masih ada, coba kalau tidak, pasti aku harus keluar duit lagi untuk ojek. Kadang aku terlalu tak peduli pada uang, namun kadang merasa sayang juga.
Sore ini aku ditampar oleh Tuhan, aku merasa panic sekali. Laptopku tidak bisa menyela padahal sudah kujungkir balik dan aku pencet-pecet semuanya. Maka, sudah kutinggal saja itu dalam keadaan charger terpasang di listrik. Aku cari buka puasa ke masjid agung barat alun-alun dengan teman-teman. Konsentrasiku sudah pecah sana-sini, jangan sampai laptopku tercinta dan paling seia ini terluka. Ohh tidaak, setidaknya aku masih memiliki banyak pekerjaan, aku masih memiliki banyak kenangan di sini, dan aku tidak bisa memayangkan uang yang akan kukeluarkan untuk biaya reparasinya. Semua serba tidak memungkinkan. Maka biarlah, aku berbuka dulu dan salat, lantas cari makan untuk sahur (sekalian, daripada malam susah-susah cari makanan). Sampai di kost dengan mengucap basmalah dan ungkin juga kurapal mantra, aku hidupkan laptop itu. Dalam hati, aku sebutkan bahwa aku akan menjadi manusia yang jauh lebih baik serta memahami hidup secara lebih bijak. Aib Tuhan masih menolongku dari keadaan kritis. Tiba-tiba laptop menyala, aku ingin teriak-teriak kegirangan. Namun jujur, keenanganku menghadapi situasi ini benar-benar membuat akuberada di luar dugaan, entahlah, mungkin kekuatan puasa. Hehe… aku hanya ingin pada Tuhan, bahwa aku ingin menjadi manusia yang sellau lebih baik dari sebelumnya. Aku ingin menjadi lebih bijak dan tidak emosional. Terakhir aku ingin mengucapkan beribu terima kasih dan jutaan cium untuk laptopku yang sudah sadarkan diri *big kiss mu mu mu

Boarding House, 10:56 PM 14 Juli 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s